Archive Pages Design$type=blogging

News

Topeng-Topeng Kehidupan

Oleh Rahmad Hidayat "Kau tau, Mat? Topeng-topeng itu ada di mana-mana, di rumahku, Langgar, pasar, kampus, bahkan menyelinap ke mi...

Oleh Rahmad Hidayat

"Kau tau, Mat? Topeng-topeng itu ada di mana-mana, di rumahku, Langgar, pasar, kampus, bahkan menyelinap ke mimpiku." Aku sudah mendengar lelaki ceking ini merapal tentang topeng-topeng sejak pukul 5 sore tadi. Seakan mantra ampuh untuk mengsiasati kesedihan. "Lelaki malang," batinku. Dia tertawa. Sepertinya dia tau. Tapi mana mungkin ilmunya setingkat malaikat?

"Kau tidak perlu mengasihaniku, Rahmat. Aku hanya berandalan yang menghabiskan waktu dengan minuman."

"Ah siapa yang mengasihanimu? Aku berkata malang bukan berarti mengasihani. Anggap saja menghinamu," batinku lagi. 

Sebenarnya aku malas mendengarnya mengeluhkan kehidupan, dan memaki keadaan. Menjawab katanya dengan suara, sama saja mengajak lelaki sedang mabuk ini bertarung tinju. Tapi apalah teman jika tidak menemani. 

Langit sedikit mendung. Angin masih tetap menyerbu timur sejak awal Agustus ini. Sedangkan di ufuk barat, matahari semakin tenggelam diterkam mulut gunung Pulau Aceh. Yang seakan sela gunung itu mulut ular Sanca yang sedang melahap mangsa dengan perlahan.

Tetiba, awan memerah. Seperti bercak darah yang beterbangan. memerah, semerah mata, Dek Gam, yang kian merabun setelah menengak minuman yang disebutnya "airmata buah". Di atas bukit Blangkaram ini, dia sering menelponku datang menemuinya. Mungkin menemaninya lebih tepat. Dari atas bukit yang ditambang batunya ini pula 'kota Bunda' terlihat indah, senja selalu anggun, burung-burung besi beterbangan. Di sini, alam tak henti bernyanyi. Bintang bertaburan di kala malam. 

Mungkin karena temanku, Dek Gam, selalu menyuruhku datang dengan alasan mengada-gada, akan bunuh diri jika tidak. Sialnya, pemabuk ini teman yang paling setia. Dia yang tahan badan saat aku dipopor senjata saat lupa bawa KTP merah putih. Dia juga yang pernah urungkan marahku saat bergegas mengengam dahan kayu ketika mendengar skripsiku tidak mau disidangkan lebih cepat oleh seorang dosen senang berkata "pekok" pada mahasiswa. Dia teman yang menemani. Begitu pula aku padanya. 

Seketika tubuh berkemeja garis kotak-kotak merah itu menjatuhkan pantatnya ke batu sebelah tempat ku duduk. "Kata orang barat, air buah jemblang hasil fermentasi ini namanya 'wine', Rahmat," katanya, sambil mengancungkan botol hitam di tangan kanannya. Kemudian, Air setengah botolan itu menggeleguk ditenggaknya. 

"Dek Gam, kapan kau akan berhenti mencundangi diri seperti ini!?"

"Sampai topeng-topeng itu tidak mendatangiku lagi."

"Topeng yang mana maksudmu?"

Dia tertawa. 

"Topeng yang juga kau pakai."

"Topeng apa lagi, Dek Gam?"

Sambil menahan tubuhnya yang sempoyongan dengan botol, tangan kirinya menunjuk-nunjuk ke mukaku. 

"Itu maksudku..itu maksudku! Topeng teman yang kau pakai. Padahal, hatimu bertopeng musuh." 

Aku bangkit." Kurang ajar kau, Dek Gam. Kalau bukan karena ku anggap kau temanku, tidak sudiku menemani pemabuk sepertimu." Aku beranjak pergi. 

Dek Gam tertawa, sembari berkata dengan menggema, "Kau baru saja melepas topengmu. Kau temanku. Temani aku dengan benar-benar memarahi setiap kesalahanku, bukan malah membiarkan setiap kesalahanku. Kau temanku!, bukan airmata buah ini yang kuracik sebagai teman. Tidak juga botolnya yang genggam setiap waktu . Tidak mabuknya! Datanglah tanpa m kuracik. Berkunjunglah tanpa kuminta. Kau temanku!" kemudian suaranya hilang. Langit menghitam. Aku terus beranjak. Mendengar bunyi dentuman, langkahku terhenti. Bibirku bergetar. Airmata ku jatuh. Temanku mati dibunuh sepi. ***

Cerita fiksi ini terinspirasi dari kisah nyata tentang seorang teman yang kini terdiam dalam kesunyiannya sendiri. Sebagai teman, saya merasa tidak pernah benar-benar menemaninya melewati pertanyaan-pertanyaan berat yang telah mengacaukan pikirannya.  Pada akhirnya, kita terlalu sibuk dengan diri kita masing-masing hingga lupa pada apa yang berharga sebelum hal itu hilang. Teman yang baik. Semoga Tuhan menyayanginya, seperti dia menyayangi semua mahluk hidup di dunia ini.

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Topeng-Topeng Kehidupan
Topeng-Topeng Kehidupan
https://4.bp.blogspot.com/-QEgF_bppjoA/WMRMTSvp3TI/AAAAAAAACdU/2JlJTMd-iKw8HFfCFLPpXLo7dQfBCS7JwCLcB/s640/16387040_10206634835228637_7772325722398178420_n.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-QEgF_bppjoA/WMRMTSvp3TI/AAAAAAAACdU/2JlJTMd-iKw8HFfCFLPpXLo7dQfBCS7JwCLcB/s72-c/16387040_10206634835228637_7772325722398178420_n.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2017/03/topeng-topeng-kehidupan.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2017/03/topeng-topeng-kehidupan.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago