Archive Pages Design$type=blogging

News

Membaca Pameran 5 Tahun Akar Imaji

Oleh Idrus bin Harun Akar Imaji adalah perkumpulan perupa dengan energi penciptaan yang selalu berlimpah. Beberapa kegiatan seni ru...


Oleh Idrus bin Harun

Akar Imaji adalah perkumpulan perupa dengan energi penciptaan yang selalu berlimpah. Beberapa kegiatan seni rupa yang pernah dibikin, baik itu melibatkan lintas komunitas perupa atau kegiatan internal, selalu meninggalkan kesan yang mendalam. Saya beberapa kali ikut sebagai peserta pada acara mereka, seperti acara rutin meet and sketch dan seumeucet

Meet and sketch adalah acara rutin senang-senang dengan  menggambar bersama. Biasanya diadakan di warung kopi atau tempat publik yang menyenangkan. Menyenangkan di sini adalah terbebas dari soal pengurusan izin tempat acara yang amat meurangkeuem, apalagi berurusan dengan jajaran pemerintah, atau, boleh juga dibilang menyenangkan karena tidak menjadikan kerja-kerja seni rupa sebagai jihad yang suci lagi tak ternoda.

Sementara Seumeucet (saya lebih akrab bila disebut Ceumeucet) adalah acara tahunan yang tahun pertama diadakan di pantai Lhok Nga, melibatkan pemural Banda Aceh hingga Sumatera Utara. Seumeucet menghasilkan hampir seratusan meter dinding yang sudah dimural dengan pendekatan teknik dan tema beragam. Dari topik urbanisme, kampanye menjaga laut, grafiti dekoratif hingga mural fantasi. semua divisualisasi dengan gembira oleh perupa. Misalnya Iswadi Basri. Perupa Aceh ini mengetengahkan tentang legenda Amat Ramanyang yang divisualisasi secara komikal dan bernada humor. Firza atau lebih dikenal Zentsic, melalui mural berobjek kepala manusia dengan juntaian kaki gurita seluruh wajah seperti di film Pirates of Carribean. 

Dalam Seumeuset, karena perupa dimerdekakan mengekspresikan apa pun, semua perupa lebur dalam suasana yang didukung angin laut yang sepoi dan debur ombak tak henti, nyaris seperti berada dalam bait-bait puisi tentang pariwisata yang ditulis oleh penyair murni. 

14 April 2017, pameran "dkk" atau dan kawan-kawan digelar di lantai dua Rocket Rawk. Sebuah distro dan warung tempat nongkrong anak muda Banda Aceh. Ruang pameran di lantai dua yang sempit dan panas, membuat ruang pamer harus diantri oleh penonton untuk mengapresiasi 5 karya perupa.

5 karya yang dihadirkan dalam pameran ini dimulai dari karya photo, mural, grafiti, drawing dan video art. Arnis Muhammad, salah seorang seniman yang memural satu kamar penuh berukuran 3X3 meter dengan corak dekoratif. Karya Arnis berjudul candu. Arnis Muhammad masih setia dengan objek visual kepala ikan. Arnis yang dekoratif itu, tak pernah bosan dengan objek yang sama di tiap karyanya. Bahkan dalam tiap karyanya, segaris pun tak berubah objek-objek divisualisasi. Saya tidak tahu dorongan yang membuat Arnis bertahan dengan ungkapan yang sama di tiap karyanya. Saya teringat pada grafiti yang bertebaran di tiap sudut Banda Aceh berbentuk bunga matahari dengan ukuran berbeda. Objek Penanda identitas rupa yang direpetisi terus menerus itu sungguh mekanis kerjanya. Seperti peserta didik disuguhi hafalan- hafalan untuk sekedar menjawab soal saat ujian. 

Karya lain yang patut disimak adalah video animasi Nurhuda. Animasi berdurasi pendek itu menceritakan tentang larangan pihak berwenang atas coretan dinding di ruang publik perkotaan. Huda Cukup menghibur melalui karya animasi ini karena boneka ciptaannya yang jadi aktor ikut dipajang di depan layar tivi dalam keadaan tak "bernyawa", seolah mewakili seniman jalanan yang sedang "tiarap" dari membombardir dinding. Huda adalah seniman grafiti yang karya-karyanya cukup kuat mengangkat topik yang ditawarkan. Pria pendiam dan rajin ibadah ini berpotensi 'mengganggu' melalui karya-karyanya jika rajin mengolah persoalan sosial menjadi ungkapan dalam karyanya. 

Dua karya Fariz Albar dalam bentuk drawing berukuran A3 bercerita tentang persahabatan dua prajurit dalam perang. Mungkin Fariz akbar menyesuaikannya dengan tema pameran. Atau juga ada maksud lain tentang peperangan yang selalu menjadi tujuan akhir dari gerombolan serdadu. Dalam seremoni pembukaan, Fariz menjelaskan topik peperangan baginya menjadi nostalgia bagi generasi konflik Aceh satu dekade lalu. Sebagai generasi muda Aceh, Fariz sadar keberadaannya hari ini tak terlepas dari masa lalu. Konflik menjadi kenang-kenangan saat elit politik berupaya menimbunnya dengan politisasi segala lini.

Pameran dalam rangka 5 tahun Akar Imaji ini dikuratori oleh Ferry 'sangak' Gelluny. Sehingga menghasilkan satu sudut pandang bersama dalam menerjemahkan persahabatan. Saya jadi teringat film laskar pelangi ketika memasuki ruang pamer. Seakan seniman mewakilkan cita-cita dan kegundahan pada karya masing-masing. 

Pertemanan tak pernah seabadi kepentingan personal. Ada saja yang akan 'gok-gok' persahabatan kelak dengan alasan macam-macam. Akar Imaji yang sudah tumbuh 5 tahun tergolong berhasil merawat cita-cita seni rupa internal. Usia pertemanan antar personal terjalin cukup rekat. Ini terbukti dengan rutinitas even yang mereka gelar saban tahun. 

Di Banda Aceh cukup banyak komunitas senirupa yang sudah terlelap dalam tidur panjang. Jaroe (Jaringan Rupa Aneuk Nanggroe), Apotek Wareuna, Komsera (komunitas Senirupa Aceh) dan Sanggar 55. Tiga dari empat komunitas ini-Jaroe, Sanggar 55 dan Komsera-pernah bikin pameran bersama dengan  energi awal personelnya yang luar biasa. Namun kemudian larut dan menghilang bersama kesibukan para pimpinan dan anggotanya hingga, publik seni rupa bertanya-tanya siapa yang meninabobokan komunitas-komunitas tersebut hingga lupa bangun. 

Kesibukan di sini masih melulu soal pekerjaan memenuhi nafkah. Sampai-sampai terlihat seakan-akan untuk membentuk komunitas yang rutin bikin pameran hanya untuk kalangan perupa muda yang belum banyak dituntut menafkahi keluarga. Rasanya kita butuh banyak sekali pemuda yang merdeka dari segala tuntutan itu. Lalu, setelah mereka masuk "perangkap" tuntutan itu, tinggal dipensiunkan untuk menjalani hidup normal: cari uang, cari uang dan cari uang serta berakhir di sana. 

Saya percaya, Akar Imaji masih terus bergumul memanjangkan nafas gerakannya. Mumpung masih muda dan belum normatif menjalani hidup dengan segenap kemerdekaan yang dimiliki, tinggal menunggu waktu. Terus bergerak atau ditinggalkan oleh personelnya karena dituntut ini-itu.


Penulis adalah Jamaah Komunitas Kanot bu. 

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Membaca Pameran 5 Tahun Akar Imaji
Membaca Pameran 5 Tahun Akar Imaji
https://2.bp.blogspot.com/-JnuflBy5gfs/WQDnpwZPfyI/AAAAAAAACps/sB6t0POuY_woEOVi1b2qWlSx_mCglyFOgCLcB/s640/IMG_20170414_173227.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-JnuflBy5gfs/WQDnpwZPfyI/AAAAAAAACps/sB6t0POuY_woEOVi1b2qWlSx_mCglyFOgCLcB/s72-c/IMG_20170414_173227.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2017/04/membaca-pameran-5-tahun-akar-imaji.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2017/04/membaca-pameran-5-tahun-akar-imaji.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago