Archive Pages Design$type=blogging

News

Hilangnya Pamor Bendera Bulan Bintang GAM

Ketika klub Tentara Nasional Indonesia (TNI) milik NKRI bertandang ke Aceh untuk mengikuti pertandingan tembak menembak dengan klub T...



Ketika klub Tentara Nasional Indonesia (TNI) milik NKRI bertandang ke Aceh untuk mengikuti pertandingan tembak menembak dengan klub Tentara Nasional Aceh (TNA) milik GAM beberapa tahun yang lalu; sebelum kemudian terjadi perdamaian, karena lapangan oleng terkena gelombang tsunami, saya masih di Aceh saat itu. Saya menjadi supporter tetap dari grup tuan rumah, dan termasuk orang yang sangat membanggakan bendera Bulan Bintang (BB), bendera kesebelasannya GAM. Jika orang NKRI mengatakan "Garuda di Dada ku", saya mengatakan "Buraq Singa di Jantung ku". Kiban kiraju?

Bahkan, ketika klub itu baru saja mekar dengan tumbangnya Orde Baru (ORBA), saya termasuk aktivis lempap yang juga tukang gambar bendera dalam salah satu rombongan yang menuju salah satu lapangan di Lhokseukon. Suatu tempat di mana kami ternyata diajari yel-yel kemenangan oleh Ismail Syahputra dkk, sebelum kemudian melanjutkan konvoi menggunakan truk menuju Lhokseumawe, untuk menurunkan bendera kesebelasan milik lawan, yaitu Merah Putih (MP). Satu persatu bendera Merah Putih yang terdapat di sepanjang perjalanan kami copot saat itu, sebelum akhirnya laju kami terhenti di depan Polres Lhokseumawe. Oh poku, di sana kami disambut dengan ribuan gorengan hangat yang keluar dari ujung senapan ketika mempeloroti bendera Merah Putih baru setengah tiang. Saat itu kami benar-benar tidak tahu, bahwa bendera MP baru bisa diturunkan ketika sore, dan itu ada prosesinya. Bukan di siang bolong begini. Opmie geuh, beutoi-beutoi meupakhop awakkee watee nyan. iyue cruep sampe seupot ateuh aspal seuuem. Dihana bajee, that geupap.

Cerita di atas merupakan pengantar semata. Singkatnya, sebenarnya saya ingin menyampaikan bahwa begitu besarnya perhatian dan kecintaan masyarakat Aceh terhadap perjuangan GAM saat itu. Dan terutama pada bendera BB, itu sudah seperti benda keramat yang amat dibanggakan. Ia adalah simbol perlawanan dan mimpi kemenangan bagi GAM dan masyarakat Aceh umumnya. Mempertahankan bendera itu tetap berkibar adalah bersedia mempertaruhkan segenap jiwa dan raga untuknya. Saya teringat pada seorang teman bermain di waktu kecil, yang rumahnya berdampingan dengan rumah saya. Ia adalah anggota TNA. Salah seorang yang lulus dari camp pelatihan militer GAM di Pase. Suatu waktu, ketika ia mendapatkan kesempatan kesekian kali untuk bertempur dengan militer Indonesia, sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, setelah satu peluru bersarang di tubuhnya, ia sampai berwasiat, bahwa jika nantinya ia meninggal, ia secara khusus meminta untuk dibungkus dengan bendera BB, lengkap dengan seragam militer GAM. Ia bahkan meminta untuk jangan dimandikan. Biet meunan keujadian. Mumang teungku imum chiek watee nyan. That gura kiraju.

Tentu lebih banyak lagi cerita serupa di Aceh ketika konflik bersenjata sedang berlangsung. Tentang orang-orang yang begitu mencintai dan membanggakan bendera melebihi nyawanya sendiri. Bendera bukan hanya dianggap sebagai identitas semata, akan tetapi melebihi itu, ia dianggap sebagai benda penyelamat di akhirat nanti; masuk surga. Suatu hal yang menarik jika kita bicara dalam konteks hari ini. Di mana surga hanya dipercayai berada di bumi saja. That geupuep chok.

Mari kita bicara mengenai bendera BB secara spesifik lagi, yang hari ini masih sangat kontroversial dan masih tetap hangat dibicarakan. Terlebih bila ada yang membakar atau ada yang menggorengnya setiap saat, itu jelas seperti bada, bu gureng atau sate, bukan begitu lempap? Toh rukok ilee sibak!

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa bendera BB tersebut hendak dijadikan bendera Provinsi Aceh, namun belum mendapat persetujuan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri NKRI). Bendera BB milik GAM dalam hal ini boleh jadi masih dianggap sebagai bendera musuh atau karena Kemendagri memang takut jika bendera itu disetujui, maka akan timbul perpecahan di Aceh, yang pada akhirnya menciptakan konflik baru. Tam tum lom eunteuk, lagee awai. Meuhambo ek ateuh podium dan meja kupi.

Alasan kemendagri bahwa bendera tersebut akan menciptakan perpecahan pun tidak boleh dianggap mengada-ngada. Bukankah sebelum disahkan bendera tersebut pun perpecahan telah berlangsung? GAM yang telah bermetamorfosis menjadi Komite Peralihan Aceh (KPA) dan Partai Aceh banyak menciptakan karya-karya baru, terutama karya pecah belah. Eh, maksud saya perpecahan. Terutama dengan kalangannya sendiri. Perpecahan yang disebabkan oleh politik angin surga dunia. Meusapsap lam punggong itamong. Lagee kapai tamong u kuala Idi. 

Lalu apa hubungannya dengan bendera yang akan kita bahas ini. Terutama mengapa bendera itu perlahan kehilangan pamornya? Nyoe keuh yang baro keuneuk peugah hai Lempap. Makajih kadeungo, bek gadoh kagebuer-geuber su sabe. Bendera BB yang telah lebih dulu diadopsi menjadi salah satu bendera Partai politik lokal di Aceh, telah menandai kepemilikan lain, bukan lagi milik GAM atau milik rakyat. Karena orang GAM sendiri bukan cuma ada di dalam partai Aceh (PA) saja, tetapi di mana-mana ada. Alias ada di mana-mana. Ya, di mana-mana. Tapi kamu tetap di hati ku, Lempap.

Orang-orang yang berseberangan dengan PA secara otomatis akan juga membenci setiap identitas yang merujuk pada PA. Terlebih bendera BB sendiri adalah ide dasar dari bendera PA. Maka tidak menjadi heran jika kemudian bertambahnya pembenci bendera BB juga seiring dengan menurunnya dukungan terhadap PA. Begitu pun ketika pendukung PA bertambah, maka secara otomatis pembenci BB berkurang. Kon meunan? ka eu aju, bek kutampa.

Namun demikian, realitas seperti itu akan akan menciptakan hilangnya pamor pada bendera BB itu sendiri. Bendera BB dianggap tidak lebih hanya sebagai identitas pura-pura saja. Hanya berarti ketika mereka berada dalam suatu ruang yang sama di partai politik. Selebihnya hanya sebagai mainan yang boleh dibakar, diinjak, atau diperlakukan sesuka hati. Seperti saat kamu memperlakukan celana dalam busukmu tempo hari, ekpam.

Maka dari itu, ketika bendera BB hendak dijadikan bendera Aceh, penolakan pun tidak hanya datang dari NKRI (meuteuoh awak luwa nanggroe). Dari dalam Aceh pun tidak sedikit yang menolak. Hal ini menandakan bahwa bendera BB itu sudah tidak punya harga diri lagi di mata masyarakat luas. Ia sudah seperti halnya pacar yang sudah berselingkuh berkali-kali. Semua seperti sudah tahu dan sadar, bahwa sekarang bendera BB hanya menjadi simbol yang dimanfaatkan oleh sekelompok orang untuk kepentingan mereka saja. Walaupun bendera tersebut telah disahkan oleh DPRA dan menjadi Qanun Aceh tentang Bendera dan Lambang Aceh pada 2013, itu tetap belum bisa menunjukkan bahwa rakyat Aceh secara keseluruhan mencintainya. Ya, mencintainya. Seperti aku yang mencintainya. Ek ciret.

Dalam hal ini, jika bendera BB berhasil disetujui kemendagri sebagai bendera Provinsi Aceh pun, maka yang paling diuntungkan adalah partai PA. Mereka bisa berkampanye sepanjang waktu, tanpa harus menunggu aba-aba lebih dulu. Sedangkan bagi Aceh sendiri, bendera itu akan menjadi simbol yang gagal dan momok yang menakutkan bagi rakyatnya. Di mana menggunakannya tanpa izin dan menghinanya akan dikenakan denda dan dapat dipenjara. Walaupun sebenarnya bendera tersebut juga tidak disukai sepenuh hati. Ini persis seperti cerita tentang buah similikitty.

Terjebak dalam pusaran tersebut, sebenarnya kalau bendera partai PA diganti dengan bendera yang tidak mirip sama sekali dengan bendera BB, ini akan berbeda lagi ceritanya. Nyan bhan ilee, ruda eunteuk tapike***


Tu-ngang Iskandar
[Pengamat masalah Visual. Mahasiswa Pascasarjana bidang Pengkajian Desain Komunikasi Visual di Institut Seni Indonesia Yogyakarta]

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Hilangnya Pamor Bendera Bulan Bintang GAM
Hilangnya Pamor Bendera Bulan Bintang GAM
https://3.bp.blogspot.com/-fmBMqVtcoBM/WCHAWBDCC0I/AAAAAAAABsE/zdk_mfMuxg0rBeTaG9d-aFjgxMxAJzJFgCLcB/s640/15033810_1164327153646010_451646614_n.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-fmBMqVtcoBM/WCHAWBDCC0I/AAAAAAAABsE/zdk_mfMuxg0rBeTaG9d-aFjgxMxAJzJFgCLcB/s72-c/15033810_1164327153646010_451646614_n.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2016/11/hilangnya-pamor-bendera-bulan-bintang_8.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2016/11/hilangnya-pamor-bendera-bulan-bintang_8.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago