Archive Pages Design$type=blogging

News

Membidik Pemotret

Oleh Fuadi S Keulayu* Sebagai seorang penampil, saya akan bercerita sedikit pengalaman dan sejumput kebahagiaan yang tak se...




Oleh Fuadi S Keulayu*

Sebagai seorang penampil, saya akan bercerita sedikit pengalaman dan sejumput kebahagiaan yang tak seberapa perlu. Berkenaan dengan penampilan saya yang kurang maksimal, ketika panggung menjadi tanggung jawab utuh untuk dikuasai. Perlu juga saya beri tahu, bermula ketakmaksimalan itu, kadang datang dari rasa lapar (ikee kadang teungeh deuk kuh, ka ipakat tampil). Selain tidak ada persiapan yang matang, akibat ketakmaksimalan yang lainnya adalah mendapat  tawaran main dengan bayaran”Terimakasih” (Pokok jih asai acara amal, ka keu noe bak kee. Boh ku ih!). Akan tetapi, yang ingin saya cakap di sini ketika kekurangan itu justru “ter-bajoe-kan” oleh bidikan seorang fotografer. Baik yang profesional atau amatiran yang mungkin sedang”Beruntung”.

Tahun 2015 lalu ketika di Jakarta, seorang seniman tutur Agus Pmtoh meminta saya tampil pada acara Japan Foundation di jalan Sudirman, untuk membacakan cerita rakyat Jepang yang berjudul “inamura no hi”, dengan gaya hikayat seperti yang sering saya tampilkan. Saya tidak memiliki waktu untuk latihan. Singkat cerita, selesai tampil saya merasa sangat tidak tentram. Bayaran tinggi, dan merasa tidak sebanding dengan apa yang saya tampilkan. Walau banyak dari penonton Jepang, khusyuk menyimak gaya tuturan saya bercerita. Mungkin belum pernah mereka lihat sebelumnya. Esok hari ketika membuka Facebook, beberapa foto penampilan saya kemarin tertempel di beranda begitu luar biasa. Kekurangan kemarin seakan tersempurnakan dengan beberapa foto tersebut. Tentu saya mengambil foto itu, dan menyimpannya sebagai kenang-kenangan.

Beranjak dari sana, saya rasa penting untuk membahas tentang fotografer. Bukan mereka yang punya kamera besar dan bergabung di komunitas foto saja. Namun semua yang punya hobi motret, meski pakai kamera HP. Betapa tidak, kadang seorang pemotret amatiran mampu menghasilkan gambar yang lebih dalam, ketika membekukan setiap gerakan nyata, dari pada fotografer ternama.

Tentang Seorang Fotografer, saya kira tak ubahnya seperti tukang “Fotokopi”, jika hanya mengandalkan keahlian memotret dan tak mampu menjelaskan gambar yang ia potret melebihi apa yang tertangkap dengan kameranya. Sama dengan beberapa penyair tua yang menulis puisi di kota ini. mencoba mengatur kata-kata sedemikian indah dengan saduran bahasa yang ditinggi-tinggikan, namun”watee ta tanyong peu maksud meublek-blek aneuk mata. Jih mumang, awak tanyeng peu lom!”.

Seorang fotografer, setidaknya menemukan karakter atau membidik diri sendiri sebelum menentukan karakter pada lensa kamera. Menurut saya, itu jauh lebih penting di bandingkan dengan kamera mahal. “Meuhan”, seorang fotografer hanya mampu membidik pemandangan indah saja. Bahkan saat bencana terjadi, mereka kerap memotret keindahan. Tak bisa menjadi alat ganti untuk menyampaikan sesuatu.

Seorang Fotografer setidaknya tahu cara membuka ruang yang lebih luas pada setiap karyanya. Dengan menulis sisi lain yang tersembunyi di balik foto tersebut. Sehingga ketika seseorang hendak melihat hasil karya si pemotret, ikut merasakan pula suasana seperti si pemotret rasakan. Bukan hanya menatap selembar foto. Penglihatan seorang fotografer tentu harus lebih tajam  dan dalam dari kamera yang ia gunakan untuk membidik sebuah sasaran. Dengan Melahirkan kepekaan yang sudah tersah dalam dirinya. Jika tidak, semua hanya pantas di sebut tukang potret. Sama seperti tukang potret proyek jembatan yang di lakukan orang PU. Sebuah foto tak perlu lagi penjelasan, tak perlu juga menghidupkan sudut estetis.

Sampai di sini saya teringat sebuah quote Pram. Yang intinya adalah mencintai sastra dalam segala pekerjaan. Untuk menumbuhkan rasa cinta itu, tentu harus membaca. Untuk penyegaran boleh mendengarkan musik yang mampu memberikan suplemen pada jiwa. Semua itu dapat menjadi obat kekakuan dalam segala karya (han kapateh, bek!). Kalau tidak semua yang kita lakukan dari profesi apa saja yang digeluti, hanya merupakan gaya hidup semata. Tak mampu mengasah kedalaman estetika, juga tak akan ada rangsangan pada jiwa sehingga melakukan sesuatu dengan peka.

*Penulis adalah pembaca hikayat, bergiat di Jamaah Komunitas Kanot Bu.

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Membidik Pemotret
Membidik Pemotret
https://3.bp.blogspot.com/-5AVR1UV_vQg/WPB76qg8kiI/AAAAAAAACks/hfBfrYGW808cURbD_3GwHh0xHmgDyCs7QCLcB/s640/17505227_1516315968418568_7212063964893104851_o.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-5AVR1UV_vQg/WPB76qg8kiI/AAAAAAAACks/hfBfrYGW808cURbD_3GwHh0xHmgDyCs7QCLcB/s72-c/17505227_1516315968418568_7212063964893104851_o.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2017/04/membidik-pemotret.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2017/04/membidik-pemotret.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago