Archive Pages Design$type=blogging

News

Ikhtisar "Beladjar Membuat Film" Ala Tann Sing Hurat

Film harus berisikan cerita. Film yang tidak mengisahkan cerita hanya akan membuat penonton bosan. Pengambilan gambar dalam film dise...


Film harus berisikan cerita. Film yang tidak mengisahkan cerita hanya akan membuat penonton bosan. Pengambilan gambar dalam film disebut opname. Sebelum opname dimulai, hendaknya ditetapkan sebuah cerita. Buku penuntun dalam pembuatan sebuah film disebut buku continuity. Sebagian orang menyebut Draaiboek diambil dari bahasa Belanda, juga menyebutnya Shooting script dikutip dari bahasa inggris. Namun umumnya, dalam studio Indonesia menyebutnya buku continuity

Demikian itu, sebenarnya yang dimaksud buku continuity disini ialah skenario film yang sudah diperincikan, terkadang banyak yang salah mengartikan, kesalahan sekecil itu perlu dikemukakan agar pembuat-pembuat film tidak menjadi terkejut dan bingung di dalam mempraktikkan teori yang dituliskan dalam buku "Beladjar Membuat Film" ini.

Umumnya, untuk memperlancar proses pelaksanaan produksi sutradara film membuat scene plot  dan set plot. Lazimnya dibuat di atas kertas dan  berpedoman dari susunan skenario. Maksud pembuatanya untuk menjaga dan menghindari sesuatu kesalahan dan/atau kelalaian. Scene plot adalah rencana-rencana peristiwa yang ingin di-shoot. Set plot adalah latar/setting suasana di peristiwa-peristiwa yang akan dibuat dalam film, pembuatannya bersamaan dengan scene plot

Dalam studio/komunitas yang organisasinya sempurna, pekerjaan sutradara agak ringan dikarenakan bagian-bagian bertanggung jawab sepenuhnya. Misalkan bagian management studio yang menjaga keberesan dan persiapan bagi penyelenggaraan sebuah film, bagian properti yang mengatur alat untuk kepentingan opname, bagian kostum yang memikirkan pakaian pemain filmnya. Dan seterusnya demikian, sehingga pekerjaan dalam pembuatan film akan lebih cepat dan efektif.

Tahap persiapan atau sekarang ini lebih dikenal dengan praproduksi, untuk memulai opname. Pertama, Sutradara memeriksa cerita yang harus difilmkan (kebanyakan di Indonesia, Sutradara membuat sendiri cerita dan buku continuitynya), mempersiapkan set (bangunan yang melukiskan rumah, warung dan/atau sesuatu lainnya yang dibutuhkan untuk cerita oleh decorature atau Art Director

Opname diperbincangkan lagi dengan cameraman dan pengambilan suara dirundingkan lagi dengan sound man. Sedangkan bagian lainnya pun sudah mulai bekerja sebelum opname dimulai dan begitu seterusnya. Begitu juga dengan sutradara segera menyusun casting (memilih pemain yang tepat), sekarang ini umumnya sudah ada penambahan dalam hal mencari talent yaitu bagian yang sering disebut Kortel (Koordinator talent), orang yang mencari artis/pemain dalam film, lalu berdiskusi dengan sutradara. 

Film harus menceritakan apa kepada penonton, juga bisa dimaknai membuat cerita bergambar dengan camera. Sekarang akan membahas skenario, jika seorang sutradara hanya menggunakan buku cerita sebagai petunjuknya dalam produksi, pasti ia akan menjumpai sedikitnya 1001 macam kesulitan yang mengakibatkan kerugian yang bukan kecil. Oleh karena itu kita harus menuangkan cerita yang telah dibuat kedalam bentuk scenario. 

Lalu timbul pertanyaan mengapa skenario tidak disebut cerita, jawaban sederhana saja, karena skenario mempunyai bentuk dan sifat yang berlainan dengan cerita biasa. Skenario harus dirangkai atas syarat yang tidak serupa dengan cerita dalam buku. Dalam menyusun skenario terutama yang sangat dibutuhkan ialah bahan yang indah, dalam dunia film disebut Plastick material

Perlu digarisbawahi bahan yang indah dalam film bukan harus dicapai dengan keindahan kata/percakapan(dialog), karena selalu harus diingat film bukan sandiwara. Dimana percakapan yang indah bukan syarat mutlak untuk mencapai sukses. Namun, film hanya butuh visual yang bergerak dan memberikan makna simbolis, dan didukung dengan audio/suara yang mengambarkan suasana sekitar tanpa harus memberikan percakapan yang menjelaskan setiap peristiwa dalam scene film. Terpenting maksud dan makna sudah tergambar dalam visual. 

Posisikan dirimu sebagai penikmat film awam saat menonton film yang telah dibuat, sehingga kamu tau apa kekurangan atau rasa yang kurang diterima oleh penonton. Lalu tontonkan kepada teman-teman terdekatmu dan minta komentar mereka, lalu baru film yang telah dibuat discreeningkan

Membiasakan diri berpikir secara Filmisch sebelum membuat scenario. Filmisch ialah meninjau setiap peristiwa dan mencari solusi dari setiap realitas yang terjadi. Bisa dikatakan memiliki pemikiran dasar dan latar belakang yang memperkuat ide dalam membuat skenario film. Sementara itu berpikir filmisch juga berarti berpikir bagaimana peristiwa yang ada itu dapat difilmkan dan menarik akan penonton, namun, memilih jalan yang tersingkat dan paling menarik (Plastick material). 

Hanya ingin sharing, jika ingin membuat film yang menarik coba analisis kehidupan sekitarmu baik sosial, ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Lalu ubahlah dalam bentuk film dan susunlah skenarionya sehingga film akan lebih dekat dengan penontonnya.

Scenario pun jadi, setelah itu baru membuat buku continuity. Bentuk buku continuity sendiri terserah kepada team/crew film itu sendiri yang penting harus berisikan antara lain :

1. Nomor urut yang menjadi juga nomor shot
2. Besar Gambar yang diinginkan, misal LS (Long Shot), MS (Medium Shot), MCU (Medium Close Up), CU (Close Up)
3. Dalam kolom selanjutnya, dituliskan a. Tempat kejadian, b. Pelaku/pemerannya,  c. kejadiannya, dan lain-lain yang bersangkutan dengan gambar.
4. Dalam kolom yang paling kanan dideskripsikan segala sesuatu yang bersuara atau bisa dimaknai sebagai audio, missal musik yang akan diinginkan, suara tambahan(sound effect, umpamannya untuk adegan pada waktu malam, diperdengarkan suara katak/jangkrik).
Sehabis itu dilanjutkan dengan Draiboek atau Shooting Script, Bentuk sendiri terserah kepada team/crew film itu sendiri yang penting harus berisikan antara lain :
1. Nomor dari buku continuity 
2. Besar gambar yang dikhendaki
3. Catatan lengkap dari perincian buku continuity
4. Gambar kasar dari gaya terakhir dan bersangkutan dengan continuity, misalkan letak property, pakaian yang dipakai pemeran sebelumnya, letak artistik pada tempat yang diopname dan lain sebagainya.
5. Panjang durasi dari setiap shoot
6. Segala sesuatu yang dibutuhkan untuk kepentingan opname, misalnya lampu, lensa, slider dan sebagainya.
7. Tanggal waktu opname
8. Pemain yang dibutuhkan pada waktu opname.

Singkatnya, segala sesuatu yang ada di buku continuity diperincikan di Shooting Script. Lalu setelah itu dibuatlah Scene Plot dan Shooting Schedule, pembuatan dari Scene Plot dan Shooting Schedule serupa dengan Draiboek, demikian itu dibuat agar lebih terbagi bagian-bagian penanggung jawab sepenuhnya, sehingga proses produksi pun semakin lancar tanpa ada kendala yang berarti. Setelah itu semua barulah menuju ke pelaksanaan produksi. Mengenal istilah-istilah yang digunakan dalam dunia film, sebagai berikut:

a) Super Close Up (SCU), umpamanya sebesar layar putih di dalam gedung bioskop.  Namun sangat jarang digunakan
b) Close Up (CU), gambar yang memperjelas setiap detil yang digunakan dalam adegan film, misal garpu yang terjatuh dilantai karena disinggung oleh siku Muhammad Hendri, shoot garpu yang dijatuhkan Hendri dari atas meja itu dinamakan Close up, untuk memperjelas maksud kepada penonton.
c) Medium Close Up (MCU), Ukuran gambar lebih kecil dari Close Up, gambar yang digunakan untuk sesuatu aksi yang tidak beralih tempat.
d) Medium Shot (MS), shot yang digunakan agar pemain bergerak lebih leluasa, jika visual di bandingkan dengan objek manusia dari dada hingga kepala 
e) Semi Long Shot, dalam praktiknya jarang dipakai, ukuran gambarnya dari paha hingga kepala.
f) Long Shot (LS), shot yang digunakan untuk menunjukan kepada penonton dimana sesuatu peristiwa itu terjadi.
g) Fade in, dari gelap menjadi terang.
h) Fade Out, dari terang menjadi gelap.
i) Dissolve Out dan Dissolve in, dalam bahasa belanda overvloeien, gambar yang buram sedikit demi sedikit.
j) Pan, camera yang diarah kepada objek, camera yang mengacu berputar atau berputar kamera yang horizontal dari posisi tetap
k) Follow, camera mengikuti objek semula.
l) Out Of Scene dan In Scene, pemain menjauh dari tempat shot, sebaliknya in scene pemain akan menuju ke tempat lokasi yang sedang di shot.
m) Tracking Shot, cameraman memainkan cameranya keatas-kebawah(atau sebaliknya), kekiri-kekanan dan/atau kedepan-kebelakang sesuai petunjuk sutradaranya.
n) Track in dan Track Back, cameraman maju mengeshot mendekati objek sedangkan Track back cameraman  menjauh mengeshot objek.
o) Profile. Pemain harus dipotret dari samping.
p) Parrallax, gambar pemain sebagian dari kepalanya harus terpotong.
q) Flash, pengambilan harus sebentar saja.

Scenario seharusnya harus memiliki ruh/jiwa, sederhananya, scenario harus menggambarkan sebuah perasaan/rasa yang didapatkan penonton, demikian itu pun tidak akan mengecewakan penonton. Seorang penulis skenario terlebih dahulu merancang penjiwaan, hal ini dalam dunia film disebut Plot Contruction (membentuk satu plot), sederhananya membentuk satu kejadian untuk difilmkan. Demi keindahan cerita, Plot contruction itu ditetapkan beberapa syarat antara lain: 

1. Introduction (Pengenalan)
2. Situation kesatu, kedua, ketiga, dan seterusnya(tidak semestinya berapa banyak situasi)
3. Klimax

Ketiga pokok dasar di atas masih harus diisi lagi dengan sedikitnya satu diantara dibawah ini:
a. Atmosphere(Suasana)
b. Anthyphaty(Kebencian)
c. Sympathy(rasa suka)
d. Music
e. Commical(Lelucon)
f. Dance(tarian)
g. Songs(nyanyian)
h. Suspense(Ketegangan)
i. Heart-interest(Penggerak perasaann, misalnya kesedihan)
j. Heroic Value(Kesatriaan)
k. Trick-work(Keanehan)
l. Characterization(Karakter)

Sederhananya beberapa hal diatas harus ada dalam film paling tidak satu atau dua, kenapa, karena hal itu dipakai untuk mengikat penonton sehingga ia tahan menyaksikan film itu sampai pada akhir cerita. Situasi dalam film itu menjelaskan suatu permulaan untuk sesuatu yang akan terjadi di dalam film. Sebuah film tidak cukup diselesaikan dengan satu situasi saja, maka setiap situasi itu harus diakhiri untuk dipindahkan kesituasi selanjutnya. Menyudahi situasi pun tidak boleh semena-mena, asal sudah berakhir saja, namun hendaknya diisi dengan suatu kejadian yang dapat menarik perhatian penonton. Penutup atau yang mengakhiri situasi itulah yang disebut dengan klimak kecil. 

Umumya sebuah cerita film Indonesia mempunyai 5 sampai 7 situasi. Klimak kecil bertugas menutup setiap situasi. Demikian pun dengan klimak dipakai untuk menyudahi seluruh cerita. Selain Klimak dapat juga memakai anti klimak untuk mengakhiri sebuah cerita. Anti klimak ialah suatu pengakhiran yang bertentangan dengan semestinya. Singkatnya pemberian jiwa pada scenario harus adanya pengenalan pemain kepada penonton (introduction), pemain itu harus bertemu dengan pemain lain, pertemuan itu harus mengakibatkan situasi/kejadian dan tutuplah cerita dengan klimak atau anti klimak. Namun yang perlu digarisbawahi bahwasanya akhiran film dengan antiklimak itu timbulnya keberatan dari panitia pengawas film pusat, sehingga lazimnya setiap film diakhiri dengan klimak.

Penulis scenario ataupun seorang penulis buku continuity paling tidak harus memahami sedikit mengenai hal teknis film, dikarenakan saat di lapangan ada adegan yang menurut sutradara memang tidak bisa divisualkan. Karena menurut pengetahuan sutradara, bagian yang dituliskan oleh penulis scenario itu dapat dibuat dengan cara lain yang terlebih indah, sehingga tidak menimbulkan perdebatan antara penulis scenario dengan sutradara walaupun otoritas tertinggi dalam produksi film dikendalikan penuh oleh seorang sutradara. 

Umumnya penulisan sebuah scenario itu sendiri juga harus melihat peralatan yang tersedia, karena ada visual-visual yang tidak terealisasikan dengan peralatan yang sederhana begitu juga sebaliknya dengan peralatan yang lengkap. Sehingga implikasinya sangat penting bagi penulis scenario itu untuk paham paling tidak sedikit tentang teknis pembuatan film. Sekurang-kurangnya penulis scenario mengenal camera yang akan dipakainya.

Pastinya untuk membuat film kita juga harus mengenal peralatan-peralatan yang digunakan untuk membuat film, mulai dari camera, lensa, dan bagian-bagian dari masing-masing camera. Sehabis itu, semestinya juga mengetahui kelemahan dan kelebihan dari setiap kamera yang akan digunakan, agar tidak terkendala pada memvisualisasikan setiap adegan yang dituntut dalam skenario.

Setelah opname dilakukan maka sampai di tahap yang dinamakan pascaproduksi. Sutradara harus paham teknik cutting dan editing. Cutting, memotong bagian pada shot yang telah direkam untuk mengambil bagian terbaik dari rekaman. Sedangkan editing bisa diartikan menyusun film menurut runtutannya. Ada orang menyebutnya Montage. Film pun siap untuk dipertontonkan kepada penonton. Jadi, kesimpulan akhirnya dari setiap pembuatan film yaitu adanya praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Apabila praproduksi bagus, maka keberhasilan dalam produksi film akan semakin tinggi begitu juga sebaliknya. Dari ikhtisar buku Tann Sing Hurat ini paling tidak telah memberikan sedikit tentang pengetahuan untuk belajar membuat film.***

Hendri Kemul (Mahasiswa S-1 Televisi dan Film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta)

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Ikhtisar "Beladjar Membuat Film" Ala Tann Sing Hurat
Ikhtisar "Beladjar Membuat Film" Ala Tann Sing Hurat
https://2.bp.blogspot.com/-jqdftt4fJMc/WHqIh_vEOcI/AAAAAAAACXw/k2rfr0t30lw0t9b7RNNAn1SLJ4A54H_8ACLcB/s640/15231531_120300000895966713_430537249_o.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-jqdftt4fJMc/WHqIh_vEOcI/AAAAAAAACXw/k2rfr0t30lw0t9b7RNNAn1SLJ4A54H_8ACLcB/s72-c/15231531_120300000895966713_430537249_o.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2017/01/ikhtisar-beladjar-membuat-film-ala-tann.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2017/01/ikhtisar-beladjar-membuat-film-ala-tann.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago