Archive Pages Design$type=blogging

News

Nashar, Api Kontroversi Sang Maestro Abstrak

Nashar Oleh Putra Gara “Bila kau tak memiliki bakat, kau harus menerobos tembok yang memisahkan tidak berbakat dan berbakat itu. Den...

Nashar
Oleh Putra Gara

“Bila kau tak memiliki bakat, kau harus menerobos tembok yang memisahkan tidak berbakat dan berbakat itu. Dengan begitu kau tahu, apakah kau memang tidak berbakat atau justru berbakat.” 

Kalimat di atas kerap kali menjadi kalimat yang selalu diulang-ulang oleh pelukis Nashar pada sahabat-sahabatnya disetiap kesempatan. Hal itu karena mengacu pada proses perjalanan hidup Nashar yang pada awal ia menggeluti dunia seni lukis, sang guru yang tak lain adalah Bapak Seni Rupa Modern – Sudjojono – pernah mengatakan; “Dik, lebih baik kau bekerja di kantor saja, atau mendaftarkan diri jadi polisi perkebunan. Karena untuk jadi pelukis harus punya bakat. Dan kamu tidak memiliki itu...”

Nashar tentu saja gusar mendengar kritik yang sangat menyayat semangat berkeseniannya itu. Namun sebagai murid, ia tak bisa menentang. Justru kalimat sang guru itulah yang dijadikan acuan Nashar dalam berkarya. Sekian puluh tahun kemudian, ketika semuanya berjalan pada proses alam dalam kancah seni lukis Indonesia, karya-karya Nashar justru muncul sebagai salah satu identitas seni lukis abstrak Indonesia. Sehingga bila kita membicarakan seni lukis abstrak, tentu tolak ukurannya adalah pelukis Nashar.

Perjalanan Hidup 

Nashar lahir di Pariaman, Sumatera Barat, 3 Oktober 1928 – meninggal di Jakarta, 13 April1994 pada umur 65 tahun. Selain belajar melukis di Keimin Bunka Sidhoso (Pusat Kebudayaan Jepang) asuhan pelukis Sudjojono pada zaman kemerdekaan, Nashar kemudian menyeberang dan bertemu Affandi, perupa ekspresionis yang juga salah satu tokoh seni rupa Indonesia.

Bersama Affandi, Nashar diajar melukis cepat dengan merekam objek seketika. Affandi juga mengajarkan bagaimana melukis objek keseharian. Sejak itu, Nashar kemudian melukis apa saja, kapan saja dan di mana saja. Buku sketsa tak pernah lepas dari tangannya.

Belajar dari para maestro, Nashar kemudian mengembangkan pendekatannya sendiri. Walau percaya bahwa teori tetap perlu diajarkan di akademi, namun dalam melukis Nashar tak berteori. Bagi Nashar, teori baginya tak menjelaskan soal jiwa pelukisnya. Nashar mengembangkan kemungkinan-kemungkinan untuk menghasilkan karya yang imajinatif. Dengan mendekonstruksi teori seni lukis bahkan sejak dia mulai menggoresan kuas pertamanya.

Nashar yang dididik keras oleh ayahnya dan dibesarkan dalam kelaparan dan penderitaan, telah menjadikannya legenda yang nyaris sempurna untuk seorang pelukis. Sampai-sampai novelis ternama Indonesia, La Rose, mengutip kalimat penyair syufi asal lebanon – Khalil Gibran – perihal karya-karya lukis Nashar dengan penderitaannya dalam sebuah ulasan;“Apabila engkau sedang bahagia, maka lihatlah keadaan hatimu, bahwa sebenarnya yang membuat engkau menderita itulah yang memberikan kebahagiaan bagimu. Dan apabila engkau dalam derita, lihat ke lubuk hatimu, bahwa sebenarnya engkau hanya menangisi apa yang telah memberikan kebahagiaan bagimu.”

Kalimat Khalil Gibran yang dikutip La Rose itu, adalah sebuah pandangan La Ros terhadap proses berkarya dan perenungan kehidupan seorang pelukis Nashar untuk pencapaian karyanya. Hal itu nampaknya ada benarnya, karena Nashar pernah mengatakan bahwa dirinya dapat berbahagia selagi ia menderita.

Api Kontroversi

Nashar pernah mengajar di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang sekarang bernama Institut Kesenian Jakarta (IKJ), namun kemudian dia mengundurkan diri dari lembaga itu karena perbedaan pandangan mengenai sistim pendidikan bagi siswa seni rupa. Dia menolak sistim akademis yang dilaksanakan LPKJ. Dia seorang pengajar yang suka bergaul langsung dan menggambar bersama dengan siswa-siswanya, sehingga ia dianggap sebagai pengajar yang simpatik. Bagi Nashar, teori yang diajarkan di akademi seni rupa tak begitu penting, meski teori boleh saja diajarkan pada siswa. Baginya aspek penjiwaan dalam diri seorang pelukis jauh lebih penting bagi seorang siswa yang mau mendalami seni rupa.
           
Nashar memang sebuah kontroversi. Dan Nashar berjalan sebagai pelukis di tengah-tengah kontroversi dengan bersungguh-sungguh. Ia tak pernah dendam oleh Sudjojono yang pernah mengatakannya tak memiliki bakat. Kalimat sang gurunya itu dijadikan landasan pacu. Di mana saja ia melukis, dan dalam kesempatan apa saja ia tak henti mengutarakan pikiran-pikirannya tentang seni lukis. Bahkan akhirnya ia menjadi “Api Kontroversi” itu sendiri di antara teman-teman sesama pelukis.  

Mengenal sosok Nashar adalah mengenang sikap yang tanpa kompromi dan konsisten. Seringkali bahkan Sang Api Kontroversial ini banyak yang mengaguminya sebagai seniman murni yang tak gentar menderita, tapi tak kurang yang juga yang mencelanya sebagai seniman yang tak bertanggung jawab karena menelantarkan keluarga. Hal itu dikarenakan Nashar lebih senang membeli peralatan lukis misalnya, ketimbang membeli makan untuk keluarganya.

Karya-karya Nashar sendiri, untuk publik umum, bukanlah termasuk karya yang gampang dinikmati. Manisfestasinya, terutama sepuluh tahun sebelum tutup usia, merupakan abstraksi dari segala sesuatu yang dilihat dan pernah dilihatnya. Entah tadi, kemarin, seminggu lalu atau dua dasawarsa lalu. Atau bahkan gambar-gambaran tentang sesuatu yang tidak ia lihat, atau akan ia lihat.

Lukisan Nashar merupakan ungkapan perasaan pelukisnya pada kemurnian bentuk-bentuk yang bebas dari representasi alam atau objek-objek apapun. Nashar menghadirkan perasaan murni itu lewat irama garis, bentuk-bentuk, warna ataupun ruang. Dalam lukisannya, irama-irama itu memancarkan perasaannya yang mengalir sunyi. Akan tetapi di dalamya juga ada energi yang berombak, lewat getaran-getaran nuansa tekstur warna cerah yang berfungsi menghadirkan bentuk-bentuk abstrak itu.

Menuju Abstrak Total

Nashar adalah pelukis yang dengan intens melakukan pencarian esensi objek-objek manusia, alam, dan lingkungan, tetapi esensinya adalah bagaimana ia mengungkapkan totalitas jati diri. Lewat bentuk-bentuk yang terus disederhanakan sampai menuju abstraksi total, sebenarnya merupakan ekspresi yang mencerminkan efek psikis dari pengalaman kehidupan sehari-hari. Warna-warna yang cemerlang sering tidak mengungkapkan kecerahan, tetapi menceritakan efek dramatis kehidupannya.

Untuk mencapai kedalaman esensi objek-objek dan kemurnian perasaan dalam lukisannya, ia merumuskan perjuangan kreativitas lewat kredo ‘tiga non’. Pertama yaitu nonkonsep. Maksudnya adalah, ketika mulai melukis ia belum punya gambaran, konsep, bahkan gaya yang akan dipakai. Ia hanya mengandalkan pada keinginan jiwa dan intuisi yang akan mengalir. Kedua, yaitu nonobjek. Dalam kredo ini ia percaya bahwa suasana intens dalam melukis akan mendorong untuk mendapatkan suatu bentuk atau objek sendiri dalam kanvas. Ketiga, adalah nonteknik. Dalam melukis ia selalu tidak berangkat dari pola teknik. Tetapi akan menyesuaikan dengan cara dalam berkarya. Dengan kredo ‘tiga non’ itu diharapkan melukis harus melalui proses perjuangan yang sulit, sehingga situasi jiwa murni selalu terjaga.

Sikapnya yang konsisten dalam seni lukis tercermin saat Nashar tak merasa  terganggu bila lukisan-lukisan yang dipamerkan tak laku terjual. Dan Nashar punya alasan yang kuat untuk menerima resiko itu. Baru menjelang tahun 2000, lukisan Nashar mulai dilirik orang, dan balai lelang mulai melelangnya dengan antusias. Harga-harga lukisan Nashar pun jauh dari bayangan dan kehidupan Nashar yang dulu begitu akrab dengan penderitaa dan kemiskinan. Namun sayangnya, ketika nilai harga lukisannya itu sudah melambung tinggi, sang maestro sudah tidak ada lagi. Hanya meninggalkan jejak-jejak karyanya di tangan kolektor, atau pun di keluarga.***

Lukisan Nashar

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Nashar, Api Kontroversi Sang Maestro Abstrak
Nashar, Api Kontroversi Sang Maestro Abstrak
http://4.bp.blogspot.com/-8qAb-lep1sU/VFW61JNGhxI/AAAAAAAAA68/Qf1ikfNBnDQ/s1600/1959353_10204507423620990_3587684699275561691_n.jpg
http://4.bp.blogspot.com/-8qAb-lep1sU/VFW61JNGhxI/AAAAAAAAA68/Qf1ikfNBnDQ/s72-c/1959353_10204507423620990_3587684699275561691_n.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2014/11/nashar-api-kontroversi-sang-maestro.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2014/11/nashar-api-kontroversi-sang-maestro.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago