Archive Pages Design$type=blogging

News

Jam Tangan

Oleh: Yi Lawe*  "Cerdas ketika memilih, kritis ketika mengawal" Kata kekasihku padaku, padahal aku tidak ikut memilih. &q...


Oleh: Yi Lawe* 

"Cerdas ketika memilih, kritis ketika mengawal" Kata kekasihku padaku, padahal aku tidak ikut memilih. "Yap. I Know-lah. Kamu masih punya satu, sayang. Kritis ketika mengawal" Lanjutnya ketika menyadari aku tidak ikut dalam perhelatan kenduri demokrasi tahun ini.

Pada suatu sore yang agak mendung dengan gerimisnya yang lebih kecil dari ujung benang mulai turun. Kala itu kami duduk di atas besi pengikat kapal (apa namanya di kampungmu, Sob?), di sebuah dermaga tua. Di belakang jejeran ruko, di samping taman.

"Sayang. Kau tahu kenapa di kota mungil ini salju tidak suka turun?" Dia bertanya kepadaku. Pandangannya lepas ke arah laut, di mana perahu nelayan berjalan pelan, seperti sedang menyeret sebuah kesedihan, tanpa semangat. Aih, sendu.

"Mungkin karena langit kita terlalu jauh" Jawabku sambil melemparkan kulit kacang, tak tentu arah. Ke arah laut, mungkin.

"Mmm. Bagaimana kalau..."
"Jangan bawa ke politik" Ujarku memotong. 
"Dan, kita suka dengan hal itu bukan?"
"Terserahlah"

Aih, gerimis, perahu nelayan, dermaga tua dan kulit kacang yang baru saja aku lemparkan. Lihatlah, sore yang seharusnya lebih mesra dengan gerimis dan rayuan-rayuan pohon cemara dengan derainya yang puitik, menjadi hambar sudah digerus bau-bau politik yang gelinya tanpa titik. Jangkrik!

"Haha. Jadi begini, sayang. Sebenarnya gerimis sore ini adalah salju yang mencair" Ia memulai pembicaraan yang sempat berhenti sejenak.

"Lalu?"

"Karena suhu politik kita sudah lebih panas dari pada suhu yang biasa, maka salju itu mencair di sana (sambil menunjuk langit) lalu menetes menjadi gerimis. Hahaha" Jawabnya sambil tertawa dengan nada yang sedikit dipaksakan. 

Dermaga tua itu biasa didatangi oleh beberapa kakek-kakek. Entahlah, yang jelas mereka membawa pancing, walaupun ketika  pulang nanti tetap membeli ikan di pasar lelang. Ini sebuah kebiasaan yang lucu, unik kurasa. Semoga tidak terjadi pada para nelayan itu. Aku tidak bisa membanyangkan bagaimana kacaunya maritim kita kalau nelayan sepulang melaut tapi harus membeli ikan untuk dibawa ke rumah.

Kekasihku, seorang penghayal yang akut. "Lihatlah, si tua yang memakai celana puntung itu. Yang memakai baju dengan brand crocodile berwarna bata kering itu” matanya menunjuk seorang pria tua dengan topi copet menutupi ubannya. “Dari sisiran rambutnya yang mulai jarang, uban-uban putih yang menonjol, kulit wajah seperti martabak” Ia berhenti sejenak. Lalu matanya dipejamkan sebelah, mata yang terbuka membidik si tua itu dari dalan bingkai jari. Lalu ia melanjutkan “Dalam terawanganku, si tua itu ke sini, ke dermaga ini, bukan untuk memacing ikan" Kekasihku, kekasihku. Harus aku maklumi.

"Lalu? Adakah dia seperti kita, datang ke sini untuk bermesraan?"
"Iya. Dia adalah perindu"
"Dari mana kau tahu?"
"Si tua itu, pada masanya adalah kita yang sekarang"

"Maksudmu, kekasihnya sudah mati?" Aku bertanya. Memang, dulu aku membaca dari buku jurnal perjalanan. Katanya, kota mungil ini seperti sebuah kemesraan yang mulai pudar. Lalu apa hubungannya dengan si tua dengan topi copet ini? Tidak ada! Sungguh, tidak ada hubungan apa-apa! 

"Iya. Dia sudah tidak memiliki isteri" Jawabnya. Hari semakin sore, benar lelaki tua itu masih belum mendapat satupun ikan tangkapan.

"Sungguh berat isi dada tua itu. Di samping tulang belulangnya yang rapuh dek karena rindu pada isterinya. Dadanya juga sesak, betapa tidak, ia adalah salah satu dari sekian orang-orang yang menanti ajal, tapi masih tetap merindukan kemakmuran dan kesejahteraan kota mungil ini" Lanjutnya. 

"Harus, maksudku, haruskah si tua merindukan janji-janji politikus itu? Aku rasa jargon tolol itu tidak perlu kau selip-selipkan di antara kerinduan mereka, kemesraan mereka" Aku mulai jengkel.

"Hehe. Tapi memang begitu kenyataanya”

***

Menjelang siang. Sekitar jam sembilan lebih. Setelah kemarin sore kami duduk di dermaga tua. Kini kami duduk di warung kopi. Di sekeliling kami ada beberapa pegawai dinas dengan segelas kopi, surat kabar dan sepiring kue di atas meja.

"Jam berapa, sayang?" Isteriku berteriak menanyakan jam padaku. Padahal cukup dengan berbisik saja aku sudah mendengar. 

"Ibuk, kenapa, Pak? Sakit? Puskesmas dekat." Kata salah satu dari mereka, dengan nada lembut, tulus. Sungguh, tiada maksud mengejek dari wajahnya. 

"Jam berapa sekarang, sayang?" Aih, sungguh memalukan. Suaranya semakin meninggi. Untunglah tidak sampai memukul-mukul meja. 

“Jam berapa, masih jam sembilan, ya?” Isteriku dengan nada khas sindiran emak-emak ketika melihat tetangga baru beli pemanggang baru. Aku hanya bisa menebar senyum pelik—aku katakan pelik karena ‘pahit’ sudah tidak mewakili. Sungguh ini seperti senyum getir masa konflik darurat militer dahulu—pada semua mata yang mengarah padaku dan isteriku. 
Aih, jika sudah begini, pasti orang-orang itu mengira isteriku mengidap penyakit yang bukan puskesmas tempat berobatnya. Semacam RSJ, begitulah baru cocok. Aduh. Aku hanya menutup muka, menutup malu. 

Sambil meminta maaf pada para pegawai pemerintah yang sungguh bijak sana—ngopi pada jam kerja—itu. Aku menarik lengan isteriku, sedikit menyeret. Aih, benar, aku benar-benar malu. Saking malunya, sampai kemalua... Aiis, sudahlah. Sangat tidak pantas aku sebutkan di sini.

“Sungguh! Memaaa...” belum habis aku berbicara dia sudah memotong. 
“Pelukaan. Hehe” Sambungnya sambil tertawa, sambil memelukku. Gile! “Gile mah bebas. Hehe”

Para pegawai dinas  itu masih lanjut dengan kopi, surat kabar dan kue bantal satu piring.  Saat itulah aku mulai negerti kata-kata isteriku semalam, ketika di rumah. “Besok kita ngopi. Kau akan melihat kebanyakan pejabat kita memakai jam tangan rusak”

Sepulang dari warung kopi itu. Aku menelpon temanku, Pae, namanya. Pae adalah seorang yang dicapkan di keningnya oleh seluruh orang-orsng kantor, sebagai orang penting. Dia duduk di mana kursinya seperti kursi pijat relaksasi, di salah satu kantor pemerintahan. Bagian apa, aku lupa. Pokonya mirip dengan posisi tukang anggar-menganggar begitulah. Atau enggak, tukang creet, creet (tanda tangan)

“Wak, besok kau masukkan anggaran jam tangan pejabat” Kata saya. 
“Kau jangan konyol!” Jawab dia. 
“Kemarin, jam sembilanan, aku duduk di warung kopi depan kantor. Kata isteri saya, orang-orang kantormu jam tangannya sudah pada rusak. Apa tidak baiknya diganti yang baru? Ini suara rakyat yang prihatin, lho.”

Lalu si teman menutup telpon. Tanpa sebab.

***

“Bang. Kita cerai, boleh?” Kata isteri saya tiba-tiba. Tiada badai, tiada tukang es cendol. Ada apa ini? Sungguh, jika ia hanya main-main. Aduh, permainan macam apa ini, kalaulah cerai pun menjadi permainan. Aih, saya panik betul, sampai tak tau membuat muka macam apa. Mau marah? Untuk apa? Kau taulah, saya punya isteri itu bagaimana.

Akhirnya, setelah sepuluh menit mengosok-gosok kepala, berharap ada tulisan yang keluar ‘maaf anda belum beruntung’. Dalam keadaan yang gundah gaulana bercampur lucu-lucu pedih, perih-perih riang. Entahlah. 

Saya katakanlah padanya, dengan suara yang amat lembut, lebih lembut dari sekujur tubuh ubur-ubur. Dengan gestur yang lebih apik, lebih mengena dari peranan dramawan. Dengan intosi yang lebih diperhitungkan dari pada matematika dan musik orkestra. 

“Sungguh, sayangku yang kucintai dengan seluruh jari kaki dan tanganku, tanganmu, tangan kucing-kucing kita dan ditambah dengan seluruh jumlah jari tangan sepuluh anggota arisan kue lebaran bersama Ibu Desa. Begini, sayangku yang kukuku selalu kau yang potongkan. Meski talak adalah haknya padaku. Taulonglah, tolonglah jangan hucapkan kata itu.” Kata saya. 

“Kau juga sudah ikut gila?! Lihat ini!”
“Alamak! Kok bisa begini, Dek?” Saya terkejut, angin yang semula sepoi ikut tersontak. Kaku. Anak-anak kucing yang tadinya kucing-kucingan seketika menjadi spesies kucing paling pendiam. Ombak-ombak seperti menahan hempasannya.

“Makanya bagus-bagus kau ngomong, Bang. Ini dunia sudah...” Belum habis isteri saya berbicara, tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Tek, tek... Teeek. Crrrreeek, suara pintu terbuka. 
“Heiheihei. Mantap juga usulanmu kemarin itu, Con” Pae menepuk bahu saya, lantas mengeluarkan dua kotak jam tangan seharga kehidupan normal selama dua puluh empat bulan. 

“Alamak! Kok diantar ke rumah!” Kata saya dalam hati.

“Kan, benar!” Kata isteri saya. “Punya kepala untuk tangan di lain badan. Itulah kalian. Tolollah kalian berdua” Sekarang isteri saya benar-benar murka. Segala yang sempat terhenti tadi bergerak tak karuan, seolah waktu itu hukum alam sedang dalam perbaikan teori. Kacau sekacau-kacaunya yang kurasa. Hari itu aku percaya adanya piring terbang, gelas terbang, sapu terbang, kursi terbang, semuanya terbang melayang menghantam kami berdua: aku dan Pae, iparku. 

Sambil melancarkan beberapa serangan fajar, dan jeritan-jaritan yang mengerikan. Aku dan Pae jelas sudah remuk dihantam segala benda yang ada di rumah. 

“Biarlah sama-sama kita masuk penjara... Khhh” Plaak, pot bunga di kepalaku.
“Biarlah masuk penjara” Dubb, tangkai sapu di badan Pae. 

“Maaasuuk penjara” Tiiing. Craang. Cruung. Duaar. Plak. Tummb.  “Para bajiangan. Koruptor seperti kalian inilah yang seharusnya dibakar massa. Bajingan! Babi!” Sambil mengacungkan parang. Aku dan Pae lari ke luar rumah.

Pae kulihat masih sempat mengeluarkan gawai, lalu merekam isteriku yang membawa parang sepaket dengan kalimat ancaman yang berhamburan dari mulutnya. Sambil terus berlari,  Pae kudengar menelpon seseorang “Sudah kukirim vidionya, olah judul, olah isu... Cepat!” Kata Pae pada seseorang di seberang sana. “Siap, Boss” Jawab orang itu.

***

“Aman. Saudara kandungku, isterimu. Sudah kuikat dengan banyak pasal; Penganiayaan, KDRT, Rencana Pembunuhan, lengkap. Bagi para mafia, dunia ini tentang jam tangan, bukan waktu. Hanya pada jam tangan detik-detik yang berisik bisa kita putar mundur. Hehe” Kata Pae pada saya. Haha. Namnya politik, bisa berubah seketika. Bumm! Kejutan! []

*Yi Lawe, lahir di Simpang Empat,  dekat sebuah kota kecil di mana mata hari tidak pernah meninggi (Kota Fajar). Masa kecilnya habis begitu saja di Desa Lawe Sawah. Sekarang ia sedang bertapa di salah satu rumah tua di Yogyakarta sambil mengutak-atik tugas akhir.

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Jam Tangan
Jam Tangan
https://3.bp.blogspot.com/-vMULyZyCQDE/Wy8SEjAkYlI/AAAAAAAADBk/1xh8GJPcqrcUV8UXreQoYePCrnzvxzppACLcBGAs/s320/IMG_20180624_004256.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-vMULyZyCQDE/Wy8SEjAkYlI/AAAAAAAADBk/1xh8GJPcqrcUV8UXreQoYePCrnzvxzppACLcBGAs/s72-c/IMG_20180624_004256.jpg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2018/06/jam-tangan.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2018/06/jam-tangan.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago