Archive Pages Design$type=blogging

News

Penyair Sulaiman Juned Bius Penonton di Panggung Sastra Solo

Solo -  Panggung sastra Antologi Puisi Pendhapa 15 bertajuk Risalah Usia Kata digelar (30/4) Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah deng...

SoloPanggung sastra Antologi Puisi Pendhapa 15 bertajuk Risalah Usia Kata digelar (30/4) Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah dengan menghadirkan 17 penyair. Para penyair yang turut membaca puisinya adalah Albe Prasojo, Aming Aminoedhin, Bambang A-ER-T, Bambang Karno, Daladi Ahmad, Dedek Witranto, Dedet Setiadi, Edy Suryanto, Gunawan Tri Atmodjo, Kusprihyanto Namma, Puitri Hati Ninggsih, Suksmawan Yant Mujiyanto, Sulaiman Juned, Sus S. Hardjono, Yuditeha, Yusril, Wijang Wharek AM. 

Terbitan antologi puisi ini kali adalah edisi yang ke 15 terhimpun 85 puisi pilihan dari 17 penyair, dan masing-masing penyair termuat 5 puisi. 15 penyair asal Jawa Tengah, ditambah dua penyair asal Sumatera, yakni Sulaiman Juned penyair nasional asal Aceh yang menetap di Padang Panjang, dan Yusril penyair asal Sumatera Barat, kebetulan kedua sama-sama sedang menempuh studi program doktoral di ISI Surakarta. Tutur Wijang Wharek AM sebagai penyelenggara.

Sedangkan Penyair Sosiawan Leak dalam kapasitasnya sebagai pembicara mengatakan, membaca dunia sastra di Solo adalah membaca pergerakan yang tak pernah henti. Ia terus berjalan dari waktu ke waktu dari generasi ke generasi, dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya. Sebagaimana di halaman sastra, Solo terbaca sejak dari Kamandungan (PKJT), Monumen Pers, Mesen (UNS), Kentingan (TBJT, UNS), Pabelan (UMS), Slamet Riyadi (Balai Soedjatmoko) hingga ke kafe-kafe terkini.

Wijang Wharek AM menambahkan, kedua penyair asal Sumatera dan karyanya yang dihadirkan di dalam antologi ini semata-mata mengingat bahwa keduanya dalam beberapa tahun ke depan akan menjalani kehidupan di kota Solo. Harapannya, kota Solo dapat menjadi inspirasi kreatif bagi mereka, sekaligus kehadiran Sulaiman Juned dan Yusril ditengah-tengah para penyair Solo dapat memberikan silaturrahmi literer yang akan memperkaya khazanah literasi kedua belah pihak. Ditambah mereka berdua memang pembaca-pembaca puisi pertunjukan. Ungkapnya

Siapa yang tidak kenal Sulaiman Juned, penyair nasional asal Aceh ini ketika masih berada di kampung halamannya, Aceh. Para seniman Aceh menyebutnya ‘Sang Pawang’. Ia juga dikenal sebagai esais, dramawan dan sutradara teater. Pendiri yang sekaligus pernah menjabat selama lima tahun UKM. Teater Nol Unsyiah, Pendiri Sanggar Cempala Karya Banda Aceh, Pendiri Teater Kosong Aceh, dan Pendiri/Penasihat Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, Sumatera Barat ini sangat mahir membaca puisi.

Soel begitulah rekan-rekan memanggilnya. Andai ia sedang membaca puisi sekaligus ia sedang mempermainkan emosi para penontonnya sehingga terbius oleh aura yang dibangun dengan sempurna. Hal ini tentu mudah baginya karena ia juga dikenal sebagai aktor. Tubuh adalah spektakel (bahasa panggung) bagi seorang pembaca puisi handal. Sulaiman Juned mampu mengelola tubuhnya, vokalnya, ekspresinya menjadi tontonan yang menarik. Ini malam ‘sang Pawang’ membaca dua judul puisinya yakni, Senja di Ulee Lheue yang ditulis di Aceh pada tahun 2013 mengisahkan tentang kehidupan yang bergantung dengan ombak. 

Puisi kedua yang dibaca mampu menghipnotis penonton dengan kekuatan tubuh dari spirit tradisi Aceh dengan teknik pembacaan puisi pertunjukan yang luar biasa. Panggung dikuasai dengan maksimal. Soel terasa besar di panggung. Mari kita simak petikan puisinya pada bait terakhir yang berjudul Jika Debu Kelud Berumah di Jiwa: /jika debu berumah/ di pikir. Aku ziarahi negeri/ air mata. Kampong-kampung terkepung luka-rinai ke wajah semesta/ mengeram di jiwa. Aku hanya mampu mencatat keeping duka dalam senyap/ jerit untuk dikenang jadi pelajaran menuju Tuhan. Aku ziarahi negeri/ air mata. Kecemasan dan ketakutan mengurung jiwa seperti rentak/ tangis bersahutan sesak-masih lekat diingatan tentang Aceh dilipat/ air raya-Yogyakarta luluh lantak-Pesisir Selatan Jawa rubuh-Minangkabau/ diratakan gempa di ruang senja. Aroma kematian menyekap pikiran/ dalam timbunan tanah dan beton. Apalagi yang tersisa selain/ doa-doa ditasbihkan menembus langit memetik/ bulan. Tuhan menegur kita dengan cintaNya. Aku ziarahi negeri/ air mata sambil bertahlil biar getir pergi dari sukma/ (kusaksikan Tuhan tersenyum getir dalam senyap-sepi keramian).

Gedung teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah di Solo histeris seusai Penyair Sulaiman Juned yang juga dosen Seni Teater ISI Padangpanjang, Sumatera Barat itu usai membaca puisinya. Ia sesungguhnya mampu mengelola emosi penonton sehingga masuk ke ruang imajiner sang penyair Sulaiman Juned. Selamat dan Sukses Selalu. (fadhlan)

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Penyair Sulaiman Juned Bius Penonton di Panggung Sastra Solo
Penyair Sulaiman Juned Bius Penonton di Panggung Sastra Solo
http://4.bp.blogspot.com/-TREKhf8A07M/U2jlhM2R5NI/AAAAAAAAAVQ/b3iSc7wReSM/s1600/Sulaiman-Juned-Baca-Puisi.png
http://4.bp.blogspot.com/-TREKhf8A07M/U2jlhM2R5NI/AAAAAAAAAVQ/b3iSc7wReSM/s72-c/Sulaiman-Juned-Baca-Puisi.png
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2014/05/penyair-sulaiman-juned-bius-penonton-di.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2014/05/penyair-sulaiman-juned-bius-penonton-di.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago