Archive Pages Design$type=blogging

News

Saman, Seni Komunikasi Yang Menghipnotis

Tari Saman, sumber foto Yudi Gayo Oleh Abdul Mugni Aceh adalah salah satu daerah yang kaya dengan budayanya, Aceh memiliki warisan ...

Tari Saman, sumber foto Yudi Gayo

Oleh Abdul Mugni

Aceh adalah salah satu daerah yang kaya dengan budayanya, Aceh memiliki warisan kebudayaan yang beraneka ragam dari setiap suku-suku yang menghuni. Tari Saman merupakan salah satu tari tradisonal yang berasal dari Aceh. Warisan leluhur yang masih di jaga sampai saat ini, bahkan mampu berevolusi sesuai dengan perkembangan zaman saat ini. Namun Tarian Saman itu sendiri belum banyak orang mengetahuinya secara pasti, dikarenakan telah masuknya begitu banyak kecanggihan-kecanggihan teknologi yang begitu memanjakan.

Pada awalnya Saman ini dilakukan secara berkelompok sambil bernyanyi dengann posisi duduk berlutut dan berbanjar/bersaf tanpa menggunakan alat musik pengiring. Namun dalam perjalanan dalam rangka menyesuaikan dengan kecanggihan zaman maka saman juga menggunakan iringan alat musik, berupa gendang dan menggunakan suara dari para penari dan tepuk tangan mereka yang biasanya dikombinasikan dengan memukul dada dan pangkal paha mereka sebagai sinkronisasi dan menghempaskan badan ke berbagai arah, Saman dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut Syech. Tulisan ini melirik sejarah, tahapan, syair, kostum serta makna saman.

Sejarah Tari saman 

Tari Saman yang tumbuh dalam masyarakat Aceh pada mulanya tak dapat dipisahkan dengan seni Seudati, karena pertumbuhan Seudati itu sendiri berawal dari Saman. Orang Aceh sendiri pada mulanya sangat jarang menyebutkan kata-kata tari untuk permainan seni Saman, tapi mereka langsung menyebutnya “Saman”, sebutan ini sudah menunjukkan sebuah tarian Saman.

Tarian merupakan bentuk budaya dari peradaban manusia, tarian itu sendiri adalah bentuk media komunikasi universal manusia melalui beberapa gerakan dengan makna-makna tertentu. Tarian Saman merupakan tarian berasal dari Aceh yang mana masyarakatnya sudah bersentuhan dengan nilai agama Islam yang kuat di sana. Kata ‘Saman’ diambil dari nama seorang Ulama Aceh yakni syekh Saman pada sekitar abad 14 Masehi, dataran tinggi Gayo Aceh.

Dalam beberapa literatur disebutkan, tarian ini dikembangkan oleh syekh Saman setelah memperhatikan beberapa kebiasaan orang Gayo zaman dulu. Tarian ini dijadikan sebagai media penyampai pesan (dakwah), sehingga dalam beberapa gerakan maupun syairnya terdapat syiar-syiar Islam. Selain itu, tarian Saman juga dapat dimaknai sebagai simbol perjuangan dan kepahlawanan. Pada umumnya, karena tarian ini dimainkan oleh belasan laki-laki, dan biasanya berjumlah ganjil. Diiringi pula oleh kombinasi tepukan-tepukan para penari yang biasanya dikombinasikan dengan memukul dada dan pangkal paha mereka sebagai sinkronisasi dan menghempaskan badan ke berbagai arah.

Dari sinilah awal mula tarian saman menjadi salah satu media dakwah ulama setempat. Adat istiadat yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Aceh sejak dulu hingga sekarang melahirkan nilai-nilai budaya, norma adat dan aturan yang sejalan dengan Syariat Islam dan merupakan kekayaan budaya yang perlu dibina, dikembangkan dan dilestarikan. Namun seiring perkembangan zaman tarian Saman pun ikut berkembang, sekarang tarian saman dapat digolongkan sebagai tarian hiburan/pertunjukan, karena penampilan tarian tidak terikat dengan waktu, peristiwa atau upacara tertentu.

Tarian Saman dapat ditampilkan pada setiap kesempatan yang bersifat keramaian dan kegembiraan, seperti pesta ulang tahun, pesta pernikahan, atau perayaan-perayaan lainnya. Untuk tempatnya, tarian Saman biasa dilakukan di rumah, lapangan, dan ada juga yang menggunakan panggung. Saman adalah adalah juga nama awal dari seni Seudati. Bahkan sampai sekarang orang tua-tua di Aceh masih menyebutkan nama seni Seudati sebagai Saman. Sedangkan istilah Seudati adalah bahasa baru untuk Saman yang telah di-Indonesia-kan.

Menurut sejarahnya, seni Saman dalam masyarakat Aceh sudah tumbuh seiring masuknya agama Islam ke Aceh. Para ulama yang mendakwahkan Islam di Aceh dulunya menggunakan unsur-unsur seni dalam memberikan pemahaman ajaran Islam kepada masyarakat untuk mudah diingat dan difahami. Mereka dikumpulkan dalam bentuk kelompok-kelompok, kemudian diajarkan syair-syair agama untuk mudah dihafal dan diingat oleh masyarakat yang diajarkannya.

Metode penyampaian dakwah agama menggunakan unsur seni itu dianggap sangat strategis dan terus berkembang dalam masyarakat Aceh kala itu, hingga kemudian muncullah satu gerakan seni yang diberi nama gerakan seni Saman, karena gerakan seni ini selalu dimainkan oleh delapan orang dari setiap kelompok. Dalam bahasa Arab hitungan “delapan” disebut “samaniyah”, artinya delapan. Jumlah pemain gerakan seni inilah yang kemudian disingkatkan ucapannya oleh orang Aceh dari “samaniyah” menjadi “saman”.

Namun sesuai dengan perkembangan dan perjalanan waktu, kesenian ini pun terus disesuaikan dengan masanya. Kalau pada awalnya, seni Saman ini khusus dimainkan oleh laki-laki, dalam perkembangannya kemudian ikut dimainkan oleh perempuan di Aceh, sehingga gerakan-gerakan Saman yang dimainkan perempuan juga harus disesuaikan. Misalnya kalau Saman yang dimainkan oleh laki-laki ada gerakan menepuk dada, maka Saman yang dimainkan perempuan gerakan menepuk dada itu diganti dengan gerakan menepuk paha atau dengan gerakan menepuk bahu.

Dalam perkembangan sekarang tari Saman ini lebih banyak dimainkan oleh perempuan. Dan setiap daerah Kabupaten/Kota di Aceh sekarang memiliki kelompok penari Saman dengan ciri khas Saman daerahnya masing-masing.

Tahapan dalam Tari Saman

Sebagai unsur utama yang paling pokok dalam tari adalah gerak tubuh manusia yang sama sekali lepas dari unsur ruang, waktu, dan tenaga. Beberapa pakar tari melalui simulasi mendalam menyatakan sebagai berikut: Haukin menyatakan bahwa tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui media gerak sehingga menjadi bentuk gerak yang simbolis dan sebagai ungkapan si pencipta. Secara tidak langsung di sini Haukin memberikan penekanan bahwa tari ekspresi jiwa menjadi sesuatu yang dilahirkan melalui media ungkap yang disamarkan.

Saman biasanya dipandu oleh seorang pemimpin yang lazimnya disebut Syekh. Penari Saman dan Syekh harus bisa bekerja sama dengan baik agar tercipta gerakan yang kompak dan harmonis. Betapa indahnya padi di sawah dihembus angin yang lemah gemulai. Begitupula yang terjadi pada samam. Tarian Saman ini terdiri dari Keketer, Rengum, Salam, Gerakan Tari, Ulu Ni Lagu, Anak ni Lagu, Saur, Syair, Guncang dan Penutup.

Di dalam syair Saman banyak terdapat sisipan bahasa Arab dan nilai-nilai komunikasi Islam. Pada galibnya sebelum tarian Saman dimulai, sebagai mukaddimah terlebih dulu seorang tua mewakili masyarakat setempat di mana tarian Saman diadakan, memberi sepatah kata (keketar) yang ditujukan kepada pemain dan penonton. Keketar adalah pidato yang diucapkan oleh seorang tokoh masyarakat atau pemuka adat yang memberikan nasehat kepada pemain Saman dan penonton. Dalam tarian Saman terdapat Rengum yaitu mukaddimah yang berupa tiruan bunyi yang diucapkan bersama-sama. Kemudian dilanjutkan dengan Salam yang diucapkan oleh salah seorang pemain (penangkat/ Syekh). Setelah itu disebut Ulu Ni Lagu atau permulaan tari.

Tahap selanjutnya adalah lagu dan gerakan-gerakan tari. Selanjutnya disebut Anak Ni Lagu adalah gerak tangan yang ringkas dan pendek yang berisi syair yang terdiri dari Saur dan redet. Begitu lagu dinyanyikan pemain membuat Saur lalu disaurkan bersama-sama. Beberapa kali saur diselingi syekh menyanyi melengking, dua atau tiga kali lalu naik atau berdiri di atas lutut dan dari syekh itulah diberi isyarat lalu disambung dengan Guncang. Guncang ini dilakukan dengan berdiri di atas lutut. Apabila duduk bersimpuh dengan adegan yang sangat cepat sekali dinamakan gerutup. Gerutup dilakukan pada posisi duduk. Dalam satu lagu, hal demikian terus dilakukan berkali-kali yang kemudian berubah berpindah dengan irama atau lagu lain. Dalam penutupan tarian biasanya dilakukan surang-saring atau dengan melakukan tepuk tangan dengan nyanyian bersama disertai saur hingga pertunjukan berakhir.

Tarian Saman termasuk salah satu tarian yang cukup unik, karena hanya menampilkan gerak tepuk tangan dan gerakan-gerakan. Selain itu, ada 2 baris orang yang menyanyi sambil bertepuk tangan dan semua penari Tari Saman harus menari dengan harmonis. Dalam Tari Saman biasanya, temponya makin lama akan makin cepat supaya Tari Saman menarik. Tari Saman merupakan penyampaian gagasan yang mengandung nilai-nilai pendidikan secara keseluruhan. Dengan demikian, tari saman berperan penting dalam kehidupan sosial budaya bangsa Indonesia.

Dalam perspektif di atas tari saman yang berkembang di Provinsi Aceh, dapat memberi sumbangan positif dalam kebudayaan masyarakat Aceh, terutama dalam kehidupan kesenian, bahasa daerah, dan adat istiadat daerah Aceh. Selain itu, tari saman telah mampu memberikan sumbangan dalam bidang pendidikan moral dan bidang keagamaan. Dalam setiap penampilan, penutur lagu selalu menanamkan sifat-sifat baik, baik menurut pandangan moral maupun pandangan agama.

Gerakan, syair dan koustum Saman

Tarian saman menggunakan dua unsur gerak yang menjadi unsur dasar dalam tarian  saman yaitu tepuk tangan dan tepuk dada. Diduga, ketika menyebarkan agama Islam, syekh saman mempelajari tarian melayu kuno, kemudian menghadirkan kembali lewat gerak yang disertai dengan syair-syair dakwah Islam demi memudahkan dakwahnya. Dalam konteks kesenian, tarian ritual yang bersifat religius ini masih digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah melalui pertunjukan-pertunjukan.

Tarian Saman termasuk salah satu tarian yang cukup unik, karena hanya menampilkan gerak tepuk tangan dan gerakan-gerakan lainnya, Selain itu, ada 2 baris orang yang menyanyi sambil bertepuk tangan dan semua penari Tari Saman harus menari dengan harmonis. Dalam Tari Saman biasanya, temponya makin lama akan makin cepat supaya Tari Saman menarik.

Tari saman membutuhkan keseragaman formasi dan ketepatan waktu, jadi para penari harus memiliki konsentrasi yang tinggi dan latihan yang serius agar dapat membawakan tari saman dengan sempurna. Rengum adalah suara bergumam dari seluruh penari, walau tak terdengar jelas tetapi sebenarnya mereka memuji dan membesarkan nama Allah SWT dengan lafaz; Hmm Assalamu’alaikum.

Bila kita menyaksikan pementasan tarian Saman ini, kita akan terdiam seketika saat mendengar gumaman para penari dan ikut larut bersama emosi para penarinya. Rengum ini diucapkan dengan suara rendah namun menggema. Menggetarkan panggung dan jiwa-jiwa penari dan penontonnya. Suasana hening langsung tercipta saat itu. Penonton seperti diajak untuk ikut hikmat dalam mentauhidkan Tuhan.

Gerak tarinya sendiri masih sangat terbatas dan sederhana. Kepala tertunduk dan tangan bersikap sembah. Regum menunjukan penyerahan diri kepada Allah SWT, juga berperan menyamakan vokal dan konsentrasi. Setelah tercipta suasana yang hening lalu dilanjutkan dengan persalaman. Ucapan salam ditujukan kepada penonton dan berbagai pihak dengan ucapan Assalamualaikum. lalu meminta izin untuk bermain Saman (adab dan etika).

Setelah persalaman barulah dilanjutkan dengan Ulu Ni Lagu. Secara harfiah ulu ni lagu berarti kepala lagu. Namun disini lebih berarti ragam-ragam gerak tari. Dalam babakan ulu ni lagu ini gerakan telah bervariasi, kesenyawaan antara gerak tangan, tepuk didada – gerakan badan dan kepala. Namun gerakan masih lamban. Suasana yang hening masih terasa disini. Bagian hening tersebut seperti pemanasan sebelum kita diajak dalam ekstase gerak cepat Saman lainnya. Lalu yang disebut sebagai syekh dengan suara melengking akan memberikan aba-aba pada saat akhir gerak Ulu Ni Lagu yang menandakan akan segera berganti gerak dan memasuki ritme cepat dengan ucapan syair: Ingat-ingat wahe syedara loen

Masuklah kita pada babak lagu-lagu. Babak ini adalah puncak gerakan tari saman. Para penari dituntut konsentrasi optimal dan stamina yang prima. Selain harus bergerak cepat babak ini juga diselingi dengan vokal bersama (derek).

Gerakan yang utuh tampak pada kecepatan gerak tangan yang menghentak dada, paha maupun tepukan, gerakan badan keatas-kebawah secara serentak maupun bersilang, badan miring kekiri – ke kanan kiri serentak maupun bersilang (singkeh kuwen), gerakan kepala mengangguk cepat maupun kepala berputar dibawah (girik), maupun petikan jari. Diselingi gerakan lambat yang diawali ucapan syair dari syekh.

Demikian gerakan ini berulang-ulang antara cepat dan lambat, dengan iringan beberapa lagu. Selain penari yang terbawa dalam ekstase gerakan cepat dan kedinamisannya, para penontonpun ikut menahan nafas mengikuti pergantian gerak dan naik-turunnya ritme tarian. Bagai tersihir dalam gerak indah itu. Kita semua yakin saat kita semua menyaksikan babak ini kita tak ingin mengedipkan mata sedikitpun. Karena kecepatan dan keseragaman yang memukau itulah yang menarik seakan ikut dalam irama penari yang bergerak serentak.

Lalu kita diajak mengendorkan ketegangan dan mengembalikan pernafasan dalam babak Uak Ni Kemuh yang berarti secara harfiah obatnya gerak. Diiringi nyanyian sederhana dan nada rendah tidak memaksa. Apabila kondisi penari telah pulih, dimulai gerak cepat yang diawali aba-aba oleh syekh dengan ragam gerak yang lain. Pada saat gerak menggebu-gebu puncak, iringan vokal berhenti hanya terlihat gerak saja. Di sini tak ada suara selain suara memukul, menghentakkan dada, tepuk tangan, meghentak paha yang di tarikan secara cepat. Anda dapat bayangkan suasana yang tercipta saat itu. Gerak cepat tanpa vokal inilah yang kemudian bagai menciptakan suasana magis bagi penari dan penontonnya.

Barulah setelah itu kita akan kembali menyaksikan gerak sederhana sebagai penutup dalam tarian saman. Dalam babak ini yang dipentingkan adalah syair, ungkapan kata, kata perpisahan, permintaan maaf kepada penonton dan pihak-pihak tertentu. Setelah menyaksikan tari saman secara keseluruhan kita seperti akan mendapat kesan yang mendalam terhadap tarian ini. Bisa karena kecepatan dalam membawakannya atau suasana magis yang kita rasa saat mengikuti setiap gerak dan ritme tariannya.

Penari Saman pada umumnya dimainkan oleh belasan atau puluhan laki-laki. tetapi jumlahnya harus ganjil. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, tarian ini juga dimainkan oleh kaum perempuan. Pendapat lain mengatakan tarian ini ditarikan kurang dari 10 orang, dengan rincian 8 penari dan 2 orang sebagai pemberi aba-aba sambil bernyanyi. Namun, perkembangan di era modern menghendaki bahwa suatu tarian itu akan semakin semarak apabila ditarikan oleh penari dengan jumlah yang lebih banyak. Di sinilah peran Syekh, ia harus mengatur gerakan dan menyanyikan syair-syair tari Saman. Tidak banyak yang memuat syair tari saman, itu dikarenakan lagu-lagu yang dipakai pada tari saman tidak bersifat tetap. Di mana syair maupun iramanya berubah-ubah menurut tempat, waktu dan situasi pertunjukan. Sehingga tidak ada syair yang baku untuk tari saman.

Syair dalam Saman terdiri dari Saur, Redet dan Syekh. Saur ialah nyanyian yang diulang bersama-sama. Redet ialah nyanyian yang dilakukan oleh seorang untuk menyelingi Saur. Jadi letak nyanyian Saur dan Redet senantiasa diucapkan berganti-ganti. Adapun Syekh adalah nyanyian yang diucapkan oleh seorang dengan nadanya suara yang tinggi dan beralun. Ketika masuk kepada lagu, maka saur yang di nyanyikan oleh seorang, jadi saur yang pertama itu diucapkan oleh seorang yang kemudian baru dilanjutkan dengan bersama. Sesudah adanya saur datanglah redet guna menyelangi saur demikian berganti-ganti, untuk menukar saur maupun merubah pada syair yang lain dilakukan dengan Syekh, dengan kata lain, Syekh selalu diucapkan oleh seorang. Saur senantiasa bersama-sama, kecuali saur yang pertama. Saur bentuk mana yang dipakai, ini diucapkan oleh seseorang, pada atraksi ini misalnya digonoang (salah satu gerakan) sudah terlalu lama dan perlu diakhiri, biasanya salah seorang membuat saur baru atau datangnya syekh.

Guncang renah dan guncang atas begitu mulai lagu maka seorang membuat saur lalu disaur bersama. Beberapa kali datang saur maka seorang bersek, dua atau tiga kali bersek lalu naik atau berdiri di atas lutut dan dari syekh itulah diberi isyarat/kode lalu disambung dengan gunoang. Gunoang atau apabila gunoang itu dilakukan dengan berdiri diatas lutut. Guncang renah dilakukan apabila gunoang itu dengan duduk bersimpuh. Dengan adegan yang amat cepat sekali diberi nama Gerutup. Gerutup terdapat dalam adegan dengan posisi duduk, jadi bukan pada posisi berdiri diatas lutut. Dalam satu lagu, hal yang demikian inilah dilakukan berkali-kali yang kemudian harus berubah atau berpindah kepada cara atau lagu lain. Salah satu contoh syair sebagai berikut:
assalam  mualaikum Warahmatullah
 jaroe duablah Ateuh  jeumala
 jaroe lon siploh  diateuh ulee
Meah lon lake bak kaom dumna
                                          
Beuneu peu ampon dosa nanbah
Lakee bak Allah ngoen khusyu’ hate
Beuneu peu ampon dausa guree

Nyang bri eleumee keu uloen sabe

Talakee do’a bak Tuhan sidroe
keuinginan nyoe beusampureuna
Bekna syoek sangka
Penteng beusaho lam bingkai hate

 “Amin Allah summa amin
 Ureung mukmin geulake doa
 leuthat rahmat  yang Allah brie
Nanggroe aceh makmur sejahtera”

 “Lale lale getanyoe lale
 Hana jan ta thee umue ka tuha
Puteh ngen janggot kuneng-kuneng ngoen misee
Hantom ta coem bee tika musalla” 

Illahiya karem ampon doesa kamoe
Nebrilah nanggroe nyoe aman sentoesa
Dilanget bintang di bumoe padee
Buleun ateuh glee meu blet-blet cahya
Wahee dum kaum umat Muhammad
Geutanyoe bek that laloe lam donya

Kostum atau busana khusus saman terbagi dari tiga bagian yaitu: Pada kepala: bulung teleng atau tengkuluk dasar kain hitam empat persegi. Dua segi disulam dengan benang seperti baju, sunting bambu. Pada badan: baju pokok/ baju kerawang (baju dasar warna hitam, disulam benang putih, hijau dan merah, bahagian pinggang disulam dengan kedawek dan kekait, baju bertangan pendek) celana dan kain songket. Pada tangan: topeng gelang, sapu tangan. Begitu pula halnya dalam penggunaan warna, menurut tradisi mengandung nilai-nilai tertentu, karena melalui warna menunjukkan identitas para pemakainya. Warna-warna tersebut mencerminkan kekompakan, kebijaksanaan, keperkasaan, keberanian dan keharmonisan. Demikianlah cara berpakaian tari saman berkenaan dengan penampilan bagi penari-penari saman.

Islam telah mempengaruhi kehidupan seni budaya di Aceh dan menjelma sebagai media komunikasi. Oleh karena itu dapat dipastikan, bahwa hampir semua karya seni bertujuan sebagai alat transformasi nilai-nilai keislaman bagi masyarakat Aceh. Makna tari Saman bagi masyarakat Aceh adalah sebagai bentuk cermin sopan santun, keagamaan, pendidikan, serta lambang kebersamaan yang diwujudkan dalam kekompakan para penari. Tari Saman juga digunakan sebagai media untuk menyampaikan dakwah atau pesan yang bersifat lisan.

Tari saman bukan hanya menghipnotis/terhibur namun juga sarat dengan pesan-pesan baik itu pesan moral, agama serta nilai-nilai adat bahkan pesan untuk selalu menjalin silaturrahmi. Pesan untuk pemimpin agar adil dan juga amanah kepada rakyat dan juga dalam pembangunan. Dalam syair saman pesan yang paling dominan terlihat adalah persatuan dan kesatuan antara si penyair dengan si pemain, didalamnya pula terdapat pesan-pesan yang bisa mengajak dan merangkul masyarakat untuk selalu menjaga hak-hak dan kewajiban. Sebagai ajang persatuan masyarakat, ulama dulu menjadikan syair saman sebagai salah satu media dakwah pada waktu penyebaran Islam. Supaya dakwahnya lebih mudah, Syekh Saman menggunakan syair-syair dakwah dengan gerakan-gerakan tari. Sampai sekarang, tari saman yang sifatnya religius ini masih dipakai sebagai alat penyampaian pesan dakwah.


Penulis adalah Mahasiswa Program Doktoral di Islamic Studies Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dan dosen pada Fakultas Dakwah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malikussaleh, Aceh.

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Saman, Seni Komunikasi Yang Menghipnotis
Saman, Seni Komunikasi Yang Menghipnotis
http://3.bp.blogspot.com/-23RjDmiVt4w/VMXWhjrkGAI/AAAAAAAABG0/SsIpVF3mUSI/s1600/idea_2070_1051_1364117477%2C6874_DSC_1171.jpg
http://3.bp.blogspot.com/-23RjDmiVt4w/VMXWhjrkGAI/AAAAAAAABG0/SsIpVF3mUSI/s72-c/idea_2070_1051_1364117477%2C6874_DSC_1171.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2015/01/saman-seni-komunikasi-yang-menghipnotis.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2015/01/saman-seni-komunikasi-yang-menghipnotis.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago