Archive Pages Design$type=blogging

News

Berangkat dari Keresahan Karena Tak Diberitakan

Musmarman Abdullah Oleh Musmarman Abdullah Sekelumit Kenangan Tentang Hati Yang Tergerak Untuk Menulis Cerpen-Cerpen Bernuansa Konf...

Musmarman Abdullah
Oleh Musmarman Abdullah

Sekelumit Kenangan Tentang Hati Yang Tergerak Untuk Menulis Cerpen-Cerpen Bernuansa Konflik di Aceh—Kurun 1989-2004.

Saat saya menerima undangan dari Panitia Penyelenggara “Piasan Sastra Aceh” yang meminta partisipasi saya pada pokok pembicaraan “Menulis Dalam Perang”, yang terlintas di daya bayang saya bukanlah hal-hal besar yang akan membuat dunia bergetar karenanya, kecuali hanyalah sekelumit pengalaman pribadi sebagai orang yang hidup di salah satu daerah pedalaman Aceh di tahun-tahun gelisah 1990-an saat bergumul dengan segala rasa akibat terlanjur menyerahkan pundak ini untuk mengusung peti berat kesusastraan. Sastra, di saat-saat tertentu, ternyata juga menyiksa.

Bila kita ingin mengenangnya kembali, sesungguhnya masa itu belum teramat jauh berlalu. Itu adalah suatu masa di mana seharusnya kita akan membatin pada diri sendiri sebagai warga republik sebuah Indonesia tercinta yang tidak respek pada derita antar sesama. Kita adalah warga yang sanggup menutup telinga dan berpaling muka tatkala saudara sebangsa di suatu sudut tertentu di negeri ini sedang menggapai-gapai dalam mahagelapnya lautan nanah peradaban.

Dimulai ketika tahun 1989 tatkala Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) menduduki tiga wilayah di jalur pantai Utara-Timur Aceh, yaitu Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur sampai ke pelosok-pelosok terpencil nun jauh di kampung-kampung tiga wilayah tersebut. Mereka datang untuk mencari orang-orang yang ingin memisahkan Aceh dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tentu, dan teramat tentu, tak ada yang keliru dalam hal ini. Memisahkan sesudut terkecil apa pun dari keutuhan teretorial sebuah negara, adalah makar. Wajar tentara datang dan lalu mengambilalih persoalan.

Tetapi romantika sehari-hari dari keberadaan orang-orang militer dalam komunitas masyarakat yang seutuhnya sipil, cerita menjadi terjalin, terburai, menikung dan tindih-menindih dalam suspensi yang teramat acak-acakan. Suasana pedesaan yang hening dalam kultur sektoral kesehariannya, tiba-tiba terasa riak-riak asing mulai menggalaukan. Ikhwal-ikhwal paling azasi pada segenap penduduk kampung sebagai manusia dan warga negara, mulai jadi persoalan. Orang-orang yang tercurigai punya akses dengan para gerilyawan, satu persatu mulai dihadapkan pada kenyataan, bahwa kesalahan dan kekeliruan sebagai warga negara, akan berhadapan dengan risiko tertinggi bagi suatu makhluk yang masih bernyawa. Yaitu, kematian.

Kematian pun sesungguhnya masih layak diterima sebagai buah dari pergumulan besar yang menyerempet hakekat dasar dan tatanan ideologi sebuah negara, walau pun itu tanpa melewati persidangan demi persidangan di pengadilan. Tetapi sebuah kematian yang harus terlebih dahulu melewati presur-presur ketat secara fisik dan mental, ini adalah perkara paling mendasar kemanusiaan.

Tetapi memang ada satu “tetapi” lain dalam diri setiap orang Aceh menghadapi suasana-suasana yang bernuansa ke-kompeni-an. Yaitu, mereka maklum dan mampu untuk bertahan karena memang sudah teruji dan terbukti sepanjang sejarah kebersamaannya dengan Republik Indonesia, bahwa menuntut keadilan dan mengembalikan marwah entitas keacehan, akan selalu diapresiasikan sebagai musuh oleh Jakarta. Kami seperti sudah tertakdirkan sebagai suku terlunta-lunta yang harus selalu berjibaku dengan perajurit kerajaan di jalanan pengembaraan kami menuju tanah harapan.

Aceh memang harus berjuang demi kesejatian dalam beragam makna dan tema, terlepas dari perkara-perkara yang bersifat teretorial dan status ketatanegaraannya, apakah Aceh harus Aceh semata, atau Aceh yang notabene adalah Indonesia juga. Itulah makna dasar yang sesungguhnya kendati harus tertrasformasikan dalam berbagai wujud ekspresi. Tak ada keangkuhan ideologis dan kesombongan rasialis. Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar beserta beberapa Bupati dan walikota di Nanggroe Aceh Darussalam saat ini, adalah merupakan lambang pembuktian yang sangat jelas di depan mata dari thesis kami.

Perjuangan itu adalah resmi pergerakan perebutan kembali harkat manusia dan kemanusiaan yang telah terabaikan pusat negara dan rezim yang berkuasa. Dan lalu, waktu itu, di Aceh, terutama kurun 1989-1998, segala kepatutan kemanusiaan pun tercerabut di sana. Tapi semua bagai menutup mata. Seakan-akan di kampung-kampung di pedalaman Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur tidak terjadi apa-apa. Sepertinya yang ada hanya Operasi Militer yang cuma difahami sebatas nama dan istilah. Media pemberitaan, terutama koran, tidak pernah menyinggung secuil pun tentang sisi kemanusiaan yang mulai terkoyak di desa-desa kami. 

Dari sinilah saya mencoba merangkai kata. Tidak lagi bercerita dengan tema-tema yang lucu sebagaimana cerpen-cerpen yang saya kirimkan ke media-media Sumatera Utara. Karena saya sudah berkali-kali mencoba, koran-koran di luar Aceh kala itu samasekali tidak menyukai tema-tema yang bernuansa keretakan tembikar kemanusiaan akibat sistem operasi militer di Aceh. Mereka tidak mau tahu. Sejatinya, mereka tidak mau “tersangkut”.

Lalu saya mencari cara sejauh yang dapat ditolerir oleh keadaan di ketika itu. Karena, semuanya itu terasa tak layak terdiamkan begitu saja bagai seakan-akan penghuni negeri telah mati semuanya. Dalam sebuah cerpen saya yang berjudul “Aku Ingin Tersenyum” yang dimuat Harian Serambi Indonesia, terbitan Banda Aceh, pada Minggu 16 Februari 1992, saya bercerita tentang seorang lelaki kampung yang rumahnya digeledah oleh empat orang tentara di suatu tengah malam karena dicurigai menyembunyikan gerilyawan atau senjata di kamar tidurnya. Pada akhir penggeledahan dan tentara tidak menemukan apa yang dicurigai, lelaki itu belum hilang rasa takutnya mengingat istrinya yang beranak satu masih muda dan cantik. Dia baru merasa lega ketika tahu, dalam rangka penggeledahan rumahnya ternyata orang-orang militer itu ikut mengajak kepala desa turut serta.

Padahal setahu saya, dalam operasi tengah malam penggerebekan rumah-rumah orang yang dicurigai, kepala desa tak ada alasan untuk diikut sertakan, baik sebagai saksi maupun sebagai penunjuk jalan. Militer punya payung hukum dalam melegitimasi tindakan dan segala ekses dari tugas-tugasnya dan mereka selalu punya caranya yang tersendiri untuk menapaki wilayah-wilayah koordinat yang dituju tanpa harus bersantun-santun dengan “malu bertanya sesat di jalan”.

Jadi, tokoh kepala desa dalam cerpen saya itu hanya sebagai unsur akal-akalan semata agar cerita tidak terlalu mengarah pada bersifat menuding, bahwa nun jauh di pedalaman-pedalaman desa kami, militer bebas menciduk orang semaunya.

Secara tekhnis, dalam cerpen tersebut apabila tokoh kepala desa tidak saya masukkan, tentu kisahnya akan berlangsung lebih menegangkan. Tapi hal itu tentu akan membuat saya berhadapan dengan dua risiko. Pertama, naskah tidak akan lolos dimuat koran. Kedua, kalau pun dimuat, giliran saya sendiri yang akan merasa kurang nyaman mengingat nama pena saya adalah nama yang sebenarnya.

Yang terpenting bagi saya ketika itu semata-mata dan hanya semata-mata adalah, apa yang sesungguhnya terjadi di keterpencilan-keterpencilan desa kami dapat terekpos secara formal di media umum meski hanya lewat narasi fiksi sebuah cerpen.*** (Sigli, 5 Desember 2007)

Tulisan ini dipaparkan pada Rabu, 12 Desember 2007 di hadapan peserta seminar dan mahasiswa/i Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dalam rangka pergelaran “Piasan Sastra Aceh” di Gedung IX, FIPB, UI, Depok, Jakarta.

Musmarman Abdullah adalah cerpenis kelahiran Kembang Tanjong, Pidie. 

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Berangkat dari Keresahan Karena Tak Diberitakan
Berangkat dari Keresahan Karena Tak Diberitakan
http://4.bp.blogspot.com/-aRS7PuM_3os/VFIevL6sLRI/AAAAAAAAA6M/nEQBARbu6Uo/s1600/10584093_10202679038722037_7304886815819767273_n.jpg
http://4.bp.blogspot.com/-aRS7PuM_3os/VFIevL6sLRI/AAAAAAAAA6M/nEQBARbu6Uo/s72-c/10584093_10202679038722037_7304886815819767273_n.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2014/10/berangkat-dari-keresahan-karena-tak.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2014/10/berangkat-dari-keresahan-karena-tak.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago