Archive Pages Design$type=blogging

News

Cerita Bocah Rapai Plok dari Pidie

(Oleh: Hendri Kemul)* Mereka anak-anak lucu yang suka canda tawa dan bermain ke sana ke mari. Kemarin aku bersama kawan-kawan komun...

(Oleh: Hendri Kemul)*

Mereka anak-anak lucu yang suka canda tawa dan bermain ke sana ke mari. Kemarin aku bersama kawan-kawan komunitas Ide Geutanyoe mengunjungi bocah-bocah pemain rapai plok (kaleng bekas cat tembok), sebelumnya salah satu dari kawan komunitas telah memproduksi film dokumenter tentang bocah-bocah kreatif itu. Film itu bercerita tentang seorang anak bernama Munir bersama kawan-kawannya yang senang dan/atau hobi bermain rapai plok. Rapai plok sendiri telah menjadi sebuah produk budaya yang telah lama dipraktekkan masyarakat sekitar dan masih ada sampai sekarang.

Sesampai di sana, kami menyalami satu persatu ibu-ibu di desa Pulo Tukok itu. Ibu-ibu sedang duduk berkumpul di depan rumah ibu lainnya. Kami disambut dengan keramah tamahan dan senyuman, respon itu membuat kami senang. 

“Awaknyan ban manteng dijak meen, bunoe di sinoe, pajoh apam na khanduri di kuburan bunoe, man nyoe hana ta tuhoe hoe dijak, rame-rame satnyoe, man nyoe hom, siat ka gadeuh awaknyan”. Ujar Ayah Munir, jumat, 28 Juli 2017. 

Kami pun duduk di atas rangkang di bawah rumah Aceh, perbincangan yang sedikit panjang berlangsung dengan Ayah Munir yang juga Tengku imum di desa itu. Ia sedikit bercerita tentang dirinya dan kehidupan masyarakat sekitar, selebihnya menceritakan Munir yang telah bermain rapai pada umur 5 tahun. 

Ayah Munir menceritakan awal mula Munir bisa bermain karena dia sering menonton pemuda di kampungnya bermain rapai, sehingga hatinya tergerak untuk bermain rapai juga. Ungkap Mantan Syech Rapai itu. Meskipun Munir dan kawan-kawan tidak mempunyai rapai sendiri, namun mereka masih bisa bersyair dan menari sembari peh peh dalam bahasa Indonesia memukul-mukul rapai plok. 

Lima belas menit Ba’da ashar, gerombolan bocah-bocah yang ditunggu-tunggu pun pulang ke rumah Munir. Mereka langsung menuju kamar mandi rumah munir untuk mencuci tangan dan kaki karena barusan melewati empang-empang. Setelah itu mereka menyalami kami satu persatu. Aku tidak lagi ingin mewawancarai lebih jauh tentang Munir dan kawan-kawan, akibat telah banyak tahu dari sutradara film dokumenter Bocah Rapai Plok dan cerita dari Ayahnya tadi. 

Aku mencoba bercakap-cakap dengan mereka, lalu mengenalkan diriku serta bercanda tawa bersama mereka. Aku suka dengan tingkah ceplas ceplos dan kejujuran bocah-bocah yang berumur rata-rata 10 sampai dengan 13 tahun itu. Mereka tertawa lepas tanpa beban sedikit pun, aku terasa ingin kembali seumuran dengan mereka.

Hari pun semakin sore, aku meminta melalui Khalid Muttaqin, Penulis blog pada web www.beulangeungtanoh.blogspot.co.id kepada Munir dan kawan-kawan untuk memainkan tarian rapai plok yang selama ini hanya kusaksikan lewat media audiovisual. Lalu Bocah-bocah aktif dan kreatif itu mencari plok-plok cat di rumah Bang Thalib. Bang Thalib merupakan orang yang melatih mereka tentang tari rapai tersebut. 

Beberapa menit kemudian, aku mengetahui bahwa rapai-rapai plok telah banyak yang hilang, ada yang digunakan untuk menimba air di sumur dan ada pula yang dipakai sebagai pot bunga. Di benak hati sempat kecewa, namun akhirnya terkumpul empat plok cat. 

“Tak apalah yang penting aku bisa menyaksikan tari rapai plok”. Terbesit dibenakku sambil berdiri mempersiapkan Hp untuk merekam penampilan dan/atau peristiwa yang jarang kusaksikan di depan mataku.

Munir dengan suara khasnya melantunkan syair-syair berisi nasehat-nasehat dan faedah-faedah keagamaan. Juga bercerita tentang kebersamaan dan keakraban serta pesan-pesan syariat islam. Aku kagum melihat penampilan bocah-bocah itu, mereka dengan semangatnya berdakwah melalui tari rapai plok itu. Aku bangga menjadi orang Aceh dengan pelbagai cerita dan keanekaragaman budayanya. 

Tari rapai plok berakhir, rasa keingintahuan dan penasaran untuk bertemu dan menyaksikan langsung calon seniman-seniman aceh masa depan telah terpenuhi. Semoga produk kebudayaan yang telah lahir dan mantap itu tetap terjaga dan lestari di Pidie sebagai pemerkuat karakteristik identitas Aceh.

*Hendri Kemul adalah Ketua Komunitas Ide Geutanyoe, mahasiswa televisi dan film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Cerita Bocah Rapai Plok dari Pidie
Cerita Bocah Rapai Plok dari Pidie
https://2.bp.blogspot.com/-nIV_ZC54VvE/WXxK_cdB7sI/AAAAAAAAC4M/IzU5iziLSh4S5ae7U9nULHA5HJ8OLmqOQCLcBGAs/s640/20495846_1597638303633173_1864348393_o.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-nIV_ZC54VvE/WXxK_cdB7sI/AAAAAAAAC4M/IzU5iziLSh4S5ae7U9nULHA5HJ8OLmqOQCLcBGAs/s72-c/20495846_1597638303633173_1864348393_o.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2017/07/cerita-bocah-rapai-plok-dari-pidie.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2017/07/cerita-bocah-rapai-plok-dari-pidie.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago