Archive Pages Design$type=blogging

News

Wacana Identitas & Kreativitas Dalam Musik Nusantara

Kemajuan kelompok masyarakat akan sangat dipengaruhi dari eksistensinya bersama kelompok lainnya. Identitas yang sifatnya etnosentris a...

Kemajuan kelompok masyarakat akan sangat dipengaruhi dari eksistensinya bersama kelompok lainnya. Identitas yang sifatnya etnosentris atau pun sebagai komparatif agar kelompok tersebut berada pada top culture, mendominasi ruang gerak, pemikiran, perilaku, teknologi maupun perekonomian. Perilaku atau sikap manusia telah distandarisasikan sedemikian rupa, menjadi baik dan buruk, terhormat atau terhina, berhasil atau gagal, primitif atau modern.

Memerlukan sebuah strategi dan keberanian dalam membuat sebuah keputusan yang akan diaktualisasikan agar kemasan sebuah pergerakan perubahan tersebut bukan merupakan sebuah tragedi yang mengerikan dimata zaman dan generasi penerusnya.

Perjalanan dunia seni khususnya musik bagi masyarakat Nusantara telah melalui fase yang panjang dengan berbagai bentuknya, baik dari peradaban pramodern hingga sekarang. Pengetahuan historial amat dibutuhkan agar dapat memahami berbagai kejadian musikal yang lahir pada masa magi hingga fungsionalis. Identitas yang telah disematkan ke dalam pola hidup multikultur, walaupun keberadaan belum sampai pada kococokan mendefenisikannya, sehingga hanya membuat musik tersebut hanya dipandang sebagai genre atau trend yang harus dikonsumsi sebagai sebuah kejadian estetika semata.

Ranah estetika pada masyarakat pramoderen yang ditandai dengan hadirnya teks dalam konteks, sebagai mengejawantahkan sebuah peristiwa untuk menjadi sebuah simbol masyarakatnya. Proses penyimbolan tersebut hanya menjadi sebuah kejadian bahasa dipahami dan dimaknai sebagai code conduct, yang dapat menentukan segala permasalahan dan sikap kita sehari-hari. Ideologi (world view) nusantara secara keseluruhan memiliki kesamaan secara bentuk dan pola, namun setiap kelompok masyarakat tetap akan melakukan sebuah distinction untuk menginterpretasikan estetika tersebut. Keberadaan konteks dan teks musik hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang diyakini memiliki hubungan khusus dengan yang transendent.

Ragam bentuk kesenian yang sebenarnya dilalui lewat fase pembentukan hingga perubahan makna untuk menjadi sebuah simbol ditandai dengan kesenian yang bersifat spiritual hingga kekinian, sebelum kemudian menjadi sebuah industri estetika trade mark. Pada zaman magi,  kesenian yang lahir dalam masyarakat lebih banyak dipresentasikan sebagai media dialog transenden atau sebuah kosmologi. Penekenan kejadian estetika dalam sebuah musik dilakukan untuk menghubungkan objek terhadap ruang-ruang yang tak terindra secara kasat. Pengunaan nada tunggal menghantarkan pada dimensi yang fokus pada ruang batin jiwa dan tempat komunikasi pada yang transenden tersebut. Kejadian estetika pada masa magi merupakan pola masyarakat yang masih tertutup dengan kelompok lain, sehingga sebuah perubahan pola tandingan bukan menjadi sebuah tujuan akhir bagi eksistensi kelompok tersebut. Pada masa itu manusia lebih mengutamakan komunikasi (dialog) bahasa terbatas, penghormatan tehadap alam serta penjiwaan terhadap pengalaman empiris nenek moyang secara turun-temurun yang terekam secara simbolik.

Lonjakan perubahan dalam menterjemahkan sebuah estetika musik pada masyarakat terjadi setelah adanya kontak antara kelompok kebudayaan pesisir dengan kelompok non-nusantara. Pertemuan kebudayaan (cultural contact) dengan intensitas tinggi telah menghasilkan sebuah pola baru yang menjadi sebuah pencitraan baru bagi kelompok, yaitu di mana pesisir mempengaruhi kelompok magi yang tinggal di daerah pegunungan atau jauh dari lokasi tempat masuk pendatang asing.

Komunikasi dari perubahan prilaku terhadap budaya magi tersebut telah dipahami dan diterima, serta diposisikan kembali dalam ruang simbolik masyarkat. Secara tidak langsung pengaruh dunia ontologi (mempertanyakan keberadaan sesuatu, yang lari dari ruang kufarat/ tahayul) telah memasuki dimensi ruang pikir estetika masyarakat Nusantara pada saat itu. Perubahan interpretasi sebuah estetika tidak lagi pada ranah dunia yang monoton dan terbatas ini, namun merupakan tempat kelahiran alat-alat musik yang berubah fungsi menjadi lebih interaktif dan mampu menerjemahkan sebuah ideologi kelompok masyarakat yang terkurung dalam jiwa, untuk kemudian menuju kebebasan menikmati ruang yang transendent, di mana manusia berinteraksi dengannya melalui alat-alat musik baru dan lokal.

Dalam masa ontologi, lonjakan perubahan musik dipengaruhi oleh pola-pola yang terjadi di masyarakat umum dan tataran kelompok elit (kerajaan). Fungsi musik telah dijadikan sebagai simbol intelektualitas yang bersifat individual. Pada masa ini, pengambil alihan intelektualitas hanya boleh hidup di kalangan tertentu. Kesenian masyarakat hanya menjadi sebagai ritual, yang berfungsi dalam tataran kelompok elit sebagai aklamasi bagi seseorang yang menguasai sebuah wilayah ataupun  yang memiliki kemampuan membuat sebuah perubahan bagi seluruh negeri dan disekitarnya.

Pola pengkristalan terhadap sebuah seni kerajaan nusantara menjadikan mitos-mitos baru yang lahir di tengah kebudayaan masyarakat. Hal ini terjadi sebagai sebuah distingsi yang menjadikan sebuah semangat baru serta memberikan makna yang harus diaktualisasikan setiap individu. Sejalan dengan waktu, pola kesenian pada masa kerajaan ini mengalami masa yang tragis, perluasan wilayah antara kerajaan-kerajaan besar yang ada di nusantara hingga datangnya kolonisasi (penjajah dari portugis hingga zaman belanda) menjadikan peran seni berubah fungsi, baik bagi kelompok elit maupun kelompok masyarakat nusantara biasa.

Kedudukan sebuah seni pada masa penjajahan menempati posisi sebagai simbol pergolakan masyarakat yang tidak setuju atas keberadaan kaum Eropa menguasai Nusantara. Penghilangan status kedudukan masyarakat pribumi membuat seniman melakukan proses kreatif baru untuk mengerakkan masyarakat melakukan perlawanan. Bahasa lokal serta alat musik lokal merupakan sebagai media propaganda dalam membangkitkan sebuah pergerakan dan menjaga identitas masyarakat. Pengungkitan memori masyarakat dipelopori oleh seniman-seniman lokal. Dalam masa itu, banyak seniman melahirkan karya-karya yang berbentuk himne-himne atau mars-mars. Kedudukan seni bukan lagi sebagai simbol ketuhanan (Kosmos) atau dunia estetika tinggi pada masa itu, melainkan menjadi sebuah motorik (penggerak) untuk menuju kebebasan mutlak.

Sejarah pergerakan seni nusantara memiliki kesan unik apabila diperhatikan. Kelahiran seni bukan hanya sebagai ruang estetika pencerapan bagi setiap individu maupun masyarakat umum. Seni telah berfungsi sebagai idiologi, memori maupun intelektualitas hidup di ruang kenegaraan. Pertemuan dengan berbagai kebudayaan asing telah menjadikan nusantara matang dalam mempresentasikan sebuah seni. Walaupun hingga saat ini pengkultusan genre seni tidak gencar dipersoalkan.

Peningkatan dalam media informasi surat kabar televisi dan internet saat ini pun telah menjadi seperti sihir yang telah menunjang ke arah pemikiran masyarakat global. Budaya pop menjadi begitu populer. Menghadapi fenomena ini, banyak seniman yang populer di Nusantara telah mencoba untuk membahasakan seni musik Nusantara ke dalam seni musik pop, hingga musik nusantara menjadi simbol untuk menandai kesuksesan peradaban barat.

Fenomena pengebirian akan identitas, kreatifitas, serta estetika dalam sebuah bangsa terus dilakukan. Sebagai contoh ilustrasi; Bangsa Eropa menciptakan teknologi instrumen musik, karya musik masyarakat Nusantara yang memiliki karakter dijadikan bahan pengarapan, seniman melakukan aktivitas pengemasan karya (perpaduan teknologi dan karya musik lokal), pagelaran musik di tengah-tengah masyarakat, dan karya tersebut dikagumi sebagai kebudayaan lokal bersanding dengan peradaban modern.

Revolusi musik yang terus berkembang dalam dunia global yang tanpa tujuan ini akan selalu terjadi dalam industri musik, hingga sebuah bangsa akan mengalami krisis identitas yang parah. Seniman lokal dalam hal ini memang selalu berusaha untuk melakukan kegiatan regenerasi untuk mempertahankan kesenian lokal, agar eksistensinya menjadi sebuah idiom jati diri yang mengakar dalam benak jiwa dan pemikiran. Namun, lagi-lagi itu harus dilakukan secara ekstra, dengan dukungan yang nyata dan bukan palsu dari pemerintah.

Dibutuhkan renungan untuk mencari jalan keluar atas masalah yang terjadi, yang mempertanyakan eksistensi seniman Nusantara dalam mengikuti bounded system peradaban Barat. Pengalihan bahasa universal di Nusantara juga harus dipikirkan, untuk merumuskan jati diri estetika Nusantara secara keseluruhan.



Rudi Asman 
[Mahasiswa Etnomusikologi ISI Yogyakarta, Ketua Departemen Musik Seniman Perantauan Atjeh (SePAt)]

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Wacana Identitas & Kreativitas Dalam Musik Nusantara
Wacana Identitas & Kreativitas Dalam Musik Nusantara
https://2.bp.blogspot.com/-oieRLFjg9oA/WDrvJQwzqOI/AAAAAAAABu8/1FREO8Ge92MEeaAKWaVcuGKZMNs16HZ5gCLcB/s640/5701_624645820885029_386549057_n.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-oieRLFjg9oA/WDrvJQwzqOI/AAAAAAAABu8/1FREO8Ge92MEeaAKWaVcuGKZMNs16HZ5gCLcB/s72-c/5701_624645820885029_386549057_n.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2016/11/wacana-identitas-kreativitas-dalam.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2016/11/wacana-identitas-kreativitas-dalam.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago