Archive Pages Design$type=blogging

News

Tiga Poros Istimewa Tampil di Atas Satu Panggung Budaya

[Acehmediart]_Sore kemuning, Jogja cerah berawan putih. Tetabuhan terdengar bersuara kecil dari jauh yang kian membesar ketika saya kia...


[Acehmediart]_Sore kemuning, Jogja cerah berawan putih. Tetabuhan terdengar bersuara kecil dari jauh yang kian membesar ketika saya kian mendekat. Rupanya Jathilan sedang diramai penonton di halaman depan Aula Bale Gadeng, yang beralamat di Jalan Kartini No. 1a Sagan. Jathilan tampil mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta, karena hari ini Poros Istimewa sedang mengadakan acara perdananya, yang melibatkan tiga daerah istimewa, yaitu Aceh, Yogyakarta, dan Papua. Acara tersebut berlangsung mulai pukul 15.00 WIB (28/2/2015), dengan mengangkat tema “Humanis, berbudaya, dan beradab”.

Mendekati gerbang masuk sebelum menuju pentas yang digelar di luar ruang, kita sudah dihadang terlebih dahulu oleh stand kuliner dari tiga daerah istimewa tersebut. Kepulan asap bakaran Pulot Aceh begitu memikat, memaksa pengunjung untuk mengantri panjang untuk mengambil Pulot yang siap disantap hangat-hangat. Masih kurang? Masih ada kopi aceh yang siap menendang lidah hingga malam nanti.

Pasukan Jathilan yang berseragam merah bagai kuda yang sedang menendang-nendang ke udara, sesekali siraman bunga seperti hendak menghantar mereka ke alam yang lebih jauh dari kesadaran. Beberapa dari mereka tumbang seperti kesurupan, menjadi tontonan merindingkan sekujur bulu kuduk para penonton.

Papeda menjadi menu favorit yang tidak mungkin dilewatkan. Makanan khas dari Papua ini menjadi santapan yang paling istimewa di sore itu. Rasa kuwahnya yang asam pedas seperti ingin melebur mendung sore ke hadapan siang yang hangat. Sebuah daerah yang masih menjaga semangatnya untuk terus membangun. 

Menjemput malam sambil menikmati obrolan, ubi rebus dan kelapa parut dari Jogja menambah suasana menjadi sangat romantis. Beberapa pengunjung menikmati ubi rebus tersebut bersama kopi Aceh, masih sambil menonton Jathilan hingga selesai, ketika suara adzan hendak menggema. 

Setelah istirahat dan waktu maghrib usai, teras Bale Gadeng yang telah disulap menjadi galeri mini pun seperti hendak berbicara, beberapa lukisan pelukis muda asal Aceh Tu-ngang Iskandar menggantung di sana. Di bagian kiri teras, teman-teman dari Papua sedang memperagakan teknik menyulamnya. 

Malam telah pekat, kedua pemandu acara kembali memegang mikrofonnya untuk melanjutkan sesi lanjutan, yaitu berupa penampilan seni lain dan orasi budaya tiap-tiap daerah. Malam minggu di “Gelar Budaya Poros istimewa” ini diawali dengan pembacaan puisi oleh seorang penyair muda asal Aceh, Muhamad Iqbal. Ia membacakan dua puisi WS Rendra, dengan suara yang tidak meledak di udara, tapi dengan penuh penghayatan dan sesekali meletup di dalam dada. Iqbal membacakan Puisi tentang orang miskin dan pertemuan mahasiswa.

Malam sudah tidak lagi kosong, pun setelah Iqbal melepas panggungnya, ada sesuatu yang telah mengisi rongga dada, kerumunan orang semakin tebal berlapis, ada yang berdiri, duduk di tikar yang digelar, dan di kursi panjang yang dijejar. Ada juga yang cengar-cengir bersandar di tembok-tembok, seakan-akan sedang menunggu bahagia selanjutnya, bahagia yang mungkin melebihi bermalam minggu dengan pacar. 

Pembacaan puisi selanjutnya benar-benar diluar dugaan, suara lantang seorang mahasiswa asal Aceh bernama Ikhsan telah membangun suasana baru dalam sekejap, penonton seperti mencekam dalam dirinya, sambil menikmati ketakutan yang indah. 

Di sudut lain kota Jogja, mungkin semua sedang membangun cintanya masing-masing, lewat malam minggu yang dipenuhi ribuan rayuan. Tetapi disini, cinta barangkali bisa berwujud sebuah kata, untuk sama-sama dibaca dan dipahami.

Pada sesi selanjutnya, salah seorang mahasiswa pascasajana asal Aceh bernama Irwan Adabi menyampaikan orasi budayanya mewakili Aceh. Irwan menyampaikan orasinya tentang bagaimana Islam menjadi spirit yang mengikat kesatuan bangsa Aceh. Kehadiran Portugis di pihak lain juga mempererat kesatuan masyarakat di kepulauan, yang sebelumnya bercerai-berai. 

“babak baru yang kita hadapi sekarang tampaknya menyisakan sebuah pertanyaan lain, kita butuh lem perekat baru yang tidak hanya bagi keselamatan dan keutuhan bangsa ini, tapi juga ruh dan jiwa kita yang kian sombong dan kosong nilai membuat kita semakin jauh dari permukaan tanah yang melahirkan kita” kata Irwan.

SAKI (Sanggar Anak Kampung Indonesia) yang tampil selanjutnya membawa seluruh penonton untuk ber-Soleram bersama, setelah lagu pertama yang mereka bawakan “Laskar Pelangi” milik Nidji. 

Berlanjut dengan orasi yang mewakili tanah Papua; “Ya benar, Papua memang besar, tapi seluruh tanah Papua itu sudah ada yang punya, sudah dibagi ke dalam tujuh wilayah adat yang semua orang Papua tahu, tanah Papua tidak ada yang kosong!” kata Edo Gobay dari Papua.

Kerancuan yang selama ini dianggap benar bagi orang luar Papua bahwa masih banyak lahan kosong di Papua dipangkas habis-habisan malam ini oleh Edo Gobay dalam orasi budayanya. Ia mengingatkan bahwa masyarakat adat Papua sudah mewarisi dari nenek moyang mereka struktur sosial yang sampai hari ini masih dipegang teguh oleh masyarakat Papua. Bahkan untuk perang adat sekalipun peraturan humaniter seperti tidak membunuh perempuan dan anak tidak pernah sekali pun dilanggar. Bahkan kehadiran seorang perempuan di tengah perang adat tak jarang membawa kedamaian antara kedua belah pihak. Hukum Perang adat di Papua juga tidak mengenal sistem parampasan perang. “Jadi, tidak pernah terjadi yang namanya penjarahan setelah perang adat usai!” Beliau menandaskan. “Anggapan yang keliru tentang masyarakat Papua akan berdampak serius bagi pengambilan keputusan dalam menangani problematika yang muncul dikemudian hari. Persinggungan ini harus segera dapat disejajarkan agar tidak ada lagi kesalahpengertian terhadap setiap persoalan yang terjadi di ranah Papua. Langit masih belum ada matahari malam ini. Cahaya bulan juga tidak begitu kuat, tapi bukankah selama ayam masih berkokok, pagi pasti datang di negeri Papua” kata Edo Gobay.

Seketika setelah orasi budaya tersebut ditutup, penari dari Aceh pun memasuki panggung yang di gelar di halaman depan gedung. Dua penabuh rapai sudah duduk bersila, menunggu aba-aba Syeh yang seperti pemimpin perang. Para tamu tertegun sejenak, sebelum gerak memecah kebekuan malam. Ritmis penari Likok Pulo yang naik turun berayun serapat kulit rapai ke kulit tangan hanya dibutuhkan salah perhitungan sekedip mata saja untuk membuat kepala, badan, atau tangan para penari berhamburan. Tentu saja itu dengan latihan yang matang, sehingga mereka begitu menguasai sudut ruang dengan gerakan. Beberapa kali puncak klimaks para penonton pada heroiknya tarian adalah suara tepukan tangan yang riuh, sebelum pertunjukan itu usai dengan raut senang pada wajah penonton yang memadati luar ruang tersebut.

Orasi budaya berikutnya pun dilanjutkan, kali ini mengenai solidaritas untuk membela tikar pandan, sebuah cita-cita tentang persatuan. Keberpihakan untuk teguh bersama dalam barisan demi mencapai tujuan memang mutlak adanya bagi mereka yang selalu dalam penindasan. Bila tidak ingin lebih ditindas lagi oleh para otoritarian. Cerita besar tentang orang-orang kecil sudah banyak kita dengar dan barangkali saksikan, tapi kini saatnya kita mengambil peran sebagai pelaku, bukan diam berpangku. “Lagu plastik” ini diserukan bersama-sama yang dikomandoi oleh orator, yang mewakili Yogyakarta. Yogyakarta seperti ingin menghabngatkan persatuan itu, melalui serangkaian ide-ide tentang makna kebersamaan.

Setelah orasi terakhir tersebut, sebenarnya pesta baru saja akan dimulai, dari jauh sudah kelihatan akan datang serombongan keluarga mempelai pria dari sebuah desa yang berada di Papua Barat. Tujuan mereka pasti, rumah mempelai wanita. Disambut oleh tokoh adat kampung, ketua rombongan mempelai pria menyatakan maksud dan tujuan mereka datang dari jauh untuk melamar anak gadis salah seorang warga di kampung ini. Permohonan itu disambut baik oleh ketua adat yang kemudian juga turut mengantar rombongan keluarga pria menuju rumah keluarga mempelai wanita. Sesampainya mereka di rumah tujuan, ketua rombongan keluarga pria menyatakan maksud mereka datang ke rumah ini untuk melamar anak gadis yang ada di keluarga tersebut. Namun sayang, ibu si gadis menolak lamaran tersebut, semua yang hadir menyaksikan prosesi lamaran ini sontak kaget dibuatnya. Setelah dibicarakan melalui mediasi ketua adat di kampung ini, ternyata penolakan ini terjadi karena pihak keluarga mempelai pria belum menyerahkan kain adat yang seharusnya diserahkan bagi keluarga pihak perempuan. Setelah mendengar permintaan pihak keluarga perempuan tersebut pihak keluarga mempelai pria langsung membuka lipatan kain panjang yang memang telah mereka persiapkan. Kain adat itu diperiksa keindahan dan kualitasnya oleh ketua adat dan pihak keluarga perempuan.

Menari-nari berputar dalam lingkaran sambil bergandengan tangan memberi getaran energi luar biasa pada yang hadir malam itu. Semua orang bergembira, semua orang berpesta. Malam ini, kota ini adalah rumah kita semua.

Laporan Benny Sumarna.

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Tiga Poros Istimewa Tampil di Atas Satu Panggung Budaya
Tiga Poros Istimewa Tampil di Atas Satu Panggung Budaya
http://1.bp.blogspot.com/-LerQ09DYpJc/VPUVEPp5YFI/AAAAAAAABIo/n-i_poCSeBU/s1600/11045342_880377128651556_6256453724821190806_n.jpg
http://1.bp.blogspot.com/-LerQ09DYpJc/VPUVEPp5YFI/AAAAAAAABIo/n-i_poCSeBU/s72-c/11045342_880377128651556_6256453724821190806_n.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2015/03/tiga-poros-istimewa-tampil-di-atas-satu.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2015/03/tiga-poros-istimewa-tampil-di-atas-satu.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago