Archive Pages Design$type=blogging

News

Mudico Ergo Sum

Oleh: Yi Lawe*. Sekitar sebulan yang lalu. Di kontrakan. Tidak ada kerjaan. Jenuh. Untuk mengatasi kejenuhan yang semakin akut itu, l...


Oleh: Yi Lawe*.

Sekitar sebulan yang lalu. Di kontrakan. Tidak ada kerjaan. Jenuh. Untuk mengatasi kejenuhan yang semakin akut itu, lantas membuka lettop saya punya kawan, lalu mencari filem. Singkat cerita, saya memutar filem Everest. 

Kata saya punya kawan, itu filem diangkat dari kisah nyata. Filem yang berudasi lebih dua  jam itu menceritakan pengalaman para pendaki Everest. Dari filem itulah aku tahu, bahwa kedinginan yang akut bisa membuat berhalusinansi, sampai akhirnya tidak jarang berujung pada kematian.

Entahlah. Mungkin, pun begitu pula rindu. Aku masih sedikit setuju dengan tesis yang mengatakan, rindu adalah dingin yang meminta sebuah pelukan yang hangat. Aih, sebagai seorang perantau yang masih tahap amatir, saya merasakan gejala itu. Benar, bahwa rindu adalah dingin. Kau tidak percaya? Kemari kuberitahu contoh-contoh yang lain.

Sebutlah malam, kau tahu kan, malam itu kerap dirasuki hawa dingin. Lalu tidakkah selama ini kau berfikir, seorang perindu lebih memuncak kerinduannya ketika malam tiba? Aku sudah membaca beberapa prosa, antologi rindu, amat jaranglah rindu itu berlatar siang yang panas, di tengah kemacetan. Hal itu bukan berarti tidak ada. Namun, jika sungguh kau telah merasakan rindumu memuncak di tengah kemacetan, di sergapan asap tebal yang hitam maka aku membaiatmu sebagai perindu yang paling radikal dan akut.

***

Lusa—menurut perhitungan Muhammadiyah—sudah lebaran. Artinya—jika saya tidak dikirimi tiket pulang—sudah dua kali Idul Fitri saya di rantau orang, singkatnya saya tidak mudik. Kukabarkan padamu para pembaca yang budiman, sungguh mendengar takbir di hari raya itu seperti mendengar kerinduan yang tak terkira, sampai tak cukup bahasa untuk menarasikannya.

Kau perlu tahu, gema takbir mampu mengaktifkan imajinasimu, meretas batas dan melipat jarakmu dengan sosok yang kau rindukan. Semakin dalam penghayatanmu dalam gema dan makna takbir itu, semakin kau dekat dengan Sang pencipta rindu, lalu kau diantarkan-Nya ke depan yang surga di bawah telapak kakinya; Ibu.

Kau diantarkan di depan muka rumah, lalu dengan rasa rindu yang memuncak, kakimu tidak lagi banyak berkompromi, tanpa kau sadari kau berlari mengejar Ibumu, walaupun itu hanya imajinasi, dengan kasih-Nya dibuatkannya untukmu imajinasi itu seperti sebuah kenyataan.
Kau diberi tatapan yang tak biasa, lebih dalam dari hatimu. Kau diberi pelukan, lebih hangat dari ruhmu. Kau diberi kecupan yang berisi kata-kata yang entah bagaimana kau mengatakan pada orang-orang. Itulah do’amu dalam diam, yang sampai tak bisa mulutmu mengucapkan, kau berdo’a dengan mulut hati di dalam hatimu.

Berat dugaanku, kerinduan pulalah yang telah menjadikan perantau Minang menembangkan lirik-lirik kerinduan seorang perantau pada ibu, pada kampung halaman. Rindu sangat hebat bukan? Bahkan, jika tidak berlebihan, sekiranya kau tidak punya kesempatan mendapatkan pendidikan seperti pendidikan orang-orang kaya itu, eh. Maka, pesan sahaya agar cerdas-cerdaslah berguru pada rindu.

Masih seingatku. Seorang Hamka, kurasa oleh karena kerinduannya pada Sutan Mansur, telah mengatarkan Hamka sampai pada sebuah karangan; Falsafah Hidup. Aku rasa itulah rindu yang progresif, itulah rindu yang produktif. Artinya, oleh karena kerinduan yang memuncak itulah kau harus mudik (baca: kembali) untuk memperlihatkan eksistensimu bahwa kau masih ada.

Alahmak, lupa pula saya. Tadinya saya mau nulis cerpen, tapi malah begini jadinya. Harap maklum sajalah namanya juga masih perindu amatir. Tentu jika sudah profesional rindu itu bisa menjadi bahan yang uwapik untuk ditulis, lalu jebol di media yang fee-nya cukup untuk tiket pesawat. Oh, betapa anunya itu.

Eh, lalu bagaimana dengan manusia-manusia yang belum bisa mudik? Begitu pertanyaan mantan kekasihku kepadaku, ketika dahulu aku menyebut “Mudico ergo sum”—sebagai mana pernah kubaca essai dosenku, dalam bukunya; Keberagmaan di Era Milenial—padanya.

Maka saya dakwahkan pada mantan kekasihku itu “Sungguh, syayangkuh. Adalah mudik itu kembali”
“Lalu mengapa kau tak kembali-kembali?”
“Mmm.. Anu, anu.. Mm, nantilah saya jelaskan” Jawabku, lalu menutup telpon. []

* Yi Lawe, lahir di Simpang Empat, besar di sebuah desa kecil di lembah pegunungan Lauser tepatnya di desa Lawe Sawah. Buku antologi puisi pertamanya berjudul; LALU, Perahulitera, 2016. Ditulis bersama Baredor Majck Jinglon. Sekarang, selain asyik memikirkan cara yang tepat untuk mengeluarkan kekasih imajinasinya dari alam tulisan, juga tercatat sebagai anggota gerilya Gerakan Surah Buku (GSB). 

COMMENTS

Name

acara Artshop Biografi Event Galeri Global Karya Cerpen Karya Puisi Komunitas Literatur Seni News Opini Profil
false
ltr
item
Aceh Media Art: Mudico Ergo Sum
Mudico Ergo Sum
https://4.bp.blogspot.com/-xZ2eWpZmEYg/Wyb_x_HTqkI/AAAAAAAADBE/HOhtnWeyT_oXr3W2NsJ40auZsOlwL1_nQCLcBGAs/s320/images%2B%25284%2529.jpeg
https://4.bp.blogspot.com/-xZ2eWpZmEYg/Wyb_x_HTqkI/AAAAAAAADBE/HOhtnWeyT_oXr3W2NsJ40auZsOlwL1_nQCLcBGAs/s72-c/images%2B%25284%2529.jpeg
Aceh Media Art
http://www.acehmediart.com/2018/06/mudico-ergo-sum.html
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/
http://www.acehmediart.com/2018/06/mudico-ergo-sum.html
true
4096604943189198512
UTF-8
Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago