Archive Pages Design$type=blogging

News

Dilematika Seni Tradisi di Indonesia

Oleh: Sulaiman Juned, S.Sn., M. Sn *) Seni tradisi adalah gambaran kebudayaan suatu masyarakat pada sebuah daerah. Indonesia memiliki...

Oleh: Sulaiman Juned, S.Sn., M. Sn *)

Seni tradisi adalah gambaran kebudayaan suatu masyarakat pada sebuah daerah. Indonesia memiliki keberagaman seni lokalitas yang sangat kaya dengan kearifan lokal. Kekayaan kultur budaya dalam seni tradisi secara tidak langsung memiliki karakter etnis yang sangat beragam dan berbeda. Karya-karya yang dipertunjukan oleh seniman-seniman tradisional, merupakan suatu bukti betapa beragamnya kultur seni dalam masyarakat Indonesia. Menurut Limbeng, Keragaman itu mempengaruhi bentuk maupun isi. Seni tradisional tidak dapat di lihat hanya dari satu pendekatan atau berdasarkan pada prinsip umum (universal) yang diberlakukan untuk semua. Jadi, untuk melihat makna dan fungsi suatu kesenian harus dilakukan pendekatan sesuai dengan karakteristik masyarakat dimana kesenian dan tradisi itu hidup dan berkembang (Pemetaan Media Tradisional Komunikatif, Lestarikan Taradisi Kelola Komunikasi, 2011:3).

Seni tradisional di Indonesia terkurung dalam dilematika Hidup Segan Mati tak mau. Kesenian tradisional tak ubahnya seperti manusia yang telah memasuki masa uzur (tua), zaman keemasannya telah lewat. Di seluruh Indonesia para seniman seni tradisi selalu saja mengeluhkan tentang eksistensinnya yang kian pudar dalam kehidupan masyarakat. Mari kita lihat nasib Wayang Sadat di Klaten Jawa Tengah yang pada masa Orde Baru sangat dikenal. Namun kini jangankan wujud keseniannya namanya saja sudah banyak yag tidak tahu lagi. Begitu juga di Sumbawa Nusa Tenggara Barat seni tradisional mengalami reduksi peminat seperti teater Cepung, teater Cupak Gerantang tidak lagi digandrungi masyarakat sehingga dikawatirkan akan punah. Atau di Aceh, generasi ini hari sudah tidak mengenal lagi kesenian tradisional Mop-Mop, Sandiwara Keliling Gelanggang Labu, Tari Pho yang luar biasa dari Aceh Selatan, mungkin juga sebuku di Gayo yang pelakunya tinggal dihitung dengan jari, Teater Tutur Dangderia. Jika Tidak ada generasi muda yang mau belajar lalu sebentar lagi punah. Kecuali kesenian Bali dikarenakan Bali berkesenian sama dengan melakukan ritual keagamaan, makanya seni di Bali tetap hidup dan berkembang. Sedangkan di daerah Jawa mengapa kesenian tradisional masih terus berkembang yang pertama adanya seni kraton (seni milik Kerajaan) yang selalu dipentaskan sehingga dalam setiap kegiatan Ritual. Ditambah dengan adanya kampus-kampus seni, seperti Institut Seni Indonesia di Solo, Yogyakarta, Bandung dan Bali. Melalui kampus seni tersebutlah dilakukan penggalian terhadap potensi seni tradisi, melestarikannya serta merevitalisasikannya untuk fungsi konservasi pada mata kuliah di setiap program studinya. Begitu juga di Minangkabau, melalui kampus ISI Padangpanjang melakukan hal yang sama, melalukan pembinaan terhadap nagari-nagari yang memiliki potensi seninya. Sehingga kesenian Salawek Dulang, Bakaba, Randai, Saluang Jo Dendang, teater tutur Tupai Janjang dan lain-lain masih tetap terjaga keberadaannya sekaligus melahirkan generasi penerusnya.

Kesenian tradisional memiliki pola atau pakem yang membuat kesenian itu menjadi khas. Namun pakem itu bukanlah aturan ‘mati’ melainkan dapat dijadikan potensi yang dapat berkembang, berubah dan bercampur satu sama lainnya. Seni tradisi secara alami mampu mengakomodasi perubahan isi sesuai dengan kepentingan situasi. Hal inilah yang dilakukan Dalang pelaku Wayang Kulit di pulau Jawa dan Bali dengan melakukan pemutakhiran kesenian tradisional dengan mengadopsi isu-isu aktual, melakukan perubahan sekaligus berdamai dengan dinamika zaman agar dapat bertahan hidup lebih lama. Pakem (teks) pertunjukan yang asli tetap dipertahankan, tetapi konteks juga mereka perhatikan dan pertimbangkan. Tidak alergi pada perubahan, namun menempatkan perubahan itu sebagai penggerak revitalisasi.

Jangan biarkan seni tradisi itu terpaku pada pakem yang kaku. Alangkah bermartabatnya seni tradisional itu di isi dengan issue-isue yang aktual, tentu yang berkembang di tengah masyarakat atau dikontruksi agar dekat dengan aspek-aspek kehidupan masyarakat ini hari. Penjagaan tradisi janganlah menafikan perubahan agar seni tradisi tidak kehilangan komunitas pendukungnya. Seni tradisional itu mati, justru karena pelakunya bersikukuh memegang prinsip anti perubahan. Situasi dilematis inilah yang harus kita rubah sebab seni tradisional memiliki peluang yang sama untuk bangkit kembali dalam meraih masa keemasannya. Semua ini terletak pada sikap pelaku seni itu sendiri ‘Berubah atau Mati’.

Aceh apa kabar (?) Permasalahan yang hari ini perlu diselesaikan adalah bagaimana seni tradisional itu harus hidup dan berkembang kembali. Ya kita beri tanggung jawab itu di pundak Dewan Kesenian Aceh. Hal ini tentu melalui event-event pertunjukan seni dan seminar serta workshop seni dengan Pekan, Festival Baiturrahman (seni yang islami), Festival Seni Aceh di setiap kota/kabupaten, Festival seni Diwana Cakra Donya, perlu dilaksanakan secara rutin namun harus dewan kurator dan staf ahli dibidang seni di setiap Dinas Pariwisata dan Kebudayaan baik provinsi maupun kota sehingga dapat terkelola dengan baik. Di tambah lagi dengan hadirnya kampus Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Aceh yang kampusnya berlokasi di Jantho Kabupaten Aceh Besar, tentu dapat mengembangkan, menggali, melestarikan dan merevitalisasi kesenian Aceh, sebab di seluruh Prodi seni mempelajari seni-seni tradisional Aceh yang hamper punah itu. 

Kesenian mampu menjadi perekat antar sesama. Teater, Musik, Tari, Seni rupa, Sastra dan kesenian lainya mampu membuat masyarakat luruh dalam kearifan lokal menghilangkan perbedaan dan menumbuhkan kebersamaan. Manusia acap kali saling bersilang pendapat tentang idealism yang mengakar pada diri sedangkan kesenian cenderung merekatkan keretakan manusia tersebut. Semoga kesenian tradisional di Aceh tidak hanya dianggap sebagai media hiburan semata, tetapi mampu menjadi media komunikasi sosial serta transformasi moral buat masyarakatnya. Semoga! Kepada seluruh rekan-rekan Seniman Aceh selamat bermusyawarah. Bravo! 


*) Penulis adalah Dosen Jurusan Teater ISI Padangpanjang, Pendiri/ Penasehat Komunitas Seni Kuflet Padangpanjang, Sumatera Barat. Kandidat Doktor Penciptaan Seni Teater ISI Surakarta, Jawa Tengah.


Tulisan ini dibacakan pada Musyawarah Daerah Dewan Kesenian Aceh, 2014.

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Dilematika Seni Tradisi di Indonesia
Dilematika Seni Tradisi di Indonesia
http://3.bp.blogspot.com/-YJWHv8ud9ss/VHBF1BF5tpI/AAAAAAAAA_Q/4Y-LyhyXOGI/s1600/pasfoto%2Bsulaiman%2Bjuned.jpg
http://3.bp.blogspot.com/-YJWHv8ud9ss/VHBF1BF5tpI/AAAAAAAAA_Q/4Y-LyhyXOGI/s72-c/pasfoto%2Bsulaiman%2Bjuned.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2014/11/dilematika-seni-tradisi-di-indonesia.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2014/11/dilematika-seni-tradisi-di-indonesia.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago