Archive Pages Design$type=blogging

News

Gerakan Surah Buku, Bukan Sekedar Slogan Pentingnya Membaca

Oleh: Hendri Kemul Salah satu yang bisa dibilang pengikut setia Gerakan Surah Buku (GSB) adalah saya. Gerakan ini tercetus pada tanggal...

Oleh: Hendri Kemul

Salah satu yang bisa dibilang pengikut setia Gerakan Surah Buku (GSB) adalah saya. Gerakan ini tercetus pada tanggal 21 januari 2017, di Asrama Aceh Sabena, Yogyakarta. Oh ya, sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri. Nama lengkap saya adalah Muhammad Hendri. Mungkin, sebagian pasti ada yang berpikir, untuk apa manusia Lempap ini memperkenalkan dirinya. Akan tetapi bagi saya sendiri ini menjadi penting, ketika nama itu kemudian sedikit berubah. Adalah presiden Lempap Tungang Iskandar, inisiator GSB itu, yang kemudian memberikan nama panggilan lain kepada saya, yaitu "Kemul", singkatan dari “Kerupuk Mulieng”. Kerupuk Mulieng dalam bahasa Indonesia adalah kerupuk melinjo atau emping melinjo. Awalnya saya tidak suka dengan nama panggilan itu, karena terdengar begitu aneh, akan tetapi setelah diberitahukan filosofinya, barulah saya mengerti dan berusaha berkompromi dengan nama itu.

Sebagian pembaca pasti ingin tahu filosofinya, maka saya sampaikan di sini tentang filosofinya itu. Kerupuk Mulieng adalah salah satu makanan ringan yang banyak diproduksi di daerah kampung halaman saya, Sigli. Mengingat Sigli, tentu mengingatkan kita juga pada kerupuk mulieng. Mungkin dengan dasar itulah, pak Tungang memberikan nama itu untuk saya. Nama itu seperti doa bagi saya, katanya. Lewat nama itu, ia berharap karya-karya yang saya lahirkan kemudian menjadi renyah seperti kerupuk mulieng, memiliki karakter dan berciri khas, dengan berpegang pada identitasnya, serta dapat diterima oleh masyarakat luas. Pun walau agak ragu untuk menerima nama ini pada awalnya, akhirnya saya dapat menerimanya. Perlahan nama asing itu menjadi akrab di telinga saya, tanpa merasa risih sama sekali. Saya mulai berharap, siapa tahu dengan sebutan tersebut dapat memberikan dorongan dan motivasi pada saya untuk terus memproduksi karya-karya yang lebih baik.

Sebenarnya tulisan ini tidak ingin membahas lebih jauh tentang saya pribadi. Ini adalah tentang GSB. Satu gerakan yang sangat penting bagi mahasiswa-mahasiswa Aceh yang sedang menimba ilmu di Yogyakarta. Memang terdengar sangat subjektif ketika saya mengatakan ini sangat penting, akan tetapi merasakan manfaat dari gerakan ini secara langsung sudah barang tentu merupakan dasar bagi saya untuk mengatakan itu. Membaca pada GSB sudah pasti bukan hanya membaca untuk mengetahui redaksi yang tertulis di dalam buku, seperti yang biasa kita praktikkan sendiri, namun berusaha lebih jauh untuk masuk lewat isi tulisan itu untuk menuju ke dalam materi-materi yang hanya bisa kita dapatkan dari proses pergumulan pikiran satu dengan pikiran lainnya. Di sini, kita bukan saja membaca dan memahami setelah itu, namun juga seperti dituntun dengan ilmu beretorika yang baik dan benar, sehingga apa yang kita sampaikan pun dapat dipahami oleh orang lain.

Betapa penting membaca. Sudah sekian banyak slogan untuk menyadarkan akan penting membaca? Tapi bukankah tidak begitu penting jika itu sekedar slogan semata? Maka dapat dikatakan bahwa GSB bukan saja menawarkan sebuah lempap, eh slogan maksudnya. Ia ingin maju lebih jauh ke alam bawah sadar untuk menyadarkan, bahwa membaca untuk mendapatkan itu memang sangat penting. Itu hanya bisa didapatkan dengan membaca. "Dengan membaca untuk mendapatkan, kita seperti disadarkan, bahwa semakin 'Si Lempap' itu tahu, maka semakin membuat 'Si Lempap' itu penasaran. Semakin 'Si Lempap' penasaran, maka tumbuhlah rasa ingin mengetahui segala sesuatu itu dalam diri 'Lempap'. Di sinilah, ilmu seperti tersedot ke dalam, menjadi rasa optimis bagi kehidupan. Ini 'lempap" sekali" Kata presiden Lempap.

Eksplisitnya, GSB ingin memberitahukan kepada kita bahwa yang harus kita ketahui dan pelajari itu bukan saja ilmu yang sesuai jurusan kita di kampus, namun juga berbagai ilmu pengetahuan lain di luarnya. Dengan menyerap berbagai ilmu lainnya dan tidak memilah-milah untuk dipelajari, kita seperti telah membuka kran untuk dialiri ilmu kehidupan yang sempurna di muka bumi ini.

Syahdan, Lempap kecil mulai menyadari bahwa betapa pentingnya membaca, apalagi yang kita ragukan ketika wahyu yang diturunkan pertama pun juga adalah Iqra, yang berarti bacalah. Melalui tulisan sederhana ini, saya ingin mengajak untuk bersama-sama membangkitkan kesadaran membaca. Ya, membaca itu seperti membuka cakrawala kehidupan dan menyaksikan dunia lain; dunia pikiran dan renungan. Itu akan membuat kita menjadi mempesona dengan tutur kata yang nikmat bila dinikmati.

Di GSB, kami juga saling berbagi pengetahuan dan memahami satu sama lain. Saya mendapatkan pelbagai ilmu dari orang-orang lintas ilmu pengetahuan, yang tentunya ini tidak didapatkan di bangku perkuliahan. Suasana santai pada kesunyian malam sembari membahas buku Madilog memberikan kenikmatan tersendiri untuk menyerap dan berpikir. Awalnya saya menganggap agak berat untuk memahami Madilog ini, faktanya salah satu dari partisipan di GSB juga pernah mengungkapkan bahwa setelah membaca seperempat bacaan di buku itu, ia seperti enggan untuk membacanya lagi, karena bahasa-bahasa yang digunakan pada buku itu sulit untuk diperalamkan, sehingga dia gagal memahami dan memaknai isi yang dituliskan dalam buku tersebut. Tetapi dengan membaca bersama di Kelas Surah Buku (KSB), semua konteks permasalahan dalam buku Madilog ini akan menemui solusinya. Saling menyambung jembatan keledai kalau direlasikan dengan Madilog. Sehingga kita dapat menyimpulkan, memaknai, dan memahami apa yang ingin di sampaikan tokoh petinggi Partai Murba itu, tanpa perlu takut untuk sesat.

Kalimat "bukan pikiran yang menentukan pergaulan, melainkan pergaulan yang menentukan pikiran" seperti memberikan pengaruh besar untuk sementara ini kepada diri saya. Kalimat yang didapatkan di bab filsafat pada Madilog ini telah juga ikut membuka pikiran saya untuk menjalani proses mendapatkan pendidikan dan kehidupan di dunia ini.

Di ruang sederhana GSB ini, kita bergerak untuk mendengar, menyerap, dan menerima semua ilmu dan pengetahuan yang dibawa oleh teman-teman dari berbagai lintas jurusan, mulai dari mahasiswa S1 sampai S3. Di sini saya mulai mengenali penulis dan aktivis di bidang ilmu satu persatu, sambil berjibaku tertawa bersama dan saling berbagi ilmu pengetahuan.

Tulisan ini saya tulis setelah pertemuan di KSB yang ke-26, setelah saya semakin menyadari bahwa banyak Sistem Kredit Studi (SKS) yang didapatkan secara cuma-cuma lewat GSB ini. Melihat yang sudah pintar namun masih mau ke ruang sederhana di KSB ini untuk belajar bersama tentu menjadi pukulan berat bagi saya untuk bermalas-malasan. Semakin ke sini, saya semakin menyadari bahwa ada banyak ilmu yang menghinggapi kita dari waktu kewaktu, tapi dasar kita aja yang sok jual mahal, mengabaikan semua itu dengan sinis, padahal tujuan kita ke sini adalah ingin mendapatkan itu.

Saat ini saya semakin tergerak untuk memperbanyak literasi, agar dapat nyambung saat ingin berdialektika dengan semua partisipan yang hadir. Sehingga mahasiswa baru di kota pelajar seperti saya ini akan tahu bagaimana nikmatnya dapat berinteraksi. Paling tidak, literasi itu dapat memberikan sumbangsih antithesis pemikiran pada saat berdiskusi dengan para magister dan doctor-doktor yang telah berada pada level atas karena tempo itu.

Menulis pada kesempatan ini sebenarnya tidak lebih dari mencuri start untuk mengungkapkan isi pikiran lewat kata-kata tertulis, yang sebenarnya masuk dalam Kelas Menulis Bersama (KMB) pada kesempatan yang akan dijadwalkan berikutnya, setelah melewati pertemuan demi pertemuan di KSB. Sesudah membaca dan memahami pelbagai literasi, maka kita memang dituntut juga untuk menulis di GSB ini. Kata Pramoedya Ananta Toer: menulis itu bekerja untuk keabadian. Dengan menulis, maka seseorang akan terus ada sekalipun jasadnya sudah dipendam tanah. Seseorang yang rajin menulis maka hidupnya akan abadi, tak lekang di gerus zaman. Ia senantiasa hidup berkat karya-karyanya. Keabadiannya terletak pada karya-karya tulisannya yang dibaca banyak orang, yang pada akhirnya mengalirkan pahala kebaikan bagi si empunya tulisan.

Tentang pentingnya menulis memang sering saya saksikan ketika menonton film-film Hollywood era perang dunia kedua. Pada film-film tersebut memiliki premis minor memberitahukan pentingnya menulis, misalkan di film Downfall, sebuah film perang yang bercerita tentang hari-hari terakhir Adolf Hitler, seorang diktator Nazi Jerman, di F├╝hrerbunker pada tahun 1945. Langsung bisa dibuktikan pada scene pertama opening film yang memvisualisasikan Hitler yang diperankan oleh Bruno Ganz. Di sana ia sedang mencari seorang asisten pribadi untuk mendengar dan mencatat setiap apa yang dikatakan oleh Hitler. Moment itu seakan menunjukkan pada kita betapa pentingnya menulis, karena dengan menulis, kita akan dapat mengikat imajinasi dan menjadikannya data yang otentik sebagai bukti suatu peristiwa sejarah.

Terakhir saya ingin mengatakan juga bahwa di KSB kita ingin mendapat kecerdasan linguistik, kecerdasan dalam mengolah kata atau kemampuan untuk menggunakan kata-kata tersebut secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Kecerdasan ini mencakup kepekaan terhadap arti kata, urutan kata, suara, ritme dan intonasi dari kata yang di ucapkan. Termasuk kemampuan untuk mengerti kekuatan kata dalam mengubah kondisi pikiran dan menyampaikan informasi.

Ruang di GSB tentu semakin penting bagi kita yang sedang berada di kota pelajar, Yogyakarta ini. Saya terharu ketika teman-teman saya di Aceh juga mengharapkan ruang berbagi ilmu sambil bersantai semacam ini ada di sana. Mereka seakan jenuh dengan kegiatan mereka setiap hari yang kebanyakan pulang kuliah ngerjain tugas, lalu nongkrong di warung kopi. Kegiatan seperti itu hampir berlaku saban hari. Ruang-ruang diskusi terarah yang santai tentu sangat mereka butuhkan. Bagi mereka, itu akan sedikit mengobati rasa khawatir mereka pada kebodohan.

Gerakan Surah Buku (GSB) sendiri adalah sebuah gerakan kesadaran untuk melawan kebodohan dan kemalasan bersama-sama. Gerakan gotong royong dalam belajar ini lahir dari sedikit kesadaran yang digerakkan bersama-sama, dengan konsistensi dan komitmen yang harus terus dirawat. Proses adalah kunci bagi Gerakan ini.***

.................................................
Penulis adalah Pengurus Harian Gerakan Surah Buku (GSB) 2017. Mahasiswa Televisi dan Film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Gerakan Surah Buku, Bukan Sekedar Slogan Pentingnya Membaca
Gerakan Surah Buku, Bukan Sekedar Slogan Pentingnya Membaca
https://2.bp.blogspot.com/-dZ5jEnu06bk/WM5ZhYvlRkI/AAAAAAAACdo/y2GYeJOMaMApKdHpuakdbCphn7aO-i1yACEw/s640/DSC_0140.JPG
https://2.bp.blogspot.com/-dZ5jEnu06bk/WM5ZhYvlRkI/AAAAAAAACdo/y2GYeJOMaMApKdHpuakdbCphn7aO-i1yACEw/s72-c/DSC_0140.JPG
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2017/03/gerakan-surah-buku-bukan-sekedar-slogan.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2017/03/gerakan-surah-buku-bukan-sekedar-slogan.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago