Archive Pages Design$type=blogging

News

"Musik, Manusia Kalimantan, dan Jalan Lainnya"

Telat  saya  mengenal Gigih Alfajar Novra Wulanda. Perjumpaan kita yang pertama adalah saat awal kuliah di pascasarjana ISI Yogyakarta. ...


Telat saya mengenal Gigih Alfajar Novra Wulanda. Perjumpaan kita yang pertama adalah saat awal kuliah di pascasarjana ISI Yogyakarta. Tapi ini hanya pertemuan pura-pura, tidak pernah kami bertegur sapa, apalagi bercerita. Beberapa kali saya berada dengannya dalam satu kelas. Ia terlihat melemparkan beberapa pertanyaan kritis seputar dunia musik. Saya baru tahu ia dari jurusan musik dan bukan dari pulau Jawa semenjak saat itu.

“Jalan Lainnya”

Berbicara dengannya yang pertama kali adalah saat mengikuti mata kuliah Metode Penelitian. Saat itu kami duduk berdekatan. Saya yakin bahwa mata kuliah itu agak berat di kepalanya, sama halnya bagi saya. Entah berapa kali ia terlihat sedang memutar-mutar pulpen lewat jari-jarinya itu. Saat itu aku memperhatikannya, dan kami saling melempar senyum, lalu berbicara sepatah dua kata sambil tersenyum. Kami seperti sama-sama sedang yakin, bahwa senyum adalah tempat yang paling megah untuk bersembunyi dari terkaman apapun, termasuk dari materi-materi berat yang diberikan dosen. Yang jelas, dari senyum-senyum yang kemudian berlanjut ke tempat santai berikutnya, kami sama-sama harus mengulang tugas akhir semester mata kuliah tersebut.

Cerita tentang senyum yang unik sebenarnya baru saja dimulai, ketika pada suatu malam saya mengajaknya minum kopi. Ada segelinting gila yang ia bawa bersama beberapa rekaman musik malam itu. Terus terang saya bukanlah orang yang suka dengan sengaja mendengar musik. Namun ternyata lelaki yang kemudian lebih akrap saya panggil Gigih ini punya cara lain untuk membuat saya tidak sekedar mendengar. Saya pun bisa menikmati musik-musik itu dengan penuh khitmat, dengan senyum klasik dan tanpa protes. “saat kamu tersenyum, kamu mirip orang India” kata Gigih di dalam kegelapan malam itu. Entahlah, saya hanya bisa tersenyum dan terus menikmati musik. Malam itu saya berkesimpulan, bahwa untuk bisa menikmati musik, kita bisa menggunakan jalan lainnya. Saya teringat saat Aceh sedang dilanda konflik, dimana saat mesin penghantar kematian sedang bernyanyi, kami pernah beberapa kali menikmati itu dengan perantara asap ganja. Itu terlihat seperti jalan lainnya bagi kami.

“Human”

Malam-malam berikutnya, beberapa kali kita pernah berada di satu meja kopi untuk membicarakan musik dan juga tentang kampung halaman masing-masing. Musik dan kampung halaman memang punya kaitan yang kuat, pikir saya. Kami saling bercerita hingga pagi. Tulisan ini adalah usaha membaca dan menceritakan ulang secara singkat tentang manusia Kalimantan yang sedang bermusik ini.

Terkadang berbagai kenyataan hidup di masa lalu memang seperti halnya rindu yang memuncak di kala hujan, kita ingin segera mengakhirinya, tanpa ingin menunggu rintik terakhir. Tapi itulah kehidupan, yang terus meracuni kita dengan berbagai keinginan. Kenyataan-kenyataan telah menjadikan kita untuk terus memimpikan masa depan. Gigih pun kemudian menjadi seorang yang dianggap mampu berdiri sendiri di masa sekarang karena telah dipenuhi oleh ambisinya sebagai manusia. Ia dengan sadar atau pun tidak, telah berusaha mengembangkan potensi fisik, rasio dan kreatifitas secara maksimal (Homo Humanus) untuk menghadapi dunia, baik yang kasat atau pun tidak.

Memang, persentuhan Gigih dengan alat musik konvensional untuk pertama sekali adalah saat ia masih berada di Sekolah Dasar, itu pun hanya mendengar piano dan menyentuh gitar di sekolahnya. Namun, Gigih kecil malah pernah bergoyang ketika mendengarkan suara mesin pengupas kelapa di rumahnya. Cerita ini didengar Gigih dari orang tuanya. Jauh sebelum Gigih secara terang-terangan menyukai musik, sebenarnya dia telah lebih dulu menjuarai beberapa lomba baca puisi tingkat sekolah di Kampung halamannya. Bisa dimaklumi, karena ayah dari Gigih adalah seorang guru bahasa Indonesia, dan Gigih baru belajar main gitar sejak berada di sekolah Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Saat itu, ia bersama kawan-kawannya juga sempat mendirikan band dengan aliran rock metal.

“WELCOME TO THE JUNGLE”

Bermodal pengalaman bermain gitar itulah, lelaki yang dari kecil pernah bercita-cita menjadi tentara ini pun hijrah dari kampung halamannya di Kalimantan Barat menuju Yogyakarta. Di sini, ia pun memasuki pintu gerbang kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta, dengan harapan bisa belajar musik lebih matang. Langkah beraninya tersebut justru diganjal dengan surat pengumuman ketidaklulusan pada test gelombang pertama. Kemampuan bermain gitarnya itu benar-benar tidak bisa menolongnya saat itu. Hingga kemudian dia berfikir, bahwa hanya ada satu pilihan saat itu, yaitu “pulang”. Pulang dalam artian mempelajari alat musik daerahnya, lalu mengikuti test kembali. Lewat jalan itulah, Gigih akhirnya lulus pada gelombang kedua, dengan memilih minat utama Etnomusikologi.

Dari sinilah perjalanan bermusik Gigih sebenarnya baru memasuki babak baru, ketika ia berada di tempat yang masih asing. Yang paling penting adalah bahwa Gigih kemudian lebih giat dalam menggali kekayaan daerahnya, terutama yang berkaitan dengan musik. Komposisi musik Jampi yang diciptakannya untuk mengakhiri kuliah Sarjananya merupakan sebuah bukti dari usaha Gigih untuk membangun “jalan pulang”. Kalimantan bagi Gigih tidak lagi hanya berupa rimba penuh misteri, namun menyimpan harta karun yang sangat besar di dalamnya, yang tidak hanya bisa dijadikan sebagai sumber ide untuk komposisi musik semata, namun juga bisa untuk memperbaharui khazanah musik pada umumnya. Gigih kemudian menyusun “langkah pulang”, untuk menemukan dirinya dalam rimba musik Kalimantan lebih dulu, sebelum berusaha menjadi manusia (Human) bumi seutuhnya. Peristiwa ini mengingatkan pada salah satu judul album musik pertama yang dibeli Gigih ketika masih Sekaloh Menengah Pertama, yaitu; “WELCOME TO THE JUNGLE”.

“Musik bisa melakukan dua hal. Ia bisa membangun jembatan dan membuat orang saling memahami satu sama lain dan memahami perbedaan mereka. Atau bisa menggali lubang dan membuat masalah menjadi lebih besar” kata Phil Collins, seorang musisi pop/rock asal Inggris yang terkenal pada era 1980-an. Dari sini, kita bisa melihat Gigih yang sedang berusaha membangun jembatan untuk menemukan dirinya yang utuh. Gigih seperti sadar, bahwa untuk melihat dan menghargai perbedaan, ia harus lebih dulu menemukan dirinya yang berbeda dari yang lain. Seperti halnya intoleransi yang sering terjadi karena ketidaksadaran manusia pada adanya hakikat perbedaan. Menemukan warna musik yang berbeda adalah berusaha membangun harmoni itu sendiri. Satu judul yang secara keras mengecam tindakan teror yang mengatasnamakan agama karya dari Gigih kali ini adalah; “Teror Bersorban”.

Menjadi Etnomusikolog bagi Gigih tidak hanya harus bisa menangkap dan melahirkan bunyi-bunyi untuk menciptakan harmoni di dunia, namun juga harus bisa menjadikannya sebagai kendaraan untuk memasuki ruang kosmos dan menciptakan hubungan-hubungan yang baru. Maka ia seperti menciptakan mantra bunyi, yang akan mengantarkan kita untuk melihat dua dunia dalam satu meja.

“Human” Kalimantan

Lebih spesifiknya, Gigih sebenarnya sedang menggunakan mantra-mantra itu untuk masuk lebih dalam ke tengah rimba penuh mistis Kalimantan. Tentu, ini ia lakukan ketika raganya masih berada di Yogyakarta, sebuah tempat yang sepertinya layak menjadi landasan jiwanya untuk mengarungi sungai Kapuas dengan melawan arus sendirian. Bukan perkara mudah memang, karena ia tidak hanya harus berhadapan dengan orang-orang yang berseberangan dengannya, namun juga dengan dirinya sendiri, yang telah dipengaruhi oleh berbagai rumus-rumus asing bertahun-tahun dalam perantauan. Tapi saya yakin, kali ini ia sudah sekuat Mandau, yang selalu berusaha tersenyum tipis dan menikmati berbagai rintangan dengan jalan lainnya. Ia selalu punya cara. Ya, sepertinya musik memang tentang cara manusia untuk bertahan. Masuk lebih jauh dalam dunia kosmos adalah salah satu cara manusia untuk bertahan. Bukankah hidup adalah kumpulan dari berbagai kehidupan? Manusia, binatang, alam, serta roh gaib adalah suatu kumpulan yang tidak dapat dipisahkan.

Musik-musik yang ingin dihadirkan dalam konsernya kali ini adalah musik yang diciptakannya ketika ia sedang dalam “perjalanan pulang”. Musik yang bukan sekedar musik, ia refleksi dari perjalanan seorang anak manusia Kalimantan (“Human” Kalimantan)“Perahu melaju di antara kayu berikat mati, kupapahkan selendang malam kala aku datang untuk suatu tujuan”  ungkap Gigih pada satu kesempatan.

Tema Human dalam musiknya kali ini akan sangat kental, dengan hadirnya beberapa karya baru. MILO, Menafsir Kelabu, Teror Bersorban, Turun Gunung, dan Sedap Malam, adalah beberapa karya tersebut.

Nuansa Dayak, yang dihadirkan melalui vokal dalam bahasa Kalimantan, suara Gong dan Sape’ adalah seperti halnya mantra salam untuk menegaskan kepulangannya. Sebagai persembahan salam pada leluhurnya, Gigih akan menghadirkannya secara spesial wujud itu melalui bunyi yang terdengar seperti suara salam dari seribu penjuru sungai. Suara yang terdengar tinggi dan terkadang merendah ini bagai suara aneh ditengah terpaan angin dari empat penjuru. Suara sape’ yang semakin jelas itu adalah isyarat, bahwa Gigih seperti akan segera merapat di muara.

Menghadirkan itu di hadapan kita tentu bukanlah perkara mudah, ada berbagai ujian yang menghampirinya ketika menyiapkan proses konser ini. Termasuk diputusin secara sepihak oleh sang pacar pada hari-hari menjelang konser diadakan. Tentu ini bisa memecah konsentrasinya. Tapi Gigih yang sekarang bukanlah seorang pemurung, ia malah tersenyum dan memilih untuk tidak bersembunyi di balik semak-semak bunyi yang demikianWalau bagaimanapun, Gigih adalah manusia yang tidak mungkin sempurna. Menjadi “human” bagi Gigih adalah berusaha semampunya untuk menerima berbagai realitas diri, termasuk realitas hadirnya hubungan baru antara dirinya dengan alam, setelah timbulnya berbagai pengkhianatan lain atas dirinya. Sebagai suatu cara untuk melihat dunia baru yang utuh itu, Gigih kembali pada pelukan Kalimantan, untuk menjadi homo humanus sejati. Selamat menikmati.***

Besok adalah hari terakhir konser dua harinya (2 & 4 November 2016, Jam 20:00 WIB) di Lembaga Indonesia Perancis (LIP) Yogyakarta. Gratis, tidak dipungut biaya apapun.

______________________
Oleh: Tu-ngang Iskandar.
Tulisan ini dipersembahkan untuk Gigih Alfajar Novra Wulanda, salah satu sahabat dan komposer peraih Hibah Seni Kelola 2016 yang besok akan menggelar konser hari keduanya di LIP Yogyakarta. (Termuat dalam buku pengantar konser).

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: "Musik, Manusia Kalimantan, dan Jalan Lainnya"
"Musik, Manusia Kalimantan, dan Jalan Lainnya"
https://1.bp.blogspot.com/-8wUSo8NLCAM/WBr2CEQGrOI/AAAAAAAABqc/HLo7j1UpRCctFztiUM37HKEQiXVaHBX4gCLcB/s640/14937056_1158403220905070_1611280638_n.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-8wUSo8NLCAM/WBr2CEQGrOI/AAAAAAAABqc/HLo7j1UpRCctFztiUM37HKEQiXVaHBX4gCLcB/s72-c/14937056_1158403220905070_1611280638_n.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2016/11/musik-manusia-kalimantan-dan-jalan_3.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2016/11/musik-manusia-kalimantan-dan-jalan_3.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago