Archive Pages Design$type=blogging

News

Puisi-Puisi Syamsiah Ismail

Syamsiah Ismail Lahir di Aceh Utara pada tanggal 12 April 1969. Ia adalah Guru di SDN 7 Banda Sakti Lhoksumawe yang saat ini sedang me...


Syamsiah Ismail
Lahir di Aceh Utara pada tanggal 12 April 1969. Ia adalah Guru di SDN 7 Banda Sakti Lhoksumawe yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikan Pascasarjana pada jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Syah kuala Banda Aceh.

Menulis karya sastra baginya merupakan sesuatu yang sulit untuk dibendung sejak dari kecil. Maka berbagai tulisan seperti hendak merekam perjalanannya. Terutama tema-tema cinta, perempuan yang sering dipanggil Bu Sam ini merekamnya secara khusus dalam hati sebuah tulisan.

Berbagai penghargaan dari penulisan ilmiah maupun fiksi telah didapatkan baik di tingkat daerah dan nasional oleh guru berprestasi ini. Karya berjenis cerpen, puisi, dan pantun adalah yang paling banyak ia tulis. sekarang, di sela-sela kesibukan menjadi pendidik dan belajar, ia sedang menulis beberapa judul cerpen, diantaranya: Bacalah Curhatku, Sebuah harapan: Kirimkan Aku Cinta, Kumpulan Doa berbingkai Puisi : Kuat dan TabahkanAsaku, Buku Kerajinan bertemakan Alam, Puisi Cinta dari eks Mentri, Petualangan 4 Hari, Kumpulan Kata-Kata Mutiara, Kumpulan Jenis Pantun.

Kirimkan karya puisi anda ke : redaksi@acehmediart.com



“Asa di Atas Harap”

Duhai sang pengasih...
masihkah tersisa seikat kasihMu
pelipur lara hati di ujung tak bertepi
penyembuh luka goresan cinta suci
nan menancap tiap sendi

Duhai sang pendengar denting dawai hati...
dengarkah dikau keluhan berbalur kisah 
lalu nan mengharu biru pasrah
padamkan kasih nan ditikam kejam
diamuk badai durjana
diombang ambing gelora kasih mengiris sukma

Duhai pengembala hati...
padai mimpi-mimpi berwujud nyata
mengakhiri kesendirian luka di atas luka
tak kuasa sendiri mati diam tanpa cinta 
hingga pagi datang menjelang
terbuai dalam asuhan rembulan
hinggap dan terlena dalam dekapan berganti mentari
nyalakan jagat raya ini...


Bilik malam, 17 mei 2011


Klik untuk lanjutkan membaca



“Tak Tau”

bisikan riak menggapai pantai
terlena dalam semilir bayu disini
bersama mentari penghangat mimpi
melenakan waktu menata asa berbara suka

pantai cinta menenggelamkan sejuta angan
angan nan tak pernah ada jawabnya
tanya menghujam kata pada bahasa kalbu
tak jua ada kepastian "kapan itu"

entahlah...sampai kapan air ini mengalir
mengikuti arus rasa alur air mata dan mata air

tinggalkan sejuta tanya hingga menyisakan jejak
jejak dua pasang kaki menapaki pasir
senja pun turun pertanda malam akan menjelang

seutas senyum masih mengembang
membayang kisah indah akankah terulang

entah kapan
biarkan dinding hati menjawabnya

Lhokseumawe, 15 April 2012




“Hatiku”

hatiku bukan pualam
dapat dikau bawa pulang dalam genggam
dikau pasung lalu pergi biarkan semua sepi terdiam

hatiku segumpal cinta
ingin bertengger pada ranting asa
menata masa berganti hingga ke ujung suka

hatiku setali urat
biarkan diri berkalang duplikat
resah diri tetap tersirat

merenda diri ketika milad
12 April 2012, 12. 00 wib



CELOTEH MALAM
(29 A9RIL2014)

Maafkan jangkrik malam
Padamu ingin kusampaikan pesan
Katakan pada rembulan yang tak lagi memerah jambu
Aku hanya terdiam menghitung cahaya tanpa gemintang
Aku takut terburai masai akan kerinduan pada cabang dan ranting bisu
Mengingatnya mendendam lalu
Membiarkan setiap sudut mimpi dimasuki roh dewa dewi

Jangkrik malam
Salahkah jika denyut ini berdetak pada rupa cintanya
Antara dikau, aku, dan engkau
Merambah hati yang pernah pedih
Perih oleh tautan cinta bersimbol durja
Mengingatnya bak buah cinta terlarang
Haram ditelan Adam
Nikmat dikunyah Hawa
Tentangmu menggertak ilusiku
Tersaruk langkah dalam lintasan buntu
Bermain dengan waktu kian muram menjeratku

Jangkrik malam
Jeritanmu tangisan malamku
Purnama menghilang entah kapan dia kembali
Kembali menjemput sejumput cinta kasih yg masih tersisa
Tak tau sisa untuk siapa
Kuingin menyuguhkannya dalam janji suci
Merumuskannya dalam rumusan yang kupahami
Tidak dalam bingkai curiga dan benci
Semua sulit kupahami
Takutku kini mendua makna
Menyalahkan arti hati

Maafkan, merpati penuh misteri pengingkar janji...



TERIMA KASIH CINTA

Gelar malam mengalun
Desah nafas menyeka dingin
Embun malam menyapa bilik seorangan

Katamu merdu terdengar
Mengantar getar rindu di benak
Mengurai kisah masai kita
Menyeruak derai tawa
Meski sejenak mampu membasuh luka
Sesegukan berlalu sudah berganti sumringah

Duhai kejora...
Pandanglah tawa ini menutupi cerita lara
Menghantar bahagia nun Samudera India
Malaka berselat menanti keajaiban cinta
Kelak tersembuhkan lara berubah suka
Seutas tawa memburai lewat kata

Dikau angin...
Telah kau dengar desau hati penemu cinta
Cinta kasih nan meruah bahagia nyata
Tak sekedar ilusi tetapi berselimak fakta

Duh, bulan...
Apakah kau mendengar kata hati & jeritan jiwa
Pejuang cinta dan persembahan kasih yg lama dikasih
Berjanji setia pd kedipan para gemintang meski disaput awan.

Duhai malam...
Bilakah esok tiba menemani diamku
Menanyakan warta malam indah memukau
Detak jantung mengenang dupamu
Tak kukenal namun sangat terkenal
(TQ jj)


GALAU
Lintas malam menggoda diri
Bayang sabit mengintip diam dalam kurungan pelangi
Asa kasih kian menuai pada setangkai hati
Berhasrat suka terburai dalam genggaman tak hanya mimpi

Bilakah hati membara
Tak lagi menyisakan goresan luki luka
Tergantikan segala bara keabadian cinta
Takkan padam meski bandang menyapa

Takut menyepi diri saban waktu dalam kalutnya hati
Hidup terkapar ke lembah sunyi
Menggulir hasrat mengakhiri mimpi
Berasa pelita jiwa hadir disini

Lentera mengusir kelamnya malam
Walau tetap pekat bersemanyam di lubuk hati silam
Menampik kisah terbersit bilur-bilur penyesalan
Ah...andai mungkin dan mampu ku petik rembulan

Malam terlalui sepanjang bukit diam sunyi
Gejolak hati nan mendera tak mampu kupahami
Pelangi malam berpacu mengejar sejuta mimpi
Galau tak jua pergi masih tertatih disini

Bus pelangi, 10 Maret 2012, 03.00 wib



Kilas Waktu

Sampai kapan batas penantian
Kini tak lagi ditemui seutas senyuman
Senyum nan mengusik seberkas kenangan

Ramuan rempah waktu menyisakan pilu
Terpuruk untaian kasih terselubung kisah lalu
Kisah nan melahirkan syair dalam untaian kidung pilu
Duduk bisu menyudut di sofa kalbu
Tak perduli gerahnya waktu
Walau terpanggang kejamnya era lalu

Menghitung hari tanpa perubahan hati
Segumpal cinta kasih tak lagi di nurani

Salahkah bahagia atas pengorbanan
dan di akhir semua penderitaan
Menyongsong cinta tak lagi bermakna
Terbiar diri berselimak pilu berceceran duka

Hanya cintaMu selalu abadi hingga akhir waktu
Tolong sisakan cinta dan restu halal mu
Tangkap diri dalam terang mu

Keringkan mata air di telaga sunyi
Hingga tak lagi mengucur saban waktu berganti
Sepanjang musim berganti tak berganti kisah

Pelabuhan diri berlabuh pada hamparan sajadah
Duh, Rabbi...kukuhkan segala angan pada tiap butiran tasbih
harapan agar hidup kelak lebih berarti tak lagi ditengarai sepi

Bukit Mutiara Indah, (Pinta dini, 17 Maret 2012, 02.20)



Narasi Diri

kuseka peluh dingin diantara beling rindu di kisi duka
bersama halimun menggelantung di luar sana
langit meringis terkapar diri di peraduan mentari diam
kemana ayunan segala pilu ku bawa berlari
agar tak lagi tersayat pedih membias sukma

tak pernah ada jawabnya pada tiap tanya yg menghujani
dia malu-malu dan malu pada jemari
kekalutan dinding hati kisi jiwa
dan ruang tamu kalbunya
v mestikah pengorbanan ini berkobar
sampai renta hingga batas usia pergi
ingatnya akan janji menata diri
menata hidup lebih hidup
menata hari takkan pernah redup
membakar mimpi menumbuhkan semangat bangkit
menuai tobat menghitung tasbih

maafkan ya, Rab...
jangan lagi tawari khuldi
yang membuang Adam serta Hawa dari surgaMu
ingin lepas diri tak lagi berantai dosa
inginkan kabul ijab nan menghalalkan
rembulan mencumbu malam

bilakah

Bukit Mutiara Indah, 2 Mei 2012



PENANTIAN
(30 April 2014)

Burung-burung pagi... Kicauanmu tak seindah kemarin
Inikah pertanda angin samudera tak lagi menyapa
Ataukah ombak Samudera Hindia telah enggan berbisik

Embun pagi...
Bulirmu memberi kesejukan walau sejenak
Meski tetesanmu tak mampu menghilangkan dahaga
Namun ada jiwa nun jauh di sudut benua hati
Senantiasa mencari dan menanti tetesanmu

Mentari pagi...
Bilakah tembang kerinduan mengalun ulang
Menepis sejenak kegelisahan tentangnya nan jauh di seberang
Berharap hadir dalam mimpi semalam
Menghapus kealpaan yang tak tertemukan

Entahlah...
Masihkah seberkas sinar datang menyinari bilik pagi
Padamu tetap sabar meniti hari
Kejoramu belum beranjak dari dera-dera ini
Setia satu kata...


Kirimkan karya puisi anda ke : redaksi@acehmediart.com

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Puisi-Puisi Syamsiah Ismail
Puisi-Puisi Syamsiah Ismail
http://1.bp.blogspot.com/-WzPz-Ptsz9M/U2jsRwG4leI/AAAAAAAAAW0/2OeBew2SiMc/s1600/189145_285025041616426_837049343_n.jpg
http://1.bp.blogspot.com/-WzPz-Ptsz9M/U2jsRwG4leI/AAAAAAAAAW0/2OeBew2SiMc/s72-c/189145_285025041616426_837049343_n.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2014/05/puisi-puisi-syamsiah-ismail_3.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2014/05/puisi-puisi-syamsiah-ismail_3.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago