Archive Pages Design$type=blogging

News

Pemuda dan Pertarungan Budaya di Kala Mudik

Oleh: Tu-ngang Iskandar Sebagai bagian dari budaya, gelombang mudik telah menjadi energi untuk sebuah pertempuran simbolik antara pen...

Oleh: Tu-ngang Iskandar

Sebagai bagian dari budaya, gelombang mudik telah menjadi energi untuk sebuah pertempuran simbolik antara pengaruh lokal dengan pengaruh urban. Mudik yang berasal dari kata dalam bahasa Jawa ‘udik’ (kampung) biasa diartikan sebagai kembalinya orang-orang yang merantau ke kampung halamannya dalam waktu-waktu tertentu. Misalnya pada saat mendekati bulan ramadhan atau lebaran.

Kata mudik memang tidak terlalu akrab di mulut orang Aceh. Orang Aceh biasa menyebut kembalinya orang-orang yang merantau tersebut dengan istilah saweue gampong (menjenguk kampung) atau woe u gampong (pulang ke kampung). Namun akan sangat kontekstual lagi jika ingin membicarakan mengenai kembali ke kampung untuk berlebaran. Biasanya ini dinamakan meu uroe raya di gampong (berhari raya di kampung).

Meu uroe raya di gampong bagi mereka yang selama ini berada di kota baik untuk bekerja dan menimba ilmu bagaikan ajang bagi penyembuhan jiwa. Kampung bagaikan sebuah oase yang berpengaruh hebat bagi mereka yang selama ini merantau. Bukan semata karena kampung menyimpan materi untuk membangkitkan memori kolektif dan estetis di masa lalu. Namun karena kampung juga mengandung muatan pencerahan dari berbagai kearifan lokal yang sangat berguna bagi mereka yang selama ini menjadi korban kekerasan budaya asing, namun tidak menemukan tempat penyembuhan baginya di sana.

Merayakan Rekonsiliasi
Kembalinya ke kampung berarti merayakan rekonsiliasi sambil meneguk air tradisi kembali dalam ruang rindang kosmos yang terkadang dibenci dan di lain sisi juga sangat dibutuhkan. Terutama ketika lama berada dalam keping-keping ketidakpastian, tekanan jam kerja, jadwal belajar yang padat dan bau udara kota yang menyengat dan menyesakkan dada.

Merantau sebagai awal terjadinya dislokasi budaya akan menyebabkan berbagai keterasingan dalam diri. Bagi perantau muda yang baru puber secara kultural dan yang tidak dibekali identitas yang kuat sejak di kampung halamannya, pertarungan untuk pertahanan diri ini tidak akan berlangsung hebat. Perantau seperti ini biasanya dengan mudah bisa dirasuki budaya asing, karena dalam masa itu, Identifikasi diri secara emosi dan kultural pun tengah berlangsung. Sedangkan berbagai materi budaya asing begitu mudah dijangkau untuk dijadikan identitas.

Di saat yang bersamaan, kita pun akan melihat generasi muda labil tersebut akan berusaha meleburkan dirinya pada ruang-ruang pelampiasan yang anti kemapanan, sebagai dorongan pemberontakannya selama dalam ruang keteraturan (kosmos) kampung halamannya. Menyukai lagu-lagu dengan aliran metal, Hip-Hop, dugem, seks bebas, narkoba, menggunakan pakaian tidak sopan dan berbagai kenakalan lainnya merupakan sederet tanda yang bisa kita lihat. Menjalani fase peleburan diri untuk melakukan pemberontakan dalam ruang asing ini bagi perantau tidaklah mudah, karena mereka juga harus mengorbankan waktu, biaya dan mentalnya yang menjadi kebutuhan pokoknya dalam mencapai tujuan merantau.

Dorongan untuk melepas dirinya dari berbagai belenggu kampung halaman termasuk hal yang menonjol dalam diri perantau. Stereotype “kampungan” yang melekat pada anak kampung benar-benar menjadi hal yang paling mengganggu baginya. Untuk itulah, berbagai atribut budaya urban pun dijadikan topeng. Kenyataan diri sebagai orang kampung pun dikaburkan dengan identitas palsu, baik lewat feshen (fashion), bahasa, gaya rambut, warna kulit dan warna kuku di mana pemuda kelas menengah ke atas menjadi trendsetternya. Hal inilah yang sewaktu woe u gampong ikut dibawa, karena boleh jadi mereka berpemikiran bahwa berubahnya mereka menjadi wajah anak kota adalah suatu tanda tepat yang akan menyampaikan tentang keberhasilan mereka.

Di luar dari itu, walaupun keberadaan di rantau yang rentan mengalami pergeseran dan menyebabkan keterasingan, sebenarnya terdapat juga solusi yang bisa diciptakan untuk menyembuhkannya, salah satunya dengan menghadirkan kembali apa yang disebut dengan jagad emosional, yaitu menghadirkan kembali berbagai tradisi yang dekat dengan dirinya sewaktu di kampung halaman, lewat perkumpulan-perkumpulan yang sangat primordial selama di kota.

Pemuda yang diadu
Terdapat dua kategori pemuda perantau yang akan saya bahas di sini, pertama adalah perantau yang bekerja dan kedua adalah perantau dengan tugas belajar atau anak kuliahan. Keduanya memang tidak terlihat berbeda dalam bersikap apabila keduanya sama-sama tidak sadar sedang melakukan apa. Namun untuk mengidentifikasinya tidak juga sulit, karena perbedaan keduanya hanya terletak pada proses dan cara pandangnya untuk melihat tujuan hidup. Seorang pelajar yang cerdas tentu akan meletakkan ukuran kesuksesan dirinya pada sejauh mana intelektualitas itu telah dibangun. Sedangkan bagi perantau yang bekerja, uang yang melimpah adalah tujuan utama.

Ketika woe u gampong, kesadaran bahwa mereka dinilai juga secara kultural terkadang menjadi hal yang tidak diperhitungkan, oleh karena pandangan keberhasilan yang menjurus ria tersebut cenderung mendapat apresiasi masyarakat yang sebenarnya juga telah menjadi korban keganasan budaya asing. Untuk itulah, seorang perantau pekerja yang pulang kampung akan dengan otomatis menunjukkan sisi urbannya lewat penampilan yang dibeli dengan harga mahal, demi untuk menggambarkan sisi kesuksesannya, walaupun itu semua didapatkan dengan hasil pinjaman dan mengutang. Salah satu contoh dari kasus ini bisa kita lihat dari hadirnya merk ternama seperti libaih atau limong kosong sa (baca: levis, 501) secara familiar pada telinga-telinga dan mulut pemuda kita, serta bermacam gaya asing urban lainnya yang sangat mengganggu cuaca budaya lokal dengan nilai-nilai arifnya yang harus dihormati. Sedangkan bagi kalangan yang pulang dari belajar, mereka juga terkadang lupa bahwa yang harus dibawa adalah intelektualnya, bukan kesombongan, elitisme, apatisme, dan gaya hidup yang didapat sewaktu bergaul dengan masyarakat di kota.

Segala hal yang dibawa dari kota, entah bagus atau tidak, disadari atau enggak, sebenarnya pemudik sedang bertempur atau diadu domba dengan dirinya sendiri. Di sinilah kita akan melihat siapa yang sebenarnya mengalahkan siapa. Orang kampungkah? atau orang yang pulang kampungkah? Dan biasanya yang menang akan menjadi trendsetter, inspirasi atau model untuk sebuah materi budaya di masa depan. Kuatkah kita yang tidak mengalahkan orang lain ini?

Berbicara masalah labilitas budaya lokal Aceh, kita juga akan mengidentifikasi sejauh mana pemuda-pemudi Aceh terjerumus dalam ruang tanpa nilai keacehan sekarang ini. Apakah hari ini mereka siap untuk menahan diri tidak melakukan tindakan kriminalitas, hedonisme, materialisme yang berlebihan, dan berbagai kegiatan negatif yang mengobok-obok nilai-nilai lainnya?

Kegiatan-kegiatan negatif di atas jika justru belum begitu meresahkan kita bersama sekarang, pastilah suatu saat akan menjadi hantaman keras seperti halnya bom waktu yang menunggu untuk meledak. Suatu persolan yang menurut saya lebih serius dibandingkan tekanan dengan senjata api yang hanya mampu mengorbankan nyawa manusia, namun tidak mampu membunuh semangat dan nilai-nilai yang ada di masyarakat seperti halnya serangan budaya.

Kekayaan budaya dari letak geografis yang dipenuhi berbagai keunikan tersebut sejatinya mampu menjadi spirit yang akan mempertahankan kesadaran pikiran dan mengobati penyakit pesimisme selama hidup di dunia. Orang-orang tua sebagai salah satu elemen kunci bagi persoalan nilai yang terkikis ini amat disayangkan jika abai dalam tanggung jawabnya sebagai pendidik kebudayaan lokal di Aceh. budayawan apalagi.

Untuk para pemegang kekuasaan, membangun Aceh sejatinya dibutuhkan modal sosial yang mumpuni, bukan sekedar materi yang berlimpah. Itupun jika kita ingin kedaulatan sebuah wilayah tidak hanya secara geografis kita kuasai, namun juga kedaulatan atas kepala dan kearifan fikir di dalam diri masyarakat yang harus selalu kita miliki. Agar kita tidak diumpamakan seperti pengembala lembu yang hanya berhak atas kandang dan taiknya, namun tidak pernah memiliki lembu dengan susunya tersebut.

Tungang Iskandar, Alumnus Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, bergiat di Seniman Perantauan Atjeh (SePAt), saat ini tinggal di Yogyakarta.

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Pemuda dan Pertarungan Budaya di Kala Mudik
Pemuda dan Pertarungan Budaya di Kala Mudik
http://1.bp.blogspot.com/-Q9iMK1Vyn4s/U-IFW4d6zZI/AAAAAAAAAoo/sQR4YE7X5Z0/s1600/10501826_4620237719378_3991582180256806128_n.jpg
http://1.bp.blogspot.com/-Q9iMK1Vyn4s/U-IFW4d6zZI/AAAAAAAAAoo/sQR4YE7X5Z0/s72-c/10501826_4620237719378_3991582180256806128_n.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2014/08/pemuda-dan-pertarungan-budaya-di-kala.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2014/08/pemuda-dan-pertarungan-budaya-di-kala.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago