Archive Pages Design$type=blogging

News

Ruju’ pada Madilog di Gerakan Surah Buku

Oleh: Muhyi Atsarissalaf Tulisan ini terinspirasi ketika mengikuti acara “Surah Buku Malam”, sebuah acara membaca dan menelaah isi ...


Oleh: Muhyi Atsarissalaf

Tulisan ini terinspirasi ketika mengikuti acara “Surah Buku Malam”, sebuah acara membaca dan menelaah isi buku bersama-sama dengan format diskusi santai. Acara yang kemudian lebih dikenal dengan Gerakan Surah Buku (GSB) ini digagas oleh mahasiswa Aceh di Yogyakarta pada pertengahan bulan Januari 2017. Mendengar kata “Surah Buku”, tentu membuat memori ke-Aceh-an saya tersentak. Saya langsung teringat dengan istilah “surah kitab” pada masa Tsanawiyah dahulu.

Pertama sekali ikut acara ini adalah ketika salah seorang senior di Yogyakarta mengajak untuk bergabung. Memang, kini saya lagi masa-masanya taubat dari hal semacam ini, untuk menebus beberapa semester yang pernah ternoda. Namun demikian, bercerai dengan buku atau diskusi semacam ini merupakan “dosa besar” mahasiswa. Nafsu saya tentang agenda semacam ini memuncak ketika seorang senior mengatakan bahwa yang dibaca dan didiskusikan adalah pikiran Tan Malaka, yaitu Madilog, yang judul buku itu sebelumnya memang pernah saya baca. Perkenalan saya dengan “Madilog” ketika itu adalah saat membaca sebuah buku kecil yang menceritakan biografi dan pemikiran Tan Malaka. Dari buku itulah rasa penasaran itu bertambah parah, hingga kemudian saya mencari Madilog di perpustakaan, dan alhamduillah dapat ini barang.

Membaca tulisan di kovernya, awalnya saya sedikit terkejut--karena tidak pernah baca buku semacam ini sebelumnya mungkin saja. Ada beberapa kalimat yang disisipkan  tepat di atas judul, yaitu “Buku ini masuk dalam daftar 100 buku yang berpengaruh dan berkontribusi terhadap gagasan kebangsaan, versi majalah TEMPO”. Dari pernyataan ini, ada dua yang saya kagumi, yang pertama tentu karena pengaruhnya, yang kedua karena TEMPO-nya, yang membuat saya langsung membayangkan Ahmad Wahib--karena sosok ini yang saya ingat pernah menjadi jurnalis TEMPO--yang saya baca dari beberapa buku bahwa beliau dikenal dengan pemikiran yang amat berani dan bebas.

Selain dari pada itu, yang membuat saya amat tertarik dengan Madilog ini adalah ketika saya membaca beberapa artikel tentangnya. Dari sana, saya mendapati kabar bahwa buku ini pernah dilarang peredarannya pada masa Orde Baru, sehingga ketika saya membaca awalan saja dari buku ini, serasa sedang mendapat kebanggaan tersendiri, walaupun tidak sama dengan kebanggaan mahasiswa yang membaca pada masa itu. Saya sempat membayangkan bagaimana “seru dan sedap”nya ketika membaca buku ini pada masa Orde Baru. Bukan hanya membaca begitu saja tentunya, karena dari cerita-cerita yang saya dengar dan saya baca di beberapa artikel, di masa itu para pecandu buku harus memiliki usaha yang lebih dari pada pencandu yang sekarang, yaitu dimana membaca tidak sekedar sebagai perlawanan, melainkan juga sebagai bentuk perjuangan.

Mungkin bukan hal yang asing kala itu, ketika membaca saja dilarang. Lebih parah lagi, ia bahkan bisa dicurigai dan dituduh antek-antek PKI. Memang, dijebloskan ke krengkeng atau dihilangkan sering kita dengar kala itu. Saya membayangkan betapa sunguh-sungguh dan beratnya usaha mahasiswa kala itu, hanya untuk membaca. Mungkin karena kondisi itulah, membaca pada saat itu dapat dikatakan tidak hanya sekedar membaca, melainkan memang harus benar-benar mampu memahami isinya. Nezar Patria, seorang aktivis yang pernah merasakan masa kelam Indonesia di zaman Orde Baru pernah menulis, yang isinya tentang pandangan dan perbandingan antara membaca pada masa itu dan di masa sekarang. “Bagi mereka generasi 90’an, tiada hari tanpa mendiskusikan buku. Mahasiswa dan mahasiswi pada masa itu kerap memegang buku dan membicarakannya di luar kelas kampus, terutama buku-buku politik yang dianggap subversif” kata Nezar Patria.

Beliau juga menyebutkan bahwa buku-buku yang ditulis oleh pemikir yang dianggap pemikir kiri akan menjadi perhatian dari penguasa. Karl Marx atau Pramoedya misalnya. “Seorang kawan kami, Bonar Tigor Naipospos pada tahun ‘88-‘89 ditangkap dan dipenjara karena membaca serta menyimpan buku tersebut. Namun hal itu justru menunjukan betapa membaca buku tertentu menjadi sangat seksi. Gengsi seseorang menjadi tinggi karena membaca buku-buku terlarang”. Tulis Nezar Patria dalam tulisannya yang dimuat Pocer.co.

Sekarang zaman telah berbeda, semenjak runtuhnya Orde Baru pada tahun 1998 itu, buku-buku yang sebelumnya dilarang kini sudah bisa didapatkan dengan mudahnya, tidak perlu susah-susah dan takut akan diculik dan dihilangkan, karena buku-buku itu kini sudah tersedia di toko-toko buku dan pustaka-pustaka. Mungkin dalam keadaan yang bebas dan longgar seperti ini, tampaknya minat membaca itupun menjadi berkurang pula, mungkin karena tidak ada tantangannya, boleh jadi. Namun bukan berarti kita setuju terhadap pelarangan membaca buku seperti ini. Itu dosa besar.

Terlepas dari cerita lain, ketika beberapa bab buku Madilog itu saya baca sendiri pada awalnya, saya merasa otak saya yang agak lemah ini belum sepenuhnya mampu menangkap apa yang disampaikan. Terlebih kala membahas bab logika matematika, saya harus menggunakan model--jika Tan Malaka menggunakan “jembatan keledai” untuk mengingat, maka saya menggunakan-- “keledai lompat” untuk melompati bab itu dan bab-bab lainnya. Padahal, titik penting dari Madilog itu sendiri ada di sana. Sehingga saya merasa tidak mendapatkan apapun dari proses yang saya lakukan sendiri itu. Sulitnya memahami buku Madilog menurut saya juga dipengaruhi oleh perkara bahasa yang digunakan. Memang, buku Madilog tidak ditulis dalam bahasa asing, dan ditulis dalam bahasa Indonesia, namun karena ditulisnya pada masa prakemerdekaan dahulu, ini tentunya sangat kental dengan gaya bahasa masa itu pula. Maka dari itu, terdapat kalimat-kalimat dan kata-kata tertentu di sana yang amat sulit saya mengerti.

Ketika diajak untuk ikut di Gerakan Surah Buku, tentu saya langsung berfikir bahwa inilah ruang untuk bisa memahami kembali atau “rujuk” pada buku yang sempat saya “ceraikan” itu. Ternyata memang benar, membaca sendiri dengan membaca bersama-sama itu berbeda hasil dan citarasanya. Boleh jadi kala saya membaca sendiri, kebingungan yang diakibatkan oleh pikiran yang berputar-putar dan buntu adalah alasan kuat atas terjadinya perceraian saya dengan buku Madilog pada awalnya. Berbeda halnya kala membaca dan mendiskusikannya bersama-sama, misalnya pada pembahasan matematika yang saya lompati kala membaca sendiri kala itu, yang pada kali ini dibahas dengan seksama dengan saling membantu, walaupun tidak sepenuhnya mampu terpecahkan, namun setidaknya saya bisa mengambil makna dan mendapat banyak cara pandang baru terhadap matematika. Jujur saja, sebelumnya saya mengganggap bahwa matematika itu sebagai ilmu yang entah apa manfaatnya bagi kehidupan dan terhadap usaha memahami realitas, namun ternyata sekarang saya mengakui keliru, dan harus mengakui bahwa matematika itu amat mempengaruhi alam berfikir secara logika dialektika kita.

Selain dari pada itu, tentu pula saya merasa bahwa kalau hanya membaca sendiri, itu hanya akan berhadapan dengan satu cara pandang saja, yaitu cara pandang saya sendiri, dan amat mungkin kekeliruan itu akan berlangsung sistematis dan fatal. Berbeda halnya kala saya membaca, mendengar dan mendiskusikannya bersama-sama, apalagi dengan suasana yang tentunya amat berbeda seperti halnya di dalam kelas kampus, yang mungkin kesan formal dan menegangkan itu sulit dihilangkan, sehingga membuat kita tidak fokus pada usaha memahami secara menyeluruh. Terlebih pembahasan itu berbatas waktu. Kondisi dan ruang yang seperti itu memang suatu penyakit bagi dunia belajar kita, terlebih orientasinya hanya pada “angka-angka akademik”. Bergabung dalam GSB saya merasa lepas dan lebih leluasa untuk belajar, karena ini bukan kampus, hanya tempat nongkrong dan minum kopi.


Penulis adalah Anggota Gerakan Surah Buku (GSB) 2017, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Ruju’ pada Madilog di Gerakan Surah Buku
Ruju’ pada Madilog di Gerakan Surah Buku
https://2.bp.blogspot.com/-HWo9SCabGaQ/WKBcyU9lE5I/AAAAAAAACas/ZZmD-Szj0HYmnbXoXghk6PlK4UKHxabgwCLcB/s640/16115053_1253826628043681_6867525845588098224_n.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-HWo9SCabGaQ/WKBcyU9lE5I/AAAAAAAACas/ZZmD-Szj0HYmnbXoXghk6PlK4UKHxabgwCLcB/s72-c/16115053_1253826628043681_6867525845588098224_n.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2017/02/ruju-pada-madilog-di-gerakan-surah-buku.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2017/02/ruju-pada-madilog-di-gerakan-surah-buku.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago