Archive Pages Design$type=blogging

News

Menjaring Mahasiswa ISBI Aceh, Menemukan Seni di Nagan Raya

Oleh: Dedy Kalee Tulisan ini adalah bagian dari cacatan tentang perjalanan kami dalam menjaring mahasiswa baru untuk Institut Sen...


Oleh: Dedy Kalee

Tulisan ini adalah bagian dari cacatan tentang perjalanan kami dalam menjaring mahasiswa baru untuk Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Tahun Ajaran 2017/2018. Saya akan menceritakan tentang satu sekolah yang kami pernah singgahi, walaupun sebenarnya tempat ini tidaklah termasuk dalam catatan list penjaringan untuk dikunjungi. Cerita ini bermula ketika kami dalam perjalanan menuju Kota Teuku Umar, dari arah Aceh Barat Daya. Melewati jalan itu, sebuah penunjuk arah seakan menarik mundur kami. Terbaca jelas di mata kami tentang adanya satu sekolah, SMAN 6 Darul Makmur namanya, yang disepanjang jalannya dikelilingi oleh kebun sawit serta rumah penduduk.

Langkah kami berhenti di sana. Dari luar pagar yang seadanya, mata kami menatap beberapa siswa yang tampak sedang bersenda gurau mengisi waktu istirahatnya. Kedatangan kami ke sana disambut baik oleh seorang guru piket. Setelah melabuhkan salam sapa, sebenarnya kami ingin meminta izin untuk menemui kepala sekolah, berharap bisa memberikan informasi seputar kampus ISBI Aceh di sekolah itu. Akan tetapi terlalu rugi untuk melewatkan perbincangan dengan guru yang mengakunya sedang piket ini. Toh sedikitnya dia bisa memberi informasi yang dibutuhkan.

Pertanyaan kami kepadanya tidaklah terbilang muluk, menyasar inti yang ingin didapatkan, yaitu tentang seni. "Adakah guru yang mengajar seni budaya di sini pak?" Tanya saya. "Kalau khusus guru seni budaya di sini gak ada, tapi kalau guru yang biasa mengajar pelajaran seni budaya, ada. Sebentar coba saya telpon" sautnya. "Gurunya sedang keluar, ini sudah saya suruh kemari" lanjut guru piket tersebut.

Sambil menunggu guru seni budayanya datang, saya pun mencoba bertanya lebih lanjut. “bapak kepala sekolahnya ada pak?” Tanya saya. "Kebetulan di sekolah ini saya kepala sekolahnya" jawab guru piket tersebut. Kami pun tertawa, karena tidak menyangka bahwa guru tersebut adalah Kepala Sekolah dari sekolah tersebut. Ini agak gura.

Tak lama kemudian datanglah guru yang telah dihubungi oleh orang yang sudah mengaku Kepala Sekolah tersebut. Pak zubir yang mewakili kami menjelaskan panjang lebar maksud dari singgahnya kami ke sana. Terlihat guru-guru yang ada di sana sangat tertarik setelah mendengar tentang kampus seni. Dengan spontan, saya pun mulai bertanya kembali, sok cerdas seperti siswa yang ingin dapat ranking satu. “Buk, ada gak contoh karya siswa atau pun siswi yang pernah di buat?“ Tanya saya. "Ada, tunggu ya saya ambilkan kunci dulu. Karyanya ada di ruang sebelah sana" Jawabnya. "Bereh" kata saya, dalam hati.

Kemudian guru tersebut pun membukakan pintu kamar penyimpanan karya-karya siswa dan siswi itu. Terlihatlah ratusan benda-benda seni di dalam ruangan itu. "Maaf ya, ruangnya berserakan" kata guru tersebut. Melihat karya-karya sebanyak itu, kami kagum bukan main, tidak mengira akan melihat hal semacam ini di sekolah yang nyatanya tidak menjadi target operasi. Penuhnya karya di dalam ruangan itu membuat kami terpaksa harus menikmatinya dari arah pintu sambil berusaha mendokumentasikannya.

Satu hal yang membuat kami salut, bahwa yang sebenarnya mengajarkan siswa dan siswi membuat benda-benda seni tersebut bukanlah guru Mata Pelajaran Kesenian, akan tetapi dia adalah guru Mata Pelajaran Agama. Rasa kagum dan bahagia yang berbuah senyum manisan bagi kami tentunya. Dalam hati saya bertanya; "di sekolah yang terpencil begini, ada juga yang begini ya?".

Sungguh, persinggahan kami ke sana menjadi terasa ajaib, karena awalnya mobil yang di setir oleh pak Zubir ini memang tidak ingin berhenti dan sudah melewati tempat itu, namun dasar rejeki gak kemana, pohon tumbang juga tidak jauh-jauh. Saya yang meminta pak Zubir untuk balik arah dan singgah di sekolah ini merasa menjadi sakti. Ini mungkin feeling for art, or the colour of life. Kek gitu mungkin. Keren han?.he.

Ini adalah sebuah perjalanan yang juga sangat berkesan bagi kami, karena berhasil menginjakkan kaki di sekolah yang baru berumur 5 tahun, yang dengan keterbatasannya begitu produktif menghasilkan karya seni. Samar-samar memang terlihat, bahwa di pedalaman Nagan Raya ini, potensi demi potensi seperti ingin tersusun, lewat masyarakatnya yang multietnis, dengan daya bangun yang saling bahu membahu.***

Penulis adalah Dosen ISBI Aceh.


COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Menjaring Mahasiswa ISBI Aceh, Menemukan Seni di Nagan Raya
Menjaring Mahasiswa ISBI Aceh, Menemukan Seni di Nagan Raya
https://1.bp.blogspot.com/-qHCdrrz1Jfw/WNWh_w7o7EI/AAAAAAAACeg/2UwD9oQUaiEGPuPS17elXWGKGcUyWaO4ACLcB/s640/kkkk.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-qHCdrrz1Jfw/WNWh_w7o7EI/AAAAAAAACeg/2UwD9oQUaiEGPuPS17elXWGKGcUyWaO4ACLcB/s72-c/kkkk.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2017/03/menjaring-mahasiswa-isbi-aceh-menemukan.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2017/03/menjaring-mahasiswa-isbi-aceh-menemukan.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago