Archive Pages Design$type=blogging

News

Sastra - Rupa Menggelinding ke Desa Wukirsari di Imogiri

Informasi terus merangsak masuk hingga ke tempat tidur kita. Melalui teknologi informasi, dunia telah bergerak begitu cepat. Misal pagi...


Informasi terus merangsak masuk hingga ke tempat tidur kita. Melalui teknologi informasi, dunia telah bergerak begitu cepat. Misal pagi ini kita mendapatkan pesan untuk menghadiri acara sebagai penonton, besoknya kita sudah berada di atas panggung untuk menjadi pengisi acara.

Bermodal pengalaman mengadakan acara beberapa kali, perasaan saya mulai tidak enak ketika sampai di hadapan muka Pustaka Desa Wukirsari, tempat diadakannya acara yang diberi tema "Menggelinding" itu. Tidak ada selembar kertas pun yang tersangkut di sana untuk menegaskan acara. "Jangan-jangan ini fitnah" gumam saya dalam hati. "Bukankah fitnah lebih kejam dari membunuh?" Alah!.

Setelah berjalan menghampiri pintu, terlihat setengah badan manusia berada di dalam gedung Pustaka. Bukankah itu lelaki yang biasa dipanggil Cak Udin? bekas anak pondok yang sekarang masyur sebagai penyedia beberapa acara pameran buku dan pentas seni di beberapa kota di Jawa. Ya, itu memang dia. Sudah beberapa bulan saya tidak bertemu, sejak kepulangan saya ke kampungnya para pemberontak bersenjata api. Ya, itu Aceh bung.! negeri yang mudah terbakar dan menyulut api perang jika roda penjajahan digerakkan.

Berjalan mendekat, segera saya menguasai rindu untuk mendekati Cak Udin, agar tidak seperti serdadu yang kelaparan sehabis berperang. Kuberikan salam bertemu kembali, kutemui hangat telapak tangan dan bahunya yang memeluk penuh persaudaraan. Di sana juga berdiri Sony Prasetyotomo, lelaki yang sekarang mulai sering dipanggil Cak Sony. Entah kenapa namanya dipanggil dengan awalan "Cak", karena saya tahu dia bukan orang Jawa Timur. Mungkin saja karena kedekatannya dengan Cak Udin. Berbahaya benar Cak Udin ini, jika mendekatinya saja harus merubah identitas. Jangan-jangan dia penjajah? Ah, bukan. Itu Cak Udin..he.

Berada di dalam gedung pustaka, saya juga bertemu Ari Ahmad Zulfahmi di sana. Ari adalah salah satu sosok yang menginspirasi saya dan kelak saya kira akan menginspirasi banyak orang. Lewat Sanggar Anak Jamannya, ia sedang berjuang untuk menghidupi mimpi anak-anak yang ada di kampungnya. Dengan beragam praktek kesenian dan lewat buku-buku bacaan yang ia sediakan bersama kawan-kawannya secara sukarela, saya yakin kelak akan lahir tokoh-tokoh yang dicintai masyarakat dari sana.

Oya, juga ada satu perempuan di sana, yang sering terlihat berada dalam lingkaran kerja kesenian berbasis desa yang sedang Ari jalankan. Namanya Galuh Sekartaji. Beberapa kali fotonya pernah mengalir di beranda Facebook saya ketika Sanggar Anak Jaman sedang melangsungkan acara. Mungkin saja ia termasuk salah satu dari mereka yang ikut menjadi penggagas program-program pro rakyat itu. Dulu ketika sedang kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, saya mengenalnya hanya sebagai kakak tingkat, yang tidak berani pun saya sapa. Sekarang, saya pikir ia adalah salah satu perempuan cantik yang berjiwa besar pula. Ia paham bagaimana harus merawat kecantikan, sehingga ia merapat pada praktik-praktik kesenian semacam itu.

Bertemu dengan mereka sore itu, saya dipaksa menjadi orang Aceh, dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kepulangan saya ke sana. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan selain persoalan politik. "Kamu nanti nampil ya?" kata Cak Udin. "Tampil Apa Cak?" tanya saya sembari tidak percaya. "Kamu ikut main bersama kita, kamu baca puisi Aceh" jawab Cak Udin. Seperti perintah untuk bersiap karena musuh sudah berada dari jarak 200 meter, saya pun menyiapkan amunisi dan segera mengokang senjata. Toh, ketika kita sudah menjadi tertuduh seniman, sama juga seperti tertuduh memberontak terhadap pemerintah republik ini.

Saya yang walaupun pernah beberapa kali punya pengalaman bertarung untuk menyingkirkan kata-kata buruk untuk menjadi kata-kata rayuan, sebenarnya tidak sedikit pun paham bagaimana cara kerja sastra, apalagi harus membacanya di atas panggung. Tapi ini kondisi gawat, lebih baik saya tidak bertanya dan memikirkan apapun lagi, kecuali menulis kata-kata yang dapat menggerakkan pena. Menggelinding saja begitu, tanpa ragu, seperti menghindar dari ujung senapan lawan. Dan lahirlah karya berjudul "Sajak ingatan dari Aceh", yang bunyinya sebagai berikut:

Watee ubeut tagrop-meugrop
tapet-meupet di miyup kayee raya

watee malam tajak bak beut
teuka uroe tajak sikula.

watee rayek tameujak-meujak
tajak meurunoe tajak meusyedara

taseumike watee na ingat
tameumangat-mangat watee na hate

taseumayang tameuratep
tameusepsep ngon ureung lingka

tameugaseh tameusayang
bek nyawong meulayang, rugoe teuma

Tanyoe hudep nyan hana trep
lam sigo klep, nyawong ka hana

Innalillahi, tatinggai donya.

(Wukirsari, 21 September, 2016)

Tidak lama berselang ketika lirik sudah selesai ditulis, tamu dan bintang tamu pun mulai mengisi ruang. Beberapa diantaranya memang seniman tersohor, Seperti Neni Tanjung, Paksi, Fadil Abdi, dan Sutarno SK. Beberapa komunitas seni ikut ambil bagian dalam acara ini, seperti Mata Langit, Sanggar Anak Jaman, Beringin Rimbun, Kamis Pon, Garda Belakang, Bunda Kata, Ndruwo Art Space, Sasono Hinggil, Sastra Rupa, dll. Ikut juga dalam acara tersebut Laksmi Shitaresmi, salah satu pelukis terkenal Indonesia. Ia selain ikut ambil bagian dalam melukis pada dinding di salah satu sudut yang menjadi panggung acara, juga ikut membacakan puisi. Agak hambar memang ia membacakan puisi itu, hampir sama seperti saat kami tampil dan saya membacakan kata-kata dalam bahasa Aceh bagi penonton yang mayoritas dari Pulau Jawa. Mungkin Mbak Laksmi memang bukan diciptakan untuk menjadi penyair sepertinya. Mohon maaf, kali ini tidak. 

Tampil pada acara itu, saya tidak cuma membacakan "sajak ingatan dari Aceh" setelah dua puisi sebelumnya yang dibacakan oleh Ari dan Sony, namun juga ikut membacakan satu mantra penutup, yaitu mantra penghilang racun berbisa dari Aceh. Mantra yang saya hafal dua belas tahun yang lalu ketika sang adik ikut digigit puluhan geumoto saat menghancurkan rumahnya di pucuk bak rambe. Pada insiden saat itu, satu orang dari pihak penyerang geumoto itu ikut tewas, ia adalah sahabat seperjuangan adik saya dalam penyerangan maut ke markas geumoto itu.

Menghafal mantra hasil pemberian Abuwa (paman) ini pada sang adik tidak lantas menjadikan saya mempercayai mantra ini sebagai penghilang bisa, beda seperti sang adik, yang mungkin karena insiden maut saat itu, masih mempercayainya sebagai mantra untuk penyembuhan sampai sekarang. Bahasanya yang terangkai bagus dalam mantra itu adalah salah satu alasan mengapa saya ikut menyukainya dan masih sangat hafal liriknya sampai sekarang.

Membaca itu dihadapan penonton yang mengerti bahasa Aceh, mungkin ini pantangan, karena begitulah pesan sang Paman ketika memberikan mantranya. Tapi bukankah mantra itu termasuk karya sastra, yang juga lebih pantas disajikan untuk menghibur, karena itu juga salah satu ritual penyembuhan. Walau ketika mantra ini saya baca ulang yang kedua kali di hadapan penonton malam itu telah membuat saya merinding dan seperti ketakutan. Betapa tidak, karena ketika saya percepat nadanya, terdengar suara dendang langgam Jawa dalam kerumunan penonton, dan awalnya saya kira orang yang kerasukan. Ah, Lempap. Ternyata itu suara dari salah satu penonton yang ikut merespon pembacaan. Terlanjur penampilan kami harus berakhir karena salah satu dari kami ada yang bangkit, padahal pertunjukan kuda kepang kerasukan roh korban perang sepertinya baru akan dimulai, tentunya dengan mantra Aceh dan suara merdu sang penyanyi tembang langgam Jawa. Saya tidak yakin penonton akan ikut diam kalau itu benar-benar akan terjadi, karena yang paling mungkin adalah lari tunggang-langgang, cot iku. Geupap.

Catatan Tu-ngang Iskandar dari acara "Menggelinding"
di Pustaka Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul, Yogyakarta. 
(Rabu, 21 September, 2016)




COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Sastra - Rupa Menggelinding ke Desa Wukirsari di Imogiri
Sastra - Rupa Menggelinding ke Desa Wukirsari di Imogiri
https://4.bp.blogspot.com/-7PIiWC69Qos/V-PFpPOqPSI/AAAAAAAABX0/VDieRcjoOsoNPd17yyRgNYq1tbGbdlQkgCLcB/s640/14359035_1287972701212927_985215793670995391_n.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-7PIiWC69Qos/V-PFpPOqPSI/AAAAAAAABX0/VDieRcjoOsoNPd17yyRgNYq1tbGbdlQkgCLcB/s72-c/14359035_1287972701212927_985215793670995391_n.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2016/09/sastra-dan-rupa-menggelinding-ke-desa.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2016/09/sastra-dan-rupa-menggelinding-ke-desa.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago